Terence Crawford Buka Suara soal Pensiun: “Saya Sudah Tua untuk Tinju”
Pernyataan Terence Crawford tersebut mencerminkan kejujuran seorang atlet yang memahami batas fisik dan mental setelah puluhan tahun hidup di bawah tekanan ring. (Foto: Fight TV)
Keputusan Terence Crawford untuk pensiun terasa janggal bagi banyak penggemar tinju.
Petinju asal Omaha, Nebraska, itu baru saja tampil luar biasa saat mengalahkan Saul “Canelo” Alvarez di kelas super middleweight pada 13 September lalu.
Penampilannya tampak segar, tajam, dan nyaris tanpa cela, seolah menunjukkan bahwa ia masih berada di puncak performa.
Namun, tak lama setelah kemenangan bersejarah tersebut—yang mengantarkannya menjadi petinju pria pertama di era empat sabuk yang menyandang status juara dunia sejati di tiga divisi berbeda—Crawford justru mengumumkan pensiun.
Bagi sebagian orang, langkah ini sulit dipahami. Namun bagi Crawford, alasannya sederhana dan sangat personal: usia.
“Saya 38 tahun,” kata Terence Crawford dalam perbincangan dengan streamer ternama Adin Ross. “38 itu sudah tua dalam dunia tinju. Saya sudah bertinju sejak usia tujuh tahun.”
Pernyataan tersebut mencerminkan kejujuran seorang atlet yang memahami batas fisik dan mental setelah puluhan tahun hidup di bawah tekanan ring.
Dengan rekor sempurna 42 kemenangan tanpa kekalahan dan 31 KO, Terence Crawford sejatinya masih memiliki banyak opsi.
Ia sempat mempertimbangkan untuk menjajal divisi middleweight, membuka peluang tantangan baru di kelas yang lebih tinggi.
Bahkan kubu Canelo Alvarez secara terbuka menyatakan bahwa prioritas utama mereka adalah laga ulang melawan Crawford, bukti betapa besar dampak kemenangan tersebut.
Meski begitu, Crawford tampak benar-benar merasa cukup. Lemari prestasinya sudah penuh dengan gelar, penghargaan, dan catatan sejarah yang sulit ditandingi.
Ia juga menyadari bahwa sepanjang kariernya, rekam jejaknya kerap menjadi sasaran kritik. Terlepas dari siapa pun lawan yang ia kalahkan, pengakuan penuh seolah tak pernah benar-benar datang.
“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dibuktikan,” ujar Crawford. “Tidak ada lagi yang harus saya capai. Apa lagi yang bisa saya lakukan? Mereka tetap tidak akan memberi saya penghargaan yang pantas, jadi itu sudah tidak penting lagi.”
Pernyataan tersebut menutup babak panjang karier seorang petinju yang dikenal karena kecerdasan, fleksibilitas gaya bertarung, dan konsistensi di level tertinggi.
Bagi Terence Crawford, pensiun bukan soal kalah atau menurun, melainkan tentang memilih pergi saat masih berada di atas—dengan kepala tegak dan warisan yang sudah terukir dalam sejarah tinju dunia.
Artikel Tag: Terence Crawford