Mengapa Malaysia Tak Ikut Bagian Dalam Bidding Mayor Events BWF?

Penulis: Yusuf Efendi
Rabu 05 Des 2018, 23:59 WIB
Mengapa Malaysia Tak Ikut Bagian Dalam Bidding Mayor Events BWF?

Goh V Shem-Tan We Kiong/[Foto:Thestar]

Berita Badminton : Selain Indonesia, Malaysia juga absen dalam bidding tunamen mayor yang diselenggarakan oleh Federasi Badminton Dunia (BWF) karena kurangnya kompetisi dari para pemain tim nasional mereka.

Kamis (1/12) lalu, BWF mengumumkan tuan rumah untuk turnamen mayor periode 2019 hingga 2025 mendatang. Namun negara-negara top bulutangkis seperti Malaysia dan juga Indonesia memutuskan untuk absen dalam daftar bidding.

Turnamen mayor tersebut termasuk Kejuaraan Dunia serta kompetisi beregu seperti Piala Thomas dan Uber serta Piala Sudirman.

Presiden BAM Datuk Seri Norza Zakaria mengatakan bahwa tidak ideal bagi Malaysia untuk menyelenggarakan turnamen besar ketika hampir tidak ada pemain yang bertarung untuk memperebutkan gelar.

“Tidak masuk akal jika kami menjadi tuan rumah turnamen besar di sini dan pemain kami tidak naik podium di kejuaraan,” kata Norza.

“Setiap kali kami menyelenggarakan turnamen, kami ingin para pemain kami tampil dengan baik. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan setelah membangun tim yang sangat kuat, maka kami dapat mempertimbangkan untuk mengajukan penawaran lagi," ungkapnya.

Norza benar-benar tahu bahwa para pemainnya gagal naik podium di kandang sendiri dalam beberapa Kejuaraan yang berlangsung di Malaysia.

Pada Piala Sudirman 2013 yang merupakan turnamen besar terakhir BWF yang diselenggarakan di negara itu, Malaysia mengalami fase grup yang memalukan setelah kalah dari Jerman di babak penentuan grup.

Sementara itu di Piala Thomas, setelah memenangkan Piala Thomas di kandang sendiri pada tahun 1992, Malaysia kembali menjadi tuan rumah turnamen selama dua kali, namun mereka belum bisa mengulangi kesuksesan itu.

Pada tahun 2000, Malaysia gagal melangkah dari babak penyisihan grup dan ketika turnamen kembali ke Kuala Lumpur pada tahun 2010, langkah tuan rumah harus berakhir di babak semifinal.

“Ketika kami memulai pendekatan keuangan yang sangat hemat (dalam menjalankan BAM), kami tidak ingin menyelenggarakan turnamen apa pun yang tidak menguntungkan kami secara finansial,” kata Norza.

“Lagi pula, bisnis inti kami bukan untuk menjalankan turnamen, melainkan untuk mengembangkan pemain dan mempersiapkan tim untuk tugas-tugas utama seperti Olimpiade Tokyo 2020. Daripada menjadi tuan rumah turnamen besar, kami lebih memilih menginvestasikan uang kami untuk pengembangan dan pelatihan,” pungkasnya.

Artikel Tag: bam, Bidding Mayor Events, BWF

603