Matt Fitzpatrick Sambut Tantangan Lapangan Sulit di Turnamen US Open

Matt Fitzpatrick menilai karakter lapangan yang menantang justru memberikan kesempatan terbaik baginya untuk bersaing memperebutkan gelar. (Foto: Golf Digest)
Matt Fitzpatrick berharap Shinnecock Hills Golf Club tampil dengan tingkat kesulitan maksimal saat menjadi tuan rumah US Open 2026.
Pegolf asal Inggris itu menilai karakter lapangan yang menantang justru memberikan kesempatan terbaik baginya untuk bersaing memperebutkan gelar major kedua sepanjang karier.
Memasuki pertengahan musim PGA Tour 2026, Matt Fitzpatrick menjadi salah satu pegolf dengan performa paling konsisten.
Dari 14 turnamen yang telah diikutinya sejak awal tahun, ia selalu lolos cut, mencatatkan 10 finis di posisi 25 besar, lima kali menembus tiga besar, serta mengoleksi tiga gelar juara.
Kepercayaan dirinya semakin meningkat setelah finis sebagai runner-up pada RBC Canadian Open pekan lalu. Hasil tersebut nyaris memberinya kemenangan keempat musim ini dan menjadi bekal positif menjelang tampil di US Open.
Saat berbicara kepada media pada Senin waktu setempat, Fitzpatrick mengaku menyukai kondisi Shinnecock Hills.
Namun, ia sedikit kecewa melihat petugas lapangan masih melakukan penyiraman rumput karena berharap lapangan tampil lebih keras dan sulit selama turnamen berlangsung.
"Saya sangat menyukai lapangan ini. Kondisinya sudah terlihat bagus. Sejujurnya saya sedikit kecewa melihat mereka masih menyiram lapangan saat ini," ujar Fitzpatrick.
Matt Fitzpatrick memang dikenal lebih menikmati turnamen dengan skor rendah yang sulit dicapai.
Satu-satunya gelar mayor yang dimilikinya diraih pada US Open 2022 setelah menang satu pukulan atas Will Zalatoris dan Scottie Scheffler di The Country Club, Brookline, dengan total skor 6-under-par 274.
Menurutnya, lapangan yang sulit memaksa setiap pemain melakukan persiapan matang dan mengeksekusi pukulan dengan presisi tinggi.
"Saya bukan penggemar turnamen yang dipenuhi birdie. Saya menikmati tantangan ketika lapangan benar-benar sulit karena Anda harus mempersiapkan diri dengan baik dan memukul bola dengan kualitas terbaik. Menurut saya, itulah yang seharusnya dituntut dari sebuah turnamen golf besar," katanya.
Shinnecock Hills terakhir kali menjadi tuan rumah US Open pada 2018. Saat itu Brooks Koepka keluar sebagai juara dengan total skor satu pukulan di atas par, menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadirkan lapangan tersebut.
Matt Fitzpatrick yang ketika itu berusia 23 tahun menempati posisi T12 dengan skor 8-over-par setelah kehilangan banyak pukulan pada putaran ketiga.
Kini, di usia 31 tahun, Fitzpatrick merasa pencapaian konsistennya musim ini tidak lepas dari kontribusi tim pelatih. Ia secara khusus memuji pelatih ayunannya, Mark Blackburn, yang membantunya melakukan perubahan teknik, terutama dalam permainan iron.
Menurut Fitzpatrick, peningkatan akurasi pukulan iron membuatnya memiliki lebih banyak peluang mencetak skor.
Ia menambahkan, selama permainan putting juga berjalan baik, dirinya yakin mampu memanfaatkan peluang tersebut untuk kembali bersaing di papan atas US Open pekan ini.
Artikel Tag: us open, pga tour, matt fitzpatrick
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/golf/matt-fitzpatrick-sambut-tantangan-lapangan-sulit-di-turnamen-us-open

























Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini