Bagi Stan Wawrinka, Tanpa Penyesalan Adalah Cara Tinggalkan Dunia Olahraga

Stan Wawrinka [image: getty images]
Berita Tenis: Stan Wawrinka akan dikenang karena pukulan backhand satu tangan yang penuh gaya, tekad yang tidak tergoyahkan, serta kerendahan hatinya, kualitas-kualitas yang menjadikannya salah satu petenis paling khas di generasinya.
Petenis berkebangsaan Swiss yang mengakhiri karier di dunia tenis profesional pekan ini dengan berkompetisi di Swiss Indoors Basel (kalah dari Jiri Lehecka), telah memenangkan tiga gelar Grand Slam, mencatatkan 590 kemenangan di turnamen ATP, dan mencapai peringkat 3 dunia.
Namun bagi petenis berusia 41 tahun, warisan bukanlah soal bagaimana orang lain mengingatnya, melainkan tentang upaya yang ia curahkan dalam setiap pertandingan serta rasa hormat yang ia tunjukkan kepada semua orang di sekitarnya.
“Itu bukan wewenang saya. Ada berbagai pandangan mengenai diri saya sebagai petenis selama 20 musim terakhir,” ujar Wawrinka kepada ATPTour.com saat ditanya tentang warisan kariernya.
“Bagi saya, yang saya inginkan di sepanjang karier hanyalah memberikan segalanya, tidak memiliki penyesalan, terus berjuang, dan selalu mengerahkan 100 persen kemampuan di setiap pertandingan, sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri, lawan, turnamen, para penggemar, dan semua orang.”
“Hal itulah yang selalu menjadi prioritas utama selama lebih dari 20 musim dan hanya dengan cara itulah seseorang bisa meninggalkan dunia olahraga ini, tanpa penyesalan sedikit pun.”
Ia hampir tidak memiliki penyesalan setelah berulang kali mematahkan ekspektasi, terutama di US Open musim 2016, saat ia berusia 31 tahun dan menghadapi tekanan dari peluang realistis terakhirnya untuk memenangkan gelar Grand Slam lainnya.
Ia meminta saran kepada pelatih lamanya, Magnus Norman sebelum akhirnya mengalahkan Novak Djokovic dengan empat set di final US Open musim 2016. Kemenangan tersebut menjadikannya juara US Open nomor tunggal putra tertua di Open Era pada saat itu.
Gelar tersebut menjadi gelar Grand Slam ketiga dalam kariernya sekaligus yang terakhir baginya. Menariknya, setiap kemenangan di final Grand Slam diraihnya saat melawan petenis peringkat 1 dunia.
“Itu adalah momen yang menegangkan, hal seperti itu bisa terjadi dalam olahraga,” lanjut Wawrinka. “Saya merasa sangat gugup menjelang final. Persiapannya tidak bisa dibilang mudah, tetapi saya sempat berbincang dengan Magnus, yang sangat membantu saya melewati momen tersebut. Ia benar-benar membantu saya untuk tetap fokus pada saat ini dan tidak terlalu memikirkan hasil akhirnya.”
Saat Wawrinka meninggalkan dunia olahraga ini, pukulan backhand serta tiga gelar Grand Slam yang diraihnya akan terus dikenang melalui berbagai cuplikan pertandingan, tetapi, semangat juang, kerendahan hati, dan kemurahan hatinya terhadap orang-orang di sekitarnya pun akan tetap melekat dalam ingatan. Bagi seorang petenis yang telah memberikan segalanya untuk tenis, mungkin warisan terbesarnya adalah inspirasi yang ia tinggalkan.
Artikel Tag: novak djokovic, stan wawrinka, us open, jiri lehecka, swiss indoors
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/tenis/bagi-stan-wawrinka-tanpa-penyesalan-adalah-cara-tinggalkan-dunia-olahraga
























Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini