Tim Olimpiade Palestina Disambut Sorak-Sorai Dan Hadiah Setibanya di Paris

Atlet Olimpiade Palestina, Yazan Al Bawab (kiri) dan Valerie Tarazi, mencicipi buah kurma yang diberikan seorang suporter saat tiba di Bandara Paris Charles de Gaulle, di Rossy, sebelah utara Paris pada Kamis (25/7). (Foto: AP)
Para atlet Olimpiade Palestina disambut dengan sorak-sorai antusias dan hadiah makanan dan bunga mawar ketika mereka tiba di Paris pada hari Kamis (25/7), bersiap untuk mewakili Gaza yang dilanda perang dan wilayah Palestina lainnya di panggung internasional.
Ketika para atlet yang penuh semangat itu melewati lautan bendera Palestina di bandara utama Paris, mereka menyatakan harapan bahwa partisipasi mereka akan menjadi simbol di tengah konflik Israel-Hamas yang sedang berlangsung, yang telah merenggut lebih dari 39.000 nyawa warga Palestina.
Para atlet, bersama dengan para pendukung dan politisi Prancis yang hadir di tengah kerumunan, menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk mengakui negara Palestina.
Banyak juga yang menyuarakan kemarahan atas kehadiran Israel di Olimpiade, menyusul laporan dari para ahli hak asasi manusia yang didukung oleh PBB yang menuduh pihak berwenang Israel melakukan "kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan."
Laporan yang sama juga menyatakan bahwa militan Palestina melakukan kejahatan perang selama bulan-bulan awal perang Gaza, yang dimulai setelah Hamas melancarkan serangan mematikan ke Israel pada 7 Oktober. Israel telah menepis tuduhan-tuduhan dari para ahli independen tersebut.
"Prancis tidak mengakui Palestina sebagai sebuah negara, jadi saya di sini untuk mengibarkan bendera," kata Yazan Al-Bawwab, perenang Palestina berusia 24 tahun yang lahir di Arab Saudi. "Kami tidak diperlakukan seperti manusia, jadi ketika kami datang untuk berolahraga, orang-orang menyadari bahwa kami setara dengan mereka. Kami adalah 50 juta orang yang tidak memiliki negara."
Al-Bawwab, salah satu dari delapan atlet dalam tim Palestina, menandatangani tanda tangan untuk para pendukung dan menerima kurma dari seorang anak kecil di tengah kerumunan. Nyanyian "Bebaskan Palestina" yang bergema di seluruh bandara Paris Charles de Gaulle menyoroti bagaimana konflik dan ketegangan politik mempengaruhi Olimpiade.
Perhelatan global di Paris ini berlangsung di tengah pergolakan politik yang signifikan, berbagai perang, migrasi bersejarah, dan krisis iklim yang semakin memburuk, yang semuanya menjadi topik utama di pesta olahraga musim panas itu.
Pada bulan Mei, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kesiapannya untuk secara resmi mengakui negara Palestina, tetapi menyatakan bahwa langkah tersebut harus diambil "pada saat yang tepat" ketika emosi tidak memuncak.
Pernyataan ini membuat beberapa orang marah, termasuk Ibrahim Bechrori, seorang warga Paris berusia 34 tahun, yang merupakan salah satu pendukung yang menyambut para atlet Palestina di bandara.
"Saya di sini untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak sendirian, mereka didukung," kata Bechrouri. Kehadiran mereka "menunjukkan bahwa rakyat Palestina akan terus ada, bahwa mereka tidak akan terhapus. Ini juga berarti bahwa meskipun dalam situasi yang mengerikan, mereka tetap tangguh. Mereka masih menjadi bagian dari dunia dan akan terus ada."
Hala Abou, duta besar Palestina untuk Prancis, menyerukan agar Prancis secara resmi mengakui negara Palestina dan memboikot kontingen Olimpiade Israel.
Abou, yang sebelumnya telah menyebutkan kehilangan 60 kerabatnya dalam perang, menekankan, "Ini adalah sambutan yang tidak mengejutkan bagi rakyat Prancis, yang mendukung keadilan, mendukung rakyat Palestina, mendukung hak mereka yang tidak dapat dicabut untuk menentukan nasib sendiri."
Seruan pengakuan ini datang hanya sehari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato keras kepada Kongres dalam kunjungannya ke Washington, yang disambut dengan protes.
Netanyahu menyatakan niatnya untuk mencapai "kemenangan total" melawan Hamas dan mengkritik mereka yang memprotes perang di AS, dengan menyebut mereka sebagai "orang bodoh yang berguna" bagi Iran.
Kedutaan Besar Israel di Paris mengamini sikap IOC untuk memisahkan politik dari Olimpiade. "Kami menyambut Olimpiade dan kontingen kami yang luar biasa ke Prancis. Kami juga menyambut baik partisipasi semua kontingen asing," kata pihak kedutaan besar. "Para atlet kami berada di sini untuk mewakili negara mereka dengan bangga, dan seluruh bangsa berada di belakang mereka untuk mendukung mereka."
Associated Press telah melakukan berbagai upaya untuk mewawancarai para atlet Israel namun tidak berhasil.
Bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun, mempertahankan program pelatihan Olimpiade yang dinamis di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem timur merupakan sebuah tantangan. Hal ini menjadi hampir mustahil selama sembilan bulan perang antara Israel dan Hamas, yang telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur olahraga di wilayah tersebut.
Banyak atlet dalam tim Palestina lahir atau tinggal di luar negeri, namun memiliki hubungan yang erat dengan politik di tanah leluhur mereka.
Di antara mereka adalah perenang Amerika keturunan Palestina, Valerie Tarazi, yang membagikan keffiyeh tradisional kepada para pendukungnya pada hari Kamis. "Anda bisa hancur di bawah tekanan atau menggunakannya sebagai energi," katanya. "Saya memilih untuk menggunakannya sebagai energi."
Artikel Tag: olimpiade
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/olahraga-lain/tim-olimpiade-palestina-disambut-sorak-sorai-dan-hadiah-setibanya-di-paris























Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini