Ryan Garcia dan Conor Benn Bidik Kemenangan dengan Strategi Berbeda
Ryan Garcia (kiri) dan Conor Benn. (Foto: Fight TV)
Pertarungan Ryan Garcia melawan Conor Benn di T-Mobile Arena, Las Vegas, Sabtu (12/9) malam, bukan sekadar perebutan gelar kelas welter WBC.
Bagi Garcia, kemenangan dapat mempertegas kebangkitan kariernya, sedangkan Benn berpeluang mengikuti jejak ayahnya, Nigel Benn, dengan menjadi juara dunia untuk pertama kalinya.
Ryan Garcia, yang memiliki rekor 25-2 dengan 20 kemenangan knockout, menjadi favorit dengan koefisien -330.
Ia merebut gelar WBC setelah mengalahkan Mario Barrios melalui keputusan angka mutlak pada 21 Februari di arena yang sama.
Garcia diperkirakan perlu tampil sabar dan memanfaatkan peluang yang diberikan Benn.
Petinju berusia 28 tahun itu dapat mengandalkan jab dan pukulan kanan lurus untuk menjaga jarak sebelum membuka ruang bagi hook kiri cepatnya.
Serangan ke tubuh juga menjadi senjata penting.
Benn harus menurunkan berat badan secara signifikan untuk mencapai batas 147 pound dan baru kembali bertarung di kelas welter untuk pertama kalinya sejak April 2022.
Garcia dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk menguras tenaga Benn sebelum memburu kemenangan knockout.
Garcia juga tidak perlu terburu-buru mencari penyelesaian. Ia telah membuktikan mampu bertarung selama 12 ronde ketika menghadapi Barrios.
Jika menang, Ryan Garcia akan menutup tahun dengan dua kemenangan besar sekaligus mempertahankan gelar dunia.
Kemenangan juga dapat membuka jalan menuju pertarungan unifikasi melawan juara WBA Teofimo Lopez.
Duel ulang dengan juara WBO Devin Haney juga menjadi opsi menarik mengingat rivalitas keduanya.
Sementara itu, Benn merupakan underdog dengan koefisien +250. Untuk menciptakan kejutan, petinju Inggris tersebut harus memulai laga dengan agresif.
Garcia pernah dijatuhkan Gervonta Davis dan Rolando Romero pada ronde kedua dalam dua kekalahannya.
Benn juga perlu menggunakan tipuan gerak atau feint untuk mengurangi keunggulan kecepatan Garcia dan membuka peluang serangan balik.
Jab ke tubuh dapat menjadi cara untuk memancing Garcia menurunkan pertahanannya sebelum Benn melancarkan pukulan keras ke kepala.
Jika Conor Benn menang, ia akan menjadi juara dunia untuk pertama kalinya sekaligus membuktikan bahwa keputusan kembali ke kelas welter tidak sia-sia.
Gelar WBC memiliki arti khusus karena merupakan sabuk yang pernah dimiliki ayahnya di kelas menengah super.
Conor Benn menyebut pertarungan tersebut sebagai kesempatan untuk merebut gelar yang sama dengan milik ayahnya.
Kemenangan akan memberinya momentum besar sebelum menentukan langkah berikutnya di kelas berat yang lebih tinggi.
Artikel Tag: Teofimo Lopez, Ryan Garcia, conor benn