Roger Federer Buka-Bukaan Tentang Masa Junior Yang Meledak-Ledak

Penulis: Dian Megane
Minggu 04 Apr 2021, 20:47 WIB
Roger Federer sering membantingkan raket ketika ia masih sangat muda

Roger Federer ketika berlaga di Qatar Open 2021

Berita Tenis: Pada 2 Juli 2001, Raja Wimbledon masa depan, Roger Federer mengalahkan juara Wimbledon sebanyak tujuh kali, Pete Sampras dengan lima set setelah 3 jam 41 menit.

Federer yang masih remaja tiba di Wimbledon setelah ia melaju ke perempatfinal Grand Slam pertama dalam kariernya di French Open dengan harapan bisa tampil apik di turnamen yang ia menangkan pada musim 1998 pada kategori junior.

Berbicara tentang kiprahnya di dunia tenis junior setelah pertandingan melawan Sampras, Federer menyatakan bahwa ia seringkali kehilangan kesabaran dan melempat raket setelah pukulannya tidak akurat.

“Saya cukup berbanding terbalik dengan Pete ketika saya masih lebih muda, melemparkan raket saya seperti tidak bisa anda bayangkan,” aku Federer.

“Saya dikeluarkan dari sesi latihan tanpa henti ketika saya berusia 16 tahun. Mungkin sejak musim 2001, saya mulai sedikit lebih rileks di lapangan. Saya tidak membantingkan raket sebanyak seperti sebelumnya dan saya sedikit tumbuh berkembang serta menyadari bahwa membantingkan raket tidak akan membantu permainan saya karena saya malah akan selalu merasa sangat negatif.”

“Saya biasanya lebih banyak berbicara di lapangan, hal itu tidak terjadi saat ini dan saya merasa lebih positif. Selain itu, bermain di lapangan utama yang dipadati penonton melawan Pete Sampras tidak membuat anda berteriak mau pun melemparkan raket.”

“Saya pikir itu cukup normal. Saya mulai bermain tenis saat berusia 3 tahun dan berlatih sepak bola pada periode yang sama. Saat 10 atau 12 tahun, saya harus memutuskan untuk menggeluti satu olahraga saja. Saya mendapatkan lebih banyak kesuksesan di tenis dan memasuki National Tennis Center saat berusia 14 tahun.”

“Tempat itu ada di bagian Swiss yang berbahasa Perancis dan saya datang dari daerah yang berbahasa Jerman. Jadi, enam bulan pertama sangat menyulitkan. Saya ingin pulang ke rumah, karena saya merasa tidak senang. Saya menangis ketika saya akan pulang ke rumah pada hari Minggu.”

“Lalu saya melakoni U14 Orange Bowl, kembali, mulai merasa lebih baik, dan memenangkan pertandingan. Pada usia 16 tahun, Tennis Center berpindah ke daerah yang menggunakan kedua bahasa. Saya juga memutuskan berhenti sekolah karena hal itu menghalangi saya untuk mengeluarkan permainan terbaik saya.”

“Setelah itu, semuanya berjalan dengan sangat cepat, memenangkan turnamen junior, dan menjadi peringkat 1. Selain itu, transisi dari junior menjadi profesional tidak begitu menyulitkan.”

Artikel Tag: Tenis, wimbledon, Roger Federer

746  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini