Kisah Tyler Cashman, Pegolf Tunanetra yang Bersinar Bersama Sang Kakek

Tyler Cashman bersama sang kakek, George Cashman
Berita Golf - Suasana santai mewarnai persiapan Tyler Cashman sebelum tampil di U.S. Adaptive Open di Woodmont Country Club, Maryland. Pegolf berusia 23 tahun itu sempat bercanda dengan mengatakan telah "memecat" caddienya karena dianggap memberikan informasi jarak yang keliru.
Namun candaan itu langsung dibalas oleh sang caddie yang tak lain adalah kakeknya sendiri, George Cashman.
"Kamu memecat saya lima kali setiap ronde. Cari alasan yang lebih bagus," ujar George sambil tertawa.
Percakapan ringan tersebut menggambarkan hubungan hangat keduanya. Di balik canda yang selalu hadir di lapangan, George memegang peran yang jauh lebih penting daripada sekadar membawa tas golf. Ia menjadi mata, pendamping, sekaligus sosok yang selalu memastikan cucunya dapat bertanding dengan percaya diri.
Tyler didiagnosis mengidap kelainan genetik langka sejak kecil yang menyebabkan kemampuan penglihatannya terus menurun. Berbagai pemeriksaan medis dijalani, namun kondisi tersebut tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Saat ini penglihatannya tersisa kurang dari lima persen pada satu mata dan kurang dari 20 persen pada mata lainnya.
Mengetahui kondisi itu, George dan istrinya, Cindy, memutuskan menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang cucu. Mereka mengajaknya berkeliling ke berbagai negara agar Tyler memiliki banyak kenangan sebelum penglihatannya semakin berkurang.
Di tengah perjalanan itulah George memperkenalkan golf. Ia percaya olahraga tersebut dapat tetap dimainkan meski Tyler kehilangan penglihatan sepenuhnya, karena aturan golf adaptif memungkinkan atlet tunanetra berkompetisi dengan bantuan seorang caddie.
Pilihan itu terbukti tepat. Tyler mulai serius bermain golf sejak duduk di bangku SMP dan terus berkembang hingga mampu bersaing di level internasional. Bersama George, ia mengikuti berbagai turnamen golf adaptif di berbagai negara.
Prestasi terbesar mereka datang ketika berhasil menjuarai Kejuaraan Dunia Golf Tunanetra di Kanada pada tahun lalu. Gelar tersebut mengantarkan Tyler menjadi pegolf nomor satu dunia di kategori tunanetra.
Dalam setiap pertandingan, George membantu mengarahkan posisi tubuh Tyler Cashman sebelum memukul bola, membaca kondisi lapangan, serta memantau arah bola setelah dipukul. Kolaborasi itu membuat keduanya tampil layaknya pasangan pegolf dan caddie profesional.
"Sekarang semua keputusan ada di tangan Tyler. Dia pemainnya, saya hanya membantu memberikan masukan," kata George.
Pekan ini keduanya kembali memburu prestasi di U.S. Adaptive Open, turnamen golf adaptif paling bergengsi di Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh USGA. Ajang tersebut mempertemukan pegolf dengan berbagai jenis disabilitas untuk bersaing dalam kategori masing masing.
Meski memiliki target meraih medali, bagi Tyler dan George kemenangan bukan satu satunya tujuan. Kebersamaan selama bertahun tahun telah mengubah golf menjadi lebih dari sekadar olahraga.
"Saya jauh lebih menikmati menjadi caddie untuk Tyler daripada bermain sendiri. Bagi banyak orang golf adalah olahraga individu, tetapi bagi kami ini adalah olahraga tim," ujar George.
Ucapan tersebut menjadi bukti bahwa di balik setiap pukulan Tyler Cashman, selalu ada dukungan tanpa syarat dari seorang kakek yang setia mendampinginya di setiap langkah.
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/golf/kisah-tyler-cashman-pegolf-tunanetra-yang-bersinar-bersama-sang-kakek
























Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini