Ragam Tinju: Kenangan Berkesan Aaron Pryor Tentang Muhammad Ali

Penulis: Hanif Rusli
Senin 10 Okt 2016, 20:36 WIB
Ragam Tinju: Kenangan Berkesan Aaron Pryor Tentang Muhammad Ali

Muhammad Ali (kiri) dan Aaron Pryor

Ligaolahraga – Ragam Tinju: Kali pertama Muhammad Ali menyaksikan Aaron Pryor bertarung adalah saat mengometari pertarungan amatirnya melawan Richard Tomcyzk (Polandia) dalam tur ke Eropa Timur pada 1975. Ali memuji Pryor – berumur 18 tahun saat itu – bertarung seperti dirinya di atas ring.

Bagi Pryor, Ali adalah segalanya. Tumbuh besar di Cincinnati pada era 1960-an dan 1970-an, pikiran dan mimpinya berpusat pada keinginan menjadi juara tinju. Jika tidak sedang berlari di pagi hari atau latihan berjam-jam di gym, hobi favorit Pryor adalah mendengarkan partai-partai tinju dari radio.

 

“Saya ingat berkumpul bersama teman-teman dan keluarga saya mendengarkan pertarungan Cassius Clay,” ceritanya. “Saat itu, sang juara kelas berat merupakan pahlawan bagi semua orang di lingkungan saya. Suksesnya adalah sukses kami, kemenangannya adalah kemenangan kami.”

 

Bagi Pryor, Ali bukan hanya pahlawannya dalam dunia tinju. Melainkan pahlawan pribadi dan tokoh panutannya. “Ketika Cassius Clay menjadi Muhammad Ali, saya tahu apa cita-cita saya. Menyaksikan Ali, saya jadi yakin bahwa mimpi bisa benar-benar menjadi nyata. Semuanya mungkin dengan kerja keras dan determinasi.

 

Satu hari Pryor mendengar Ali sedang berada di sebuah klub malam terkenal di Cincinnati, The Viking Lounge, pada Jalan Vine Street. Tempat itu sudah penuh dengan orang setibanya di sana. Ali duduk bersama istrinya. Pryor menembus kerumunan orang untuk mendekatinya.

 

Ketika Ali melihat ke arahnya, Pryor berteriak, “Nama saya Aaron Pryor. Saya petinju dan saya akan menjadi juara suatu hari nanti.” Orang-orang biasanya tertawa setiap kali dia mengatakan itu.  Tapi Pryor ingat Ali sama sekali tidak tertawa.

 

Ali pun memberikan nasihat kepadanya. “Dia menyuruh saya untuk bekerja keras dan tidak pernah menyerah. Dia juga berkata, kalau dia bisa melakukannya, saya pun bisa,” kata Pryor. “Sejak titik itu, saya tahu saya akan menjadi seorang juara suatu hari nanti.”

 

Beberapa tahun kemudian, saat tumbuh remaja, dia masuk tim tinju nasional AS bersama Leon Spinks, Michael Spinks dan Ray Leonard. Berkeliling dunia dengan tim-tim negara lainnya di Rusia, Polandia, dan Meksiko. Kompetisi tinju amatir yang diikutinya disiarkan di AS, termasuk saat dia mengalahkan Tomcyzk.

 

“Bayangkan betapa terkejutnya saya ketika saya kembali pulang ke AS dan tahu kalau komentator televisi saat itu adalah pahlawan saya, Muhammad Ali,” kata Pryor. “Dalam tayangan langsung, dia sangat memuji ketrampilan saya. Katanya, satu-satunya yang dia tidak suka adalah saya lebih ganteng daripada dia!”

 

Pada akhirnya, Pryor beralih dari amatir ke pro. Dia tak pernah melupakan kata-kata Ali. Bekerja keras dan menapak tangga demi tangga di jalur pro. Dia amat yakin akan menjadi juara. Tinggal menunggu kesempatan. “Dan kemudian, Ali masuk ke dalam kehidupan saya. Lagi,” tandas Pryor.

 

Saat itu, Pryor sudah mengemas rekor 24-0, tapi belum berkesempatan tampil dalam duel perebutan gelar. ingin mempromosikan sebuah partai tinju di kota Cincinnati, perusahaan baru milik Ali, Muhammad Ali Sports, ingin menggelar pertarungan tinju di Riverfront Coliseum.

 

Pryor menjadi judul utama pertarungan tersebut, menghadapi juara dunia kelas welter WBA, Antonio Cervantes. “Ali akan memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi juara,” ujar Pryor. Dia berjanji akan memenangi pertarungan itu, dan janji itu ditepatinya.

 

 “Pada 2 Agustus 1980, saya memenuhi janji Ali, jika seorang petinju bekerja keras dan tidak pernah menyerah, dia pun bisa menjadi juara,” ujar Pryor yang meng-KO sang juara bertahan asal Kolombia di ronde keempat. Gelar itu dipertahankan Pryor sebanyak sembilan kali sampai 1985.

 

Pada akhir 1990-an, jauh setelah Pryor pensiun, dia menghadiri sebuah acara amal di Sacramento, California, yang juga dihadiri banyak eks kampiun lainnya, termasuk Ali. Jelas dia gembira bisa kembali bertemu mantan mentornya. Dia diminta ikut melakukan iklan televisi guna mempromosikan acara amal itu.

 

Kata sutradara, Ali tidak akan berbicara dalam iklan itu, hanya duduk diam di sampingnya, sementara Pryor membacakan kalimat sesuai naskah. Di ujung kalimat, saat Pryor mengucapkan ajakan kepada masyarakat untuk datang ke acara itu, sebelum sutradara berkata “cut”, Ali tiba-tiba menatap ke kamera, mengangkat tinjunya dan menggeram, “Kalau tidak, saya akan pukul KO kalian!” Seketika semua orang di ruangan memberikan aplaus.

 

Saat Ali tutup usia pada bulan Juni lalu, Pryor mengungkapkan kesedihannya, namun di saat yang sama, dia begitu bersyukur Ali menjadi mentor bagi dirinya sepanjang hidupnya. “Tidak akan pernah ada Muhammad Ali yang lain. Dia percaya saya ketika tak ada yang memercayai saya. Ali, kamu yang Terhebat,” ujar Pryor.

Artikel Tag: Muhammad Ali, Aaron Pryor, Tinju

1376  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini