Ragam Basket: Mengenang "Flu Game", Michael Jordan Tampil Luar Biasa Meski Nyaris Mati

Penulis: Hanif Rusli
Senin 12 Jun 2017, 12:56 WIB
Ragam Basket: Mengenang "Flu Game", Michael Jordan Tampil Luar Biasa Meski Nyaris Mati

Penampilan insiprasional Michael Jordan di Game 5 Final NBA 1997

Ligaolahraga – Ragam Basket: Pada 11 Juni 1997, jelang Game 5 Final NBA antara Chicago Bulls dan Utah Jazz, Michael Jordan dikabarkan tidak dalam kondisi sehat. Toh dalam kondisi “hampir mati”, legenda NBA itu tetap tampil luar biasa untuk membawa Bulls memenangi pertandingan tersebut.

Kala itu Bulls yang bertindak sebagai juara bertahan, bertandang ke kandang Jazz dengan skor imbang 2-2 dalam seri ‘best-of-seven’. Game 5 ini terbilang penting karena memenangi partai ini bakal membuka jalan bagi tim yang menang untuk meraih trofi Larry O’Brien.

Dalam siaran jelang pertandingan, komentator play-by-play Marv Albert berkata kepada pemirsa layar kaca bahwa Jordan menderita “semacam flu”. Tapi menurut pelatih pribadinya, Tim Grover, dalam buku “Relentless: From Good to Great to Unstoppable” bahwa  Jordan tak menderita flu, tapi keracunan makanan.

Dalam bukunya yang dirilis pada 2013, Grover menceritakan Bulls menginap di sebuah hotel di Park City, Utah. Semua orang di kota itu seperti tahu di mana Bulls menginap karena tak ada banyak hotel di sana.

Biasanya Jordan didampingi oleh beberapa teman dekat, selain Grover, bila Bulls melakukan partai tandang. Mereka biasanya mendampingi Jordan bermain kartu semalam suntuk. Sementara Grover dibawa serta bilamana Jordan ingin berlatih beban secara privat di kota yang disinggahi.

http://nk_wp_media.s3.amazonaws.com/files/2015/06/MJ-Flu-Game-1998-Game-5.jpg

Layanan kamar sudah dihentikan sekitar pukul 9 malam, tapi Jordan merasa lapar. Tapi mereka tak bisa menemukan tempat lain untuk menyantap makanan. Satu-satunya yang Grover dapat temukan adalah toko pizza. Jadi mereka pun memesan pizza dan diantarkan oleh lima orang.

Namun Grover berkata kepada yang lain bahwa dia “punya perasaan buruk tentang ini.” Dari semua orang di kamar Jordan, hanya Jordan yang memakan pizza tersebut. Kemudian sekitar pukul 2 atau 3 dinihari, Grover menerima telepon dari kamarnya untuk datang ke kamar Jordan.

Jordan disebut terbangun dengan gejala seperti flu. Perutnya sakit dan kepalanya pusing, jadi dia tak bisa kembali tidur dan muntah semalaman. Saat datang ke kamar Jordan, Grover mendapatinya berselimut dalam posisi meringkuk seperti bayi dalam janin. “Saya segera katakan kepadanya (Jordan) bahwa ini keracunan makanan, bukan flu,” tandas Grover.

Sekitar pukul 8 pagi, salah satu pengawal Jordan menghubungi Chip Schaefer, asisten pelatih Bulls, dan menceritakan kondisi Jordan yang sakit semalaman. Segera saja Schaefer mendatangi kamar Jordan dan melihat pebasket terhebat dalam sejarah terbaring dalam kondisi lemah, mirip seperti zombie.

Schaefer segera memasangkan infus kepada Jordan dan berusaha memasukkan sebanyak mungkin cairan dalam tubuh Jordan. Dia juga memberikan obat dan memutuskan untuk membiarkannya istirahat sebanyak mungkin pada pagi itu.

http://assets.nydailynews.com/polopoly_fs/1.1516033.1384383102!/img/httpImage/image.jpg_gen/derivatives/article_750/nba-finals.jpg

Berita sakitnya Jordan menyebar dengan cepat di kalangan pers di Delta Center, lokasi pertandingan Game 5. Rumornya Jordan disebut tak akan bermain. Namun ada saja yang tidak begitu yakin.

Saat menerima kabar Jordan menderita demam 102 derajat Fahrenheit, James Worthy, mantan pemain Lakers dan rekan setim Jordan di North Carolina yang bekerja untuk jaringan FOX, mengatakan bahwa Jordan akan bermain. “Dia akan tahu apa yang dia dapat lakukan, dia akan menghemat tenaganya di area yang lain, dan dia akan tampil apik.”

Menurut Ahmad Rashad, penyiar yang juga teman dekat Jordan, menceritakan Jordan datang lebih awal ke Delta Center lebih awal, lalu berusaha untuk tidur di ruangan gelap di kamar ganti pemain Bulls. Namun muntah-muntahnya terus berlanjut. Dia pun tak mengikuti sesi pemanasan menembak timnya.  

Di ruang ganti sebelum pertandingan, rekan-rekan Jordan terkesima dengan apa yang mereka saksikan. Seperti dikisahkan David Halberstam dalam buku “Playing for Keeps”, Jordan yang biasanya berkulit cukup gelap, kini terlihat dalam warna antara putih dan abu-abu. Center Bill Wennington mengingat mata Jordan yang biasanya begitu hidup, kini terlihat mati.

https://d13csqd2kn0ewr.cloudfront.net/uploads/image/file/53565/cropped_86342551.jpg?ts=1402512974

Jordan tampak lesu sejak awal pertandingan dengan Jazz unggul 13 poin 26-19 di kuarter pertama. Namun meski Utah sepertinya memegang kendali Game 5, Jordan meresponnya dengan 17 poin di kuarter kedua dan total membukukan 21 poin di paruh kedua dengan Jazz unggul 53-49.

Jordan pun lebih banyak diisitirahatkan di kuarter ketiga setelah jelas-jelas memperlihatkan kelelahan, bertumpu pada kedua lututnya dengan kepala menunduk. Sosoknya terlihat semakin mengkhawatirkan saat terkulai lemas di bangku cadangan dengan kantong es di belakang leher dan infus.

Masuk kuarter keempat, Jordan mengambil alih babak tersebut dengan mencetak 15 poin, termasuk tembakan 3-poin yang menentukan kemenangan Bulls 90-88. Secara keseluruhan, Jordan menghasilkan 38 poin, tujuh rebound, lima assist, tiga steal dan satu blok.

Begitu pertandingan berakhir, Jordan pun terhempas ke pelukan Scottie Pippen. Dia hampir tak sanggup berdiri. Tentang penampilannya itu, Jordan mengatakan, “Tak peduli seberapa sakitnya saya, seberapa lelahnya saya, saya merasa punya kewajiban kepada tim saya dan kota Chicago, untuk memberikan usaha ekstra.”

Unggul 3-2, Bulls kemudian menggondol gelar NBA kelimanya di game berikut.

Artikel Tag: michael jordan, Chicago Bulls, final NBA, NBA, basket

2334  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini