La Liga 2021/22: Musim Perdana Tanpa Messi di Barcelona sejak 2003/04

Penulis: Yeddy Julianto
Kamis 12 Agu 2021, 19:30 WIB
Trofi La Liga Saat Dipresentasikan

Trofi La Liga Musim Lalu Milik Atletico Madrid (Getty Images)

Ligaolahraga.com -

Berita Liga Spanyol: Kurang lebih satu minggu sebelum musim baru La Liga dimulai, datang kabar mengejutkan dari Barcelona bahwa mereka tidak bisa memperpanjang kontrak Messi dikarenakan masalah financial dan regulasi liga. Messi telah mencatatkan dirinya sebagai legenda klub dan bintang La Liga sejak debutnya di musim 2005/06. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Lionel Messi telah membawa standar kompetisi di La Liga meningkat tiap musimnya. Setiap tim harus meningkatkan kualitasnya, baik dari sisi pemain maupun permainannya, agar bisa menghentikan dominasi Barcelona dengan Lionel Messi. Bagaimana tidak, selama tujuh belas musim sejak Messi gabung tim utama, Barcelona telah memboyong sepuluh gelar La Liga dimana sisanya hanya bisa disaingi oleh Real Madrid dan Atletico Madrid dengan masing-masing lima dan dua gelar. Tidak hanya gelar untuk klub, pencapaian individu pun berhasil ia torehkan dengan menjadi pemenangEl Pichichi, gelar pemain tersubur tiap musim di liga spanyol, sebanyak delapan kali. Sebagai catatan, lima gelar itu dicapai di lima musim terakhirnya bersama Barcelona, menandakan kalau dia belum habis meskipun usianya sudah mencapai 34 tahun.

Namun disini penulis tidak akan membahas seputar kepindahan Lionel Messi ke PSG maupun torehan yang sudah ia capai sepanjang karirnya. Mari kitamove-ondari topik tersebut dan fokus untuk menyongsong era baru di La Liga yang akan mulai beberapa hari lagi. Jelas kepergian Messi sangat berdampak bukan hanya untuk Barcelona, tapi juga liga yang kehilanganiconmaupun nilai jual. Banyak komentar yang menyatakan La Liga sudah mati, tidak akan laku, dan sebutan negatif lainnya. Namun jika dilihat dari sisi lain, justru ini merupakan sebuah permulaan dimana liga akan lebih kompetitif dibanding sebelumnya. Real Madrid, tim lain yang biasanya mendominasi, pun masih tampak kurang meyakinkan jika dilihat dari bursa transfer dan juga dengan pelatih barunya. Inilah kesempatan bagi tim-tim lain untuk mencoba setidaknya bersaing sampai sepertiga pekan terakhir demi meramaikan perburuan gelar dan membuktikan kalau La Liga sudah mati itu sebuah pernyataan yang salah.

Dominasi Atleti atau juara baru? Eits, jangan dulu coret Real dan Barca

Simeone mungkin saat ini tersenyum lebar melihat dua pesaing utama dalam perburuan gelar sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Fakta bahwa mereka sampai saat ini masih mempertahankan semua pemain kunci yang telah membawa mereka juara di musim lalu semakin membuat mereka diunggulkan. Belum lagi tambahan pemain baru seperti Rodrigo de Paul yang membuat kedalaman skuat mereka semakin kuat untuk mengarungi musim baru. Bukan hal yang tidak mungkin bagi mereka untuk bisa mempertahankan gelar liga secara back-to-back untuk pertama kalinya sejak musim 1949/50 dan 1950/51.

Namun kita tidak bisa terhenti di Atleti saja. Masih ada Sevilla dengan Julen Lopetegui-nya yang di musim lalu membuat kejutan dengan benar-benar bisa bersaing sampai beberapa pekan terakhir. Jika saja mereka bisa memenangkan lima pertandingan terakhirnya, merekalah juara La Liga musim lalu. Tapi torehan 77 poin di akhir musim merupakan rekor terbaik mereka selama berkompetisi di La Liga meskipun harus puas denganfinishdi posisi empat, dua poin di bawah Barca yang berada di posisi tiga dan ‘hanya’ sembilan poin di bawah sang juara. Posisi penyerang yang di musim sebelumnya sempat menjadi masalah untuk Sevilla sejak ditinggal Ben Yedder akhirnya mulai bisa digantikan oleh Youssef En-Nesyri yang mencetak 18 gol. Tapi dia masih harus membuktikan konsistensinya sebagai penyerang yang haus akan gol. Namun itu tampaknya bukan suatu masalah besar mengingat mereka punya banyak pemain kreatif di posisi gelandang maupun sayap yang siap untuk melayaninya, seperti Lucas Ocampos, Suso, Papu Gomez, Ivan Rakitic, dan rekrutan teranyar Erik Lamela. Sevilla hanya tinggal butuh mental juara saja untuk bisa menyelesaikan apa yang gagal mereka lakukan musim lalu. 

Bicara perburuan gelar, sangat mustahil untuk meninggalkan dua nama yang sudah memonopoli gelar sejak terciptanya kompetisi tersebut. Real Madrid dan Barcelona akan tetap menjadi Real Madrid dan Barcelona meskipun ditinggalkan oleh pemain mega bintangnya. Kehilangan pemain mega bintang seperti Lionel Messi dan Sergio Ramos, bukan berarti mereka kekurangan pemain bintang. Skuad mereka masih bertabur bintang dan bisa dibilang masih di atas para pesaingnya di liga. Sebut saja nama-nama seperti Benzema, Modric, Kroos, Casemiro, Hazard, Courtois, Griezmann, Busquets, De Jong, Pedri, Pique, Ter Stegen. Belum lagi mereka pun memiliki pemain anyar seperti David Alaba, Memphis Depay, dan Sergio Aguero. Masih terlalu gegabah jika menyebutkan dua tim ini sudah habis. Karena level yang mereka ciptakan selama kurang lebih dua dekade terakhir memang sangat luar biasa. Bukan hanya mendominasi Spanyol, tapi juga di Eropa. Tidak heran jika banyak tim-tim lain di Spanyol juga bisa berjaya di Eropa karena tiap minggunya mereka harus menjumpai tim seperti Real Madrid dan Barcelona, yang secara tidak langsung juga menaikkan level permainan mereka. Mungkin memang butuh waktu sampai dua tim ini bisa menguasai Eropa lagi, namun untuk ukuran liga rasanya masih sulit untuk membayangkan mereka tidak dalam perburuan gelar atau bahkan terlempar dari empat besar.

Selain empat nama diatas, masih sulit bagi tim lain untuk membuat kejutan. Jika patokannya adalah Lionel Messi, sebelum dia melakukan debut ada dua tim yang berhasil merebut gelar liga yaitu Deportivo La Coruna (99/00) dan Valencia (01/02, 03/04). Namun kondisinya sekarang berbeda, Depor sedang terpuruk di divisi tiga dan Valencia menjadi klub medioker karena manajemen yang buruk. Di era modern football seperti saat ini, sepertinya mimpi untuk terciptanya juara baru harus kita pendam dulu. Butuh perjuangan yang luar bisa dan banyak keajaiban agar itu terjadi. 

Villarreal, Real Sociedad, dan Real Betis memimpin, tapi Eropa bisa dimiliki siapa saja

Bicara Eropa mungkin akan lebih spesifik ke Liga Eropa dan Liga Konferensi Eropa. Sangat sulit untuk tim-tim lain untuk bisa masuk dan merusak dominasi empat besar yang sudah disebutkan di awal tadi. Mungkin tim yang musim ini berlaga di Liga Eropa bisa mencontoh Villarreal di musim lalu dan juga pendahulunya Sevilla, untuk memenangkan kompetisi tersebut agar mendapat tiket otomatis Liga Champions tanpa memikirkan posisi akhir di liga. Villarreal, Real Sociedad dan Real Betis mungkin akan mengulangi sukses musim lalu mengingat mereka masih diisi oleh skuat yang mumpuni dan pelatih-pelatih yang handal. Kestabilan dan konsistensi adalah kunci bagi mereka agar tidak terkena petaka yang pernah dialami Villarreal (11/12), Real Betis (13/14) dan Espanyol (19/20) ketika harus terdegradasi di musim yang sama mereka berkompetisi di Eropa.

Athletic Club Bilbao adalah tim yang paling mungkin untuk merusak peta kompetisi untuk berebut zona Eropa. Apalagi sejak Januari lalu mereka ditukangi oleh Marcelino Garcia Toral yang sudah terbukti kapabilitasnya di Villarreal dan Valencia. Dengan taktik 4-4-2 nya yang sudah paten, Marcelino berhasil menyelamatkan Athletic yang sempat terseok-seok di papan bawah di paruh pertama musim lalu. Tidak butuh lama bagi sang pelatih untuk memberikan gelar perdana bagi Athletic setelah mengalahkan Barca di final Piala Super Spanyol di bulan yang sama dimana ia ditunjuk. Namun sayang, kesempatan menambah gelar lain lewat dua partai final Copa del Rey tidak bisa ia menangi. Meskipun begitu, dengan adanya kehadiran Marcelino dari awal musim akan memberikan sesuatu yang berbeda yang mungkin tidak bisa mereka lakukan di awal musim lalu. 

Celta Vigo dan Valencia adalah dua tim lain yang memiliki peluang besar untuk masuk ke zona Eropa. Celta dengan Coudetball-nya bermain lebih positif saat ini. Semua itu didukung karena mereka memiliki penyerang hebat dan kreatif yang ada dalam diri Iago Aspas, Santi Mina, Nolito, Denis Suarez, dan Brais Mendez. Namun, bermain atraktif tidak selalu membuahkan hasil yang positif. Sisi pertahanan masih menjadi sektor yang harus dikorbankan akibat gaya permainan mereka. Ini merupakan suatu pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi mengingat meskipun finish di urutan delapan, jumlah kebobolan mereka merupakan terburuk ketiga di liga dengan total 57 gol kemasukan. Jika mereka bisa menerapkan performa beberapa pekan terakhir musim lalu ke musim baru ini, mereka akan menjadi salah satu tim yang tidak ingin dihadapi siapapun. Untuk Valencia sendiri, memang butuh sedikit keberuntungan mengingat kedalaman skuat mereka masih tipis dan tidak ada bintang yang masuk di bursa transfer ini. Ditambah manajemen klub yang buruk dan krisis yang tidak kunjung usai masih menghantui mereka. Namun kehadiran pelatih baru Bordalas mungkin bisa menciptakan keajaiban itu. Bordalas punya sejarah untuk membawa Getafe promosi ke La Liga dan bermain di Eropa tak lama setelah itu. Dengan skuat pemain yang tipis dan ala kadarnya, Bordalas berhasil menyulap mereka menjadi petarung yang tangguh. Hal yang sama mungkin diharapkan oleh para pendukung Valencia terhadap Bordalas di musim ini. Setidaknya kembali ke jalur kemenangan dan perlahan mengembalikan Valencia ke tempat seharusnya, mungkin akan membawa sedikit angin segar di tengah carut marutnya kondisi klub.

Bukan La Liga namanya jika tidak ada tim lain yang memberi kejutan. Selalu ada nama baru atau mereka yang sudah lama tidak berkompetisi di Eropa kembali kesana. Sebut saja nama-nama seperti Granada, Getafe, dan Espanyol. Jika ditarik ke belakang lagi ada Levante dan Malaga. Tim-tim tersebut awalnya tidak pernah diunggulkan untuk menembus zona Eropa namun mereka berhasil mematahkan semua asumsi itu. Musim ini penulis memprediksikan Levante dan Granada akan turut memanaskan perebutan zona Eropa sebagai kuda hitam. 

Tradisi tim yoyo masih akan terulang? Atau ucapkan selamat tinggal kepada…

Espanyol, Mallorca dan Rayo Vallecano menjadi tiga tim yang promosi ke La Liga pada musim ini. Selain Espanyol, kedua tim lainnya masih kental dengan julukan tim yoyo dimana terakhir kali mereka promosi ke La Liga, di akhir musim tersebut harus turun kasta lagi. Hal tersebut didukung juga dengan fakta bahwa beberapa musim terakhir di La Liga (selain musim 17/18) selalu ada tim promosi yang harus kembali degradasi di akhir musim. Selain Mallorca dan Rayo Vallecano, tim ketiga yang mungkin akan menemani mereka adalah salah satu dari Elche atau Cadiz. Elche musim lalu harus berjuang sampai pekan terakhir dan itu pun terbantu oleh hasil pertandingan tim lain sehingga bisa lolos dari jurang degradasi. Sementara bagi Cadiz, tampaknya akan berat mengulang prestasi musim lalu dimana mereka bisa menumbangkan tim-tim papan atas. Meskipun tampak nyaman duduk di papan tengah sepanjang musim, tapi mereka sempat menorehkan tujuh partai tanpa kemenangan.Sebuah catatan buruk yang tidak boleh terulang jika masih ingin selamat dari degradasi. 

Alaves dan Getafe perlu berhati-hati jika melihat rapor mereka musim lalu. Meskipun mereka memiliki skuat lebih baik dibanding para kandidat lain, tapi inkonsisten penampilan bisa jadi momok terbesar mereka. Alaves harus dua kali ganti pelatih di musim lalu untuk menyelamatkan musim mereka. Suatu cara bertahan yang sangat tidak praktis mengingat mereka mengawali musim pun dengan pelatih yang belum lama mereka rekrut dari musim sebelumnya. Juga Getafe harus mulai membiasakan hari-hari tanpa Bordalas, sang peracik taktik yang sudah membuat keajaiban bagi mereka sejak tahun 2016. Transisi yang belum tentu berhasil dimana permainan Bordalas sangat memiliki ciri khas tersendiri yang belum tentu akan diteruskan oleh pelatih baru Michel.

Itulah poin-poin kunci yang mungkin akan kita saksikan di masing-masing sektor persaingan di La Liga musim ini. Selama bola itu bundar, kita tidak akan tahu pasti hasil akhirnya bakal seperti apa. Yang pasti, La Liga musim ini akan semakin kompetitif dibanding musim-musim sebelumnya sehingga sangat sayang untuk dilewatkan hanya karena kehilangan satu-dua pemain bintang. Jadilah saksi kemunculan bintang baru dan pembuktian para pemain lama di era baru La Liga ini.

Klasemen akhir prediksi penulis:

  1. Atletico Madrid
  2. Real Madrid
  3. Sevilla
  4. Barcelona
  5. Villarreal
  6. Real Betis
  7. Real Sociedad
  8. Athletic Club
  9. Celta Vigo
  10. Valencia
  11. Levante
  12. Granada
  13. Osasuna
  14. Espanyol
  15. Getafe
  16. Alaves
  17. Cadiz
  18. Elche
  19. Mallorca
  20. Rayo Vallecano

Artikel Tag: La Liga, Real Madrid, Barcelona, Villarreal, Sevilla, Atletico Madrid, Real Betis, Valencia

Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/bola/la-liga-202122-musim-perdana-tanpa-messi-di-barcelona-sejak-200304
1811  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini