Upaya Bintang Prancis Leonice Huet Bangun Karir Diluar Bulu Tangkis

Leonice Huet/[Foto:Badminton Photo]
Selama satu tahun absen dari kompetisi, Leonice Huet harus menemukan kembali cara untuk tetap terlihat, mengekspresikan diri, dan membangun kembali identitasnya—baik di dalam maupun di luar lapangan. Atlet asal Prancis ini berbicara tentang penggunaan media sosial untuk berbagi lebih dari sekadar hasil pertandingan sembari berjuang menjalani masa pemulihan.
Atlet berusia 26 tahun ini cukup aktif di dunia maya, khususnya di Instagram. Huet tidak hanya membagikan sekilas kehidupan sehari-harinya, tetapi juga menyoroti topik-topik yang penting baginya. Ia memang selalu terbuka dalam mengekspresikan diri kepada para penggemarnya.
Setelah mengalami cedera dan menghabiskan waktu satu tahun untuk pemulihan, masa absen tersebut memberinya waktu untuk merenungkan lebih dalam mengenai jati dirinya di luar dunia bulu tangkis.
"Saat mengalami cedera, Anda berada jauh dari lapangan bulu tangkis dan orang-orang mungkin melupakan Anda."
Satu tahun absen
Pada tahun 2025, Huet mengawali tahun dengan menjadi *runner-up* di VICTOR Swedish Open dan mencapai babak 16 besar Kejuaraan Eropa. Sama seperti tahun ini, ia berkompetisi di Denmark Challenge, yang menjadi turnamen terakhir di mana ia tampil sebelum cedera memaksanya menepi dari kompetisi.
Leonice Huet harus absen dari lapangan untuk sementara waktu, dan ia tahu bahwa ia tidak ingin sekadar diam selama masa pemulihan. "Saya berpikir, bagaimana caranya agar saya tetap bisa hadir tanpa harus berada di lapangan?"
Atlet asal Prancis ini menjalani operasi pinggul dan menghabiskan waktu satu tahun tanpa mengikuti turnamen. Cedera merupakan pukulan berat, baik secara fisik maupun mental. Bagi atlet profesional, tiba-tiba harus keluar dari kompetisi dan dipaksa berhenti adalah situasi yang sering digambarkan oleh banyak pemain bulu tangkis sebagai hal yang sangat sulit.
Leonice Huet kembali bertanding pada bulan Mei di ajang I FEEL SLOVENIA LI-NING Open 2026; meski menghadapi lawan berat di pertandingan pertama, ia tetap berjuang hingga tiga gim. Kami menemui Huet di STATE Denmark Challenge 2026 yang dipersembahkan oleh RSL—sebuah turnamen level International Challenge—sekitar dua minggu setelah ia kembali berkompetisi.
Cedera bisa menjadi lebih dari sekadar hambatan fisik. Terutama selama masa satu tahun absen dari kompetisi, waktu tersebut menjadi momen untuk jeda dan melakukan refleksi diri.
"Anda punya waktu untuk kembali fokus pada diri sendiri dan mencatat pemikiran tentang apa yang ingin dicapai, bagaimana Anda ingin kembali, dan bersama siapa."
"Anda harus menulis ulang sejarah Anda."
Saat ini, Huet menempati peringkat 484 dunia. "Rasanya seperti membuka lembaran kosong," akunya, namun bukan dengan perasaan kalah. Ia memandangnya sebagai peluang baru. "Anda harus menulis ulang sejarah Anda."
Leonice Huet menjelaskan bahwa ia sempat merasa sedih saat menyadari harus menjalani operasi dan absen selama setahun, namun kini ia kembali dengan perspektif baru dan—seperti yang ia gambarkan—tubuh yang baru. Karier lamanya terasa begitu jauh, dan segalanya dimulai lagi dari awal. "Karier masa lalu Anda seolah-olah sudah tidak ada lagi. Anda harus mulai lagi dari nol, benar-benar dari nol."
Meski demikian, ia tidak sepenuhnya memulai dari nol. Huet pernah mencapai peringkat tertinggi ke-43 dunia. Ia merupakan pemain reguler dalam skuad Prancis untuk ajang beregu tingkat kontinental, serta telah berkompetisi di tiga Kejuaraan Eropa dan dua Kejuaraan Dunia. Ini adalah awal yang baru, namun pengalaman dan kekuatannya tetap ada, sebagaimana tercermin dalam refleksi yang jujur dan apa adanya mengenai upayanya memulai kembali setelah cedera.
Mengambil kendali atas kisah Anda sendiri
Leonice Huet adalah salah satu atlet dalam tur yang rutin membagikan pembaruan video di media sosial, khususnya Instagram. Unggahan video dan foto mengenai proses pemulihannya, dunia mode—ia bahkan mengelola akun Instagram terpisah yang sepenuhnya didedikasikan untuk minatnya di bidang ini—serta pendapatnya tentang beragam topik, semuanya menjadi sarana baginya untuk mengekspresikan diri. "Sangat penting bagi saya untuk membagikan kisah saya selama masa ini."
Kita semakin sering melihat atlet membagikan momen-momen apa adanya kepada audiens mereka. Era media sosial memungkinkan penggemar melihat sisi lain idola mereka yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tanpa filter—meski tetap melalui penyuntingan hingga taraf tertentu—siapa pun bisa, seperti yang digambarkan sendiri oleh Huet, menyalakan kamera dan merekam diri mereka sendiri.
Leonice Huet tetap memiliki reaksi yang sangat manusiawi dan bisa dipahami banyak orang terkait hal ini. "Terkadang agak sulit untuk menampilkan diri di media sosial karena ada rasa takut akan penilaian orang lain terhadap kita."
Namun, ia tetap menekan tombol rekam di ponselnya karena ia menyadari betapa pentingnya memiliki dan memanfaatkan sebuah platform.
Pentingnya untuk tampil dan bersuara
Media sosial telah membuka jalan bagi peningkatan representasi dan visibilitas bagi mereka yang sebelumnya mungkin tidak mendapatkan kesempatan atau platform yang sama. Media pun harus beradaptasi dengan perubahan ini. Kini, atlet tidak hanya terlihat melalui platform pribadi mereka, tetapi juga dalam wawancara pascapertandingan dan konferensi pers, di mana mereka berbicara mengenai berbagai hal di luar sekadar hasil pertandingan.
Baik itu soal rasisme, seksisme, kesehatan mental, maupun pemberdayaan atlet, semakin banyak topik yang kini menjadi bagian dari percakapan publik yang lebih luas. Tokoh-tokoh besar pun mulai berbicara secara terbuka mengenai pergulatan pribadi mereka, sekaligus membuka pintu bagi dialog, pengakuan, dan—secara perlahan—perubahan.
"Sebagai atlet perempuan... sangatlah penting untuk tampil dan bersuara." Huet menyoroti dua sosok besar dalam ranah ini, Naomi Osaka dan Coco Gauff, yang keduanya sangat vokal dalam menyuarakan pendapat mereka.
Para pemain seperti mereka—serta mereka yang lebih muda dan masih berlatih untuk menjadi profesional—kini memiliki sosok panutan yang kuat. Huet pun bisa menjadi sosok yang diteladani oleh orang lain. Ia berinteraksi dengan para pengikutnya dan menceritakan bahwa banyak atlet muda yang meminta tips darinya. Hal ini semakin memotivasinya untuk lebih vokal di media sosial. "Menarik bagi para pemain muda untuk melihat sosok-sosok yang berani mengekspresikan diri."
Rasa bangga
Kami menemuinya di saat ia sedang mengekspresikan diri bukan melalui ponsel, melainkan di lapangan. Huet baru saja meraih kemenangan pertamanya setelah kembali berkompetisi—sebuah kemenangan meyakinkan dua gim langsung pada babak pertama kualifikasi turnamen Denmark Challenge.
Bagaimana ia menggambarkan momen kembalinya ini dalam satu kata? "Rasa bangga," ujarnya sambil tersenyum. Fokusnya adalah menikmati waktu di lapangan dan sekadar "merasa bahagia lagi" saat bermain, sebagaimana ia menggambarkannya. Dan ia memang tampak demikian. "Banggalah dengan jati dirimu dan banggalah karena telah kembali."
Off Court adalah seri baru dari Badminton Europe yang mengupas kisah, identitas, dan perjalanan orang-orang di dunia bulu tangkis—di luar hasil pertandingan maupun situasi di dalam lapangan.
Artikel Tag: prancis, bulu tangkis, leonice huet
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/badminton/upaya-bintang-prancis-leonice-huet-bangun-karir-diluar-bulu-tangkis

























Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini