Dari “Villain” Jadi Pengubah Budaya: Dampak Dillon Brooks di Dua Franchise

Dillon Brooks lama dikenal sebagai “villain” terbesar di NBA. (Foto: AP)
Dillon Brooks lama dikenal sebagai “villain” terbesar di NBA. Trash talk tanpa henti, permainan fisik berlebihan, hingga tumpukan technical foul membuatnya dibenci lawan dan sebagian penggemar.
Namun di balik reputasi itu, Brooks justru menjadi sosok kunci yang membantu mengubah arah dua franchise berbeda: Houston Rockets dan Phoenix Suns.
Phoenix Suns merekrut Dillon Brooks pada musim panas lalu sebagai bagian dari paket pertukaran Kevin Durant.
Keputusan itu lahir dari kebutuhan mendesak akan perubahan budaya.
Dua musim pertama di bawah kepemilikan Mat Ishbia dianggap gagal total, bahkan memalukan, meski Suns memiliki payroll tertinggi liga.
Ishbia menginginkan identitas baru: tim yang keras, lapar, dan penuh etos kerja. Brooks, dengan segala kontroversinya, dipandang sebagai jawaban.
Sejak hari-hari awalnya di Phoenix, intensitas Dillon Brooks langsung terasa.
Ia paling awal datang ke gym, paling vokal di latihan, dan tak segan memarahi rekan setimnya jika standar kerja menurun.
Kehadirannya membantu membentuk mentalitas baru Suns yang lebih tangguh.
Hasilnya terlihat jelas: Phoenix yang semula diprediksi kembali terpuruk kini mencatat rekor 24-16 dan bersaing ketat di papan tengah Wilayah Barat.
Tak hanya soal sikap, performa Brooks juga melonjak.
Ia mencatatkan musim ofensif terbaik dalam kariernya dengan rata-rata lebih dari 21 poin per gim, menjadi opsi kedua di belakang Devin Booker.
Efisiensinya meningkat drastis, mencerminkan kerja keras yang ia lakukan bertahun-tahun.
Booker sendiri menegaskan bahwa Brooks adalah tipe pemain yang selalu ingin Anda miliki di tim sendiri, meski dibenci lawan.
Sebelum Phoenix, Brooks lebih dulu berperan penting dalam kebangkitan Houston Rockets.
Didatangkan dengan kontrak besar yang sempat menuai kritik, ia menjadi pilar budaya baru bersama Fred VanVleet dan pelatih Ime Udoka.
Rockets yang sebelumnya terpuruk perlahan bangkit, menembus rekor positif dan kembali relevan di Wilayah Barat.
Bagi para pemain muda Houston, Dillon Brooks adalah mentor sekaligus contoh nyata soal profesionalisme dan daya juang.
Ironisnya, perjalanan Brooks justru berakhir pahit di Memphis Grizzlies, tim yang membesarkan namanya.
Manajemen menilai sikap provokatifnya berdampak buruk bagi inti muda tim.
Namun Brooks melihatnya sebagai kesalahpahaman dan menjadikan momen itu bahan bakar untuk berkembang.
Kini, di Phoenix, Brooks menemukan tempat yang memberinya kepercayaan penuh.
Ia tetap dengan persona kerasnya, tetap memancing emosi lawan, tetapi dibalut dengan peran kepemimpinan yang jelas.
Dari Houston hingga Phoenix, sang “villain” membuktikan bahwa di NBA, karakter yang tepat — meski kontroversial — bisa menjadi katalis perubahan besar bagi sebuah franchise.
Artikel Tag: Dillon Brooks
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/basket/dari-villain-jadi-pengubah-budaya-dampak-dillon-brooks-di-dua-franchise

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini