Para Pendukung Badminton China Rindukan Sosok Li Yongbo di Tim Nasional

Li Yongbo/[Foto:SohuSports]
Tim bulu tangkis nasional Tiongkok mengalami kemerosotan yang mengejutkan! Hanya dalam empat bulan, tiga pejabat tinggi inti Asosiasi Badminton China telah diselidiki satu demi satu.
Dari Ketua Zhang Jun hingga Wakil Ketua Xia Xuanze dan Wang Wei, seluruh tim inti yang pernah memimpin tim nasional telah jatuh dari kejayaannya, dan tim yang dulunya dominan telah benar-benar kehilangan pamornya.
Di tengah kekacauan opini publik di dunia bulu tangkis, sebuah komentar yang sangat dipuji menjadi viral di internet: "Tolong izinkan Li Yongbo kembali!"
Tak seorang pun menyangka bahwa "Bapak Baptis Berdarah Besi" yang kontroversial, yang meninggalkan panggung dengan aib, akan menjadi sumber penyelamatan bagi banyak penggemar.
Apakah Li Yongbo, yang dibebani oleh kebaikan dan keburukan, hanya disalahpahami oleh zamannya, ataukah ia benar-benar menyimpan kebenaran yang tak terungkap?
Di usia 31 tahun, ia mengambil alih situasi yang kacau dan penuh krisis, dan kata-kata sombongnya di depan umum menjadi bahan ejekan seluruh tim.
Li Yongbo berasal dari Dalian. Ia bergabung dengan tim profesional pada usia 16 tahun dan berpasangan dengan Tian Bingyi di nomor ganda putra. Pada tahun 1980-an, ganda putra merupakan kelemahan yang diakui dalam bulu tangkis Tiongkok, dan tim tersebut berulang kali gagal dalam kompetisi internasional.
Pada final Piala Thomas tahun 1986, menghadapi legenda Indonesia Lim Swi King dan pasangannya, kedua pemain muda tersebut berhasil memenangkan set penentu dengan skor 2-0, membantu Badminton China merebut kembali gelar Piala Thomas.
Selama karier atletiknya, ia memenangkan enam kejuaraan dunia, termasuk Piala Thomas dan Kejuaraan Dunia.
Namun takdir mempermainkannya dengan kejam. Di Olimpiade Barcelona 1992, ia hanya memenangkan medali perunggu dan tidak pernah berdiri di podium tertinggi sepanjang hidupnya. Dengan penyesalan ini, ia pensiun dengan tergesa-gesa dan beralih ke dunia kepelatihan.
Saat itu, tim Badminton China sedang mengalami kemerosotan yang parah, dengan banyaknya pemain veteran yang pensiun dan kurangnya talenta cadangan, sehingga sulit untuk mencapai final turnamen Asia sekalipun.
Li Yongbo yang berusia 31 tahun diangkat sebagai wakil kepala pelatih tim nasional di masa krisis. Pada hari pertamanya menjabat, ia secara terbuka menetapkan sebuah tujuan: untuk membina 100 juara dunia bagi Tiongkok.
Hampir tak seorang pun di tim itu mempercayai sesumbarannya, dan banyak yang diam-diam mengejeknya karena dianggap delusi.
Dia tidak memberikan penjelasan apa pun, tetapi malah menerapkan reformasi besar-besaran, menurunkan pemain veteran ke tingkat kedua, mempromosikan pelatih muda, dan mempertaruhkan segalanya pada tim ganda putri yang saat itu tidak diunggulkan.
Dampak buruk reformasi langsung terasa. Tim tersebut tersingkir di final Piala Thomas dan hanya memenangkan 7 medali perunggu di Asian Games. Media mengkritik mereka secara luas, mengatakan bahwa tim bulu tangkis Tiongkok telah kehilangan segalanya.
Di tengah gempuran kritik, Li Yongbo menolak untuk mengundurkan diri dan bertekad untuk terus mendorong reformasi. Tak lama kemudian, titik balik pun tiba: kemenangan di Piala Sudirman dan kemenangan ganda putri yang meraih medali emas Olimpiade pertama mereka, yang mengantarkan tim bulu tangkis Tiongkok kembali ke puncak dunia.
Pada Olimpiade London 2012, Badminton China menyapu bersih kelima medali emas di cabang bulu tangkis, menciptakan keajaiban yang tidak akan pernah bisa terulang dalam sejarah bulu tangkis Olimpiade.
Selama 24 tahun kariernya sebagai pelatih, ia memimpin tim meraih 92 kejuaraan dunia dan 18 medali emas Olimpiade. Lin Dan, Zhang Ning, Chen Long, Cai Yun, dan Fu Haifeng—kenangan satu generasi terukir dengan jejaknya.
Artikel Tag: lin dan, badminton china, li yongbo, xia xuanze, zhang jun
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/badminton/para-pendukung-badminton-china-rindukan-sosok-li-yongbo-di-tim-nasional
























Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini