Ikuti Indonesia, Korea Selatan dan Taiwan Dukung Format Penilaian Baru

Penulis: Yusuf Efendi
Jumat 30 Apr 2021, 12:30 WIB
Setelah Indonesia, Korea Selatan dan Taiwan Dukung Format Penilaian Baru

Podium Ganda Campuran Denmark Open 2019/[Foto:PBSI]

Berita Badminton : Dukungan untuk sistem penilaian bulu tangkis yang baru diajukan Indonesia, tumbuh dari hari ke hari. Dua negara Asia lagi yakni Korea Selatan dan Taiwan, telah memberikan dukungan mereka untuk proposal 11 poin, terbaik dari lima (11x5) menjelang pertemuan umum tahunan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada 22 Mei mendatang.

Sebelumnya, Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dan Persatuan Bulu Tangkis Maladewa telah mengajukan perubahan tersebut.

Ini adalah tanda-tanda penting yang menunjukkan bahwa negara-negara Asia, kekuatan dominan dalam olahraga, akhirnya bersiap untuk perubahan karena mereka sebelumnya menentangnya.

Sebelumnya, beberapa negara Asia percaya bahwa format yang lebih pendek akan sesuai dengan orang Eropa dan ketika dipilih pada RUPS di Bangkok pada tahun 2018, tidak mendapatkan dukungan mayoritas dua pertiga yang dibutuhkan.

Sebanyak 129 suara untuk perubahan sementara 123, sebagian besar negara Asia, menginginkan format 21 poin terbaik dari tiga, yang berlaku sejak 2006, untuk tetap ada.

Presiden BWF, Poul Erik Hoyer, yang merupakan penggemar berat versi pendek dan telah mendorongnya tanpa henti, tersenyum lebar akan dukungan format penilaian baru ini dari Korea Selatan dan Taiwan.

“Proposal Indonesia dan Maladewa telah didukung oleh Badminton Asia, Badminton Korea Association dan Chinese Taipei Badminton Association, untuk mengubah aturan sistem penilaian,” tulis Hoyer dalam pesan presidennya dalam buletin bulan April badan pemerintahan, Shuttle World, yang diterbitkan di hari Rabu (28/4).

“Ini adalah sesuatu yang telah saya kerjakan dengan erat dan merupakan bagian dari visi saya untuk membuat bulu tangkis lebih menarik karena kami ingin meningkatkan nilai hiburan bagi para pemangku kepentingan dan penggemar," ungkapnya.

“Terakhir kali ini diajukan pada tahun 2018, hal itu beresonansi dengan sebagian besar anggota kami. Sayangnya, mereka tidak mendapatkan dukungan mayoritas dua pertiga yang disyaratkan."

“Kami mengakui waktunya tidak tepat saat itu, tapi saya senang melihat ini didorong oleh anggota sekali lagi. Penting untuk dicatat bahwa ini hanya diusulkan untuk diperkenalkan setelah Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020, dan saya yakin sekarang adalah waktu yang lebih baik untuk melakukan perubahan," mantan juara Olimpiade itu menambahkan.

Artikel Tag: Indonesia, maladewa, Korea Selatan, Taiwan, BWF

746  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini