Backflip Ilia Malinin Picu Perdebatan, Warisan Surya Bonaly Kembali Disorot

Penulis: Hanif Rusli
Selasa 10 Feb 2026, 20:49 WIB - 89 views
Ilia Malinin (kiri) dan Surya Bonaly sama-sama melakukan backflip di ajang Olimpiade Musim Dingin. (Foto: AP)

Ilia Malinin (kiri) dan Surya Bonaly sama-sama melakukan backflip di ajang Olimpiade Musim Dingin. (Foto: AP)

Ligaolahraga.com -

Ilia Malinin mencetak sejarah dalam dunia seluncur indah Olimpiade setelah menjadi atlet pertama yang secara resmi mendaratkan backflip dengan satu kaki di ajang Olimpiade Musim Dingin.

Namun, momen bersejarah itu juga memicu perdebatan tentang pengakuan terhadap Surya Bonaly, mantan atlet Prancis yang melakukan gerakan serupa puluhan tahun lalu ketika teknik tersebut masih dilarang.

Ilia Malinin, atlet Amerika Serikat berusia 21 tahun yang dijuluki “Quad God,” menampilkan program bebas yang menentukan kemenangan tim negaranya pada nomor beregu di Olimpiade Musim Dingin Milan–Cortina 2026, Minggu (9/2).

Penampilannya dipenuhi lompatan quadruple khasnya, dan ia menutup aksi tersebut dengan backflip dramatis yang langsung mendapat sambutan meriah penonton.

Gerakan itu kini sering disebut sebagai “Bonaly flip,” merujuk pada Surya Bonaly, pelopor teknik tersebut dalam seluncur indah modern.

Meski demikian, sorotan besar yang diterima Ilia Malinin memicu diskusi di media sosial mengenai perbedaan perlakuan yang pernah dialami Bonaly, seorang atlet kulit hitam, saat ia melakukan gerakan yang sama.

Perdebatan tersebut mengingatkan kembali pada sejarah panjang teknik backflip di seluncur indah.

Atlet Amerika Terry Kubicka menjadi orang pertama yang melakukan backflip di Olimpiade pada 1976, meski mendarat dengan dua kaki.

Setelah itu, Federasi Seluncur Internasional (ISU) melarang gerakan tersebut karena dianggap berbahaya.

Lebih dari dua dekade kemudian, pada Olimpiade Nagano 1998, Bonaly menentang larangan itu dengan melakukan backflip satu kaki dalam penampilan terakhirnya di Olimpiade.

Ia sadar akan kehilangan poin, tetapi tetap melakukannya sebagai simbol kebebasan berekspresi di atas es.

Aksi tersebut mendapat tepuk tangan penonton dan menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah seluncur indah.

Larangan backflip akhirnya dicabut ISU sekitar dua tahun lalu sebagai bagian dari upaya membuat olahraga ini lebih menarik bagi generasi muda.

Keputusan itu membuka jalan bagi atlet seperti Ilia Malinin untuk memasukkan gerakan tersebut ke dalam program kompetitif mereka.

Bonaly sendiri menyambut positif momen bersejarah Malinin. Dalam wawancara dari Minnesota, ia mengatakan senang melihat backflip kembali muncul di panggung Olimpiade.

Menurutnya, perkembangan itu menunjukkan bahwa olahraga seluncur indah terus berevolusi.

Ia juga merefleksikan kritik yang diterimanya sepanjang karier, menyebut dirinya “lahir terlalu cepat” pada masa ketika inovasi dan perbedaan belum sepenuhnya diterima.

Bonaly merasa telah membuka jalan bagi generasi atlet berikutnya.

Warisan Bonaly juga terkait dengan sejarah panjang perjuangan atlet kulit hitam dalam seluncur indah.

Sebelum dirinya, ada Mabel Fairbanks yang mengalami diskriminasi rasial pada 1930-an, serta Debi Thomas, atlet Afrika-Amerika pertama yang meraih medali Olimpiade Musim Dingin.

Meski representasi atlet kulit hitam masih terbatas di tingkat elite, kisah Bonaly tetap menjadi inspirasi.

Kini, dengan backflip kembali diizinkan dan dirayakan di Olimpiade, banyak yang melihatnya sebagai bukti bahwa perubahan dalam dunia olahraga memang membutuhkan waktu — dan keberanian para pelopornya.

Artikel Tag: olimpiade musim dingin

Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/olahraga-lain/backflip-ilia-malinin-picu-perdebatan-warisan-surya-bonaly-kembali-disorot
89
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini