Gu Ailing dan Pilihan Membela China yang Picu Pro-Kontra

Fenomena Gu Ailing mencerminkan wajah baru olahraga modern, ketika identitas nasional, kepentingan komersial, dan citra global saling berkelindan. (Foto: AP)
Keputusan Gu Ailing untuk membela China di panggung Olimpiade kembali memicu perdebatan, terutama di Amerika Serikat, negara tempat ia lahir dan dibesarkan.
Atlet freestyle ski berusia 22 tahun itu baru saja meraih medali perak nomor freeski big air pada Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 dan masih akan tampil di final halfpipe akhir pekan ini.
Gu Ailing, mahasiswa Stanford yang fasih berbahasa Inggris dan Mandarin, dikenal bukan hanya karena prestasi di lereng salju.
Ia pernah mencetak skor 1560 pada SAT, menjadi model sampul majalah mode ternama, serta memiliki ketertarikan pada fisika kuantum.
Namun sorotan terbesar tetap tertuju pada pilihannya sejak usia 15 tahun untuk berkompetisi bagi China, negara asal ibunya, alih-alih Amerika Serikat.
Langkah tersebut sah secara aturan. Perpindahan federasi bukan hal asing di olahraga internasional.
Sejumlah atlet di berbagai cabang juga pernah berganti kewarganegaraan atau memilih membela negara berbeda karena latar belakang keluarga.
Namun dalam kasus Gu Ailing, dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan China membuat keputusannya jauh lebih sensitif.
Sebagian kritik menilai Gu tidak menunjukkan sikap patriotik terhadap Amerika Serikat. Ia bahkan pernah menjadi anggota tim nasional AS sebelum beralih ke China pada musim 2018-2019.
Di media sosial, tudingan “pengkhianat” sempat mencuat, meski banyak pula yang menganggap reaksi tersebut berlebihan.
Di sisi lain, Gu dipandang sebagai simbol generasi muda global yang bebas menentukan identitas dan jalannya sendiri.
Ia menyatakan salah satu alasan membela China adalah ingin menjadi panutan bagi atlet perempuan muda di negara tersebut, yang menurutnya masih membutuhkan lebih banyak representasi di olahraga musim dingin.
Keputusan itu juga berdampak besar secara komersial.
Majalah Forbes memperkirakan Gu meraup pendapatan 23,1 juta dolar AS sepanjang 2025, menjadikannya salah satu atlet perempuan dengan bayaran tertinggi di dunia.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan ia dan atlet seluncur indah Zhu Yi menerima total sekitar 14 juta dolar AS dalam tiga tahun terakhir dari Biro Olahraga Kota Beijing.
Nilai tersebut belum termasuk kontrak sponsor dari berbagai merek internasional yang ingin memanfaatkan popularitasnya di pasar China yang sangat besar.
Gu sendiri jarang menanggapi kritik secara frontal, termasuk terkait isu hak asasi manusia di China. Ia cenderung memberikan jawaban diplomatis ketika ditanya soal identitas dan kewarganegaraannya.
Hingga kini, ia tidak pernah secara terbuka menyatakan melepas kewarganegaraan Amerika Serikat.
Fenomena Gu mencerminkan wajah baru olahraga modern, ketika identitas nasional, kepentingan komersial, dan citra global saling berkelindan.
Apakah ia bertanding demi idealisme, peluang bisnis, atau keduanya, perdebatan tampaknya belum akan mereda.
Yang pasti, dengan koleksi lima medali Olimpiade dan karier yang masih panjang,
Gu Ailing tetap menjadi salah satu figur paling berpengaruh di arena olahraga musim dingin saat ini—baik di China maupun di Amerika Serikat.
Artikel Tag: olimpiade musim dingin
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/olahraga-lain/gu-ailing-dan-pilihan-membela-china-yang-picu-pro-kontra
























Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini