Cerita Fisioterapis Persebaya yang Putuskan Buka Klinik di Kampung Halaman

Penulis: Dayat Huri
Senin 01 Feb 2021, 18:30 WIB
Fisioterapis Persebaya Surabaya, Anggara Dwi Samudra

Fisioterapis Persebaya Surabaya, Anggara Dwi Samudra/foto dok Persebaya

Berita Liga 1 Indonesia: Terhentinya kompetisi Liga 1 Indonesia disikapi Fisioterapis Persebaya Surabaya, Anggara Dwi Samudra dengan membuka klinik praktek fisioterapi di Blitar. Klinik tersebut ia beri mama Physiolab.

Kondisi sepak bola tanah air yang tak menentu seperti saat ini memang membuat semua pihak yang berkaitan langsung dengan sepak bola harus beradaptasi. Tidak hanya pemain, pelatih, dokter tim, hingga kit man dituntut untuk mencari kesibukan dan penghasilan tambahan di luar rutinitas tim.

Pada awal pandemi melanda Indonesia, Samudra lebih sering menghabiskan waktunya dengan berlatih bersama pemain Persebaya Surabaya lain, seperti Koko Ari, Oktafianus Fernando hingga Makan Konate. Namun sekarang mahasiswa S2 Magister Ilmu Kesehatan Olahraga Universitas Airlangga (Unair) tersebut tidak lagi menggelar latihan bersama.

"Sekarang gak latihan lagi sama teman-teman. Lebih banyak di Blitar, karena mau merintis usaha kecil-kecilan," ungkapnya seperti dilansir laman resmi klub Persebaya Surabaya.

"Saya buka klinik praktek di depan rumah di Blitar. Bangunannya baru selesai bulan lalu, sudah mengajukan izin Dinkes, tinggal nunggu suratnya. Doanya ya," sambungnya.

Selain sibuk mempersiapkan klinik praktek, rupanya Samudra juga tidak berhenti menimba ilmu. Selama medio 2020, ia berhasil menyelesaikan kursus FIFA Diploma in Football Medicine. Pelatihan daring yang diselenggarakan oleh federasi tertinggi sepak bola dunia tersebut sudah diikutinya sejak 2018. Namun kesibukan tim membuatnya harus menunda kursus tersebut.

"Jadi dulu itu mulainya pas 2018. Pas masih jadi fisio Persebaya u-19. Jamannya Koko, Ridho, Kemal dulu. Kenapa kok mendaftar, karena mikirnya mungkin bisa naikin value saya sendiri. Secara itu kan dapat sertifikat langsung dari FIFA. Waktu itu masih berandai-andai jika naik ke tim senior," ceritanya.

Selain soal membagi waktu, ia juga sempat terkendala soal bahasa. Karena kursus tersebut berstandar internasional maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris.

"Tapi waktu itu ternyata gak semulus yang dikira, banyak berat ke kerjaannya daripada ikutin course. Tahun 2019 itu saya juga lagi cari beasiswa LPDP buat S2. Apalagi yang paling sulit semua materi dan ujian pakai bahasa Inggris. Sempat puyeng saya," sambungnya.

Samudra mendapatkan banyak ilmu baru, setelah merampungkan kursus tersebut pada November tahun lalu. Menurutnya divisi medis dalam sepak bola di Indonesia masih tertinggal jauh dari di Eropa sana. Ia berharap bisa ikut membantu sepak bola Nusantara untuk mengejar ketertinggalan dengan terus mengembangkan ilmu dan kemampuannya.

"Dari course itu aku menyimpulkan kualitas tim medis di luar sana itu (di eropa dll) itu pasti selengkap dan sedetail itu mas. Mereka memang punya fasilitas, keahlian dan kompetensi," pungkasnya.

Artikel Tag: persebaya, samudra

846  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini