Revolusi Prancis di Kejuaraan Eropa Alarm Para Pesaing di Piala Thomas

Tim Prancis/[Foto: Badminton Europe]
Istanbul - Malaysia mungkin fokus untuk mengakhiri penantian 34 tahun mereka untuk meraih hadiah tim bulu tangkis utama, tetapi terobosan mengejutkan Prancis di Kejuaraan Tim Eropa adalah peringatan — jalan menuju kejayaan di Horsens tidak akan mudah.
Piala Thomas akan diadakan di Horsens, Denmark, dari tanggal 24 April hingga 3 Mei, dan Prancis telah muncul sebagai pesaing sejati setelah menggulingkan juara bertahan Denmark dengan skor 3-2 di final Eropa hari Minggu di Istanbul.
Denmark unggul lebih dulu ketika Anders Antonsen mengalahkan Christo Popov dengan skor 21-12, 15-21, 21-16, memberikan keunggulan awal bagi tim yang secara tradisional merupakan kekuatan besar tersebut.
Mereka langsung membalas. Alex Lanier menyamakan kedudukan dengan kemenangan tenang 21-16, 21-16 atas Rasmus Gemke untuk membalikkan momentum pertandingan.
Toma Junior Popov kemudian mengalahkan Ditlev Holm dengan skor 20-22, 21-15, 21-15 untuk membawa Prancis unggul 2-1 dan semakin dekat dengan kemenangan bersejarah.
Pasangan ganda putra Denmark yang berpengalaman dan pernah menduduki peringkat 1 dunia, Kim Astrup-Anders Skaarup Rasmussen, menjaga peluang mereka tetap hidup dengan mengalahkan Eloi Adam-Leo Rossi 21-18, 21-14 untuk memaksa pertandingan kelima sebagai penentu.
Mereka menurunkan kombinasi yang tidak biasa — Thom Gicquel dan Toma Junior Popov — melawan Daniel Lundgaard-Mads Vestergaard di pertandingan penentu, sebuah pertaruhan yang menurut sebagian orang tidak akan berhasil.
Namun, pasangan Prancis itu mampu mengatasi tantangan tersebut, mengalahkan pasangan Denmark peringkat 25 dunia dengan skor 21-19, 21-12 untuk mengamankan kemenangan bersejarah 3-2.
"Ini sulit dipercaya, saya hampir menangis," kata Toma Junior kepada Federasi Bulu Tangkis Dunia.
"Saat kami melangkah ke lapangan, kami ingin melakukannya untuk Prancis. Kami berjuang mati-matian dan saya senang usaha kami membuahkan hasil."
Bagi sebuah negara yang telah lama dibayangi oleh dominasi Denmark di Eropa, kemenangan ini lebih dari sekadar simbolis.
"Kami sudah berkali-kali kalah di final, tapi akhirnya kami berhasil," tambahnya.
Gicquel, yang lebih dikenal sebagai spesialis ganda campuran, mengatakan bahwa kekompakan mereka terbukti menentukan di bawah tekanan.
"Dengan Tommy, kami senang bermain bersama dan kami saling memberi semangat. Rasanya alami sejak awal," katanya.
"Kami yakin bisa tampil bagus, tetapi kami tahu kami harus menampilkan pertandingan yang hebat jika ingin menang. Akhirnya, medali emas telah tiba."
"Kami telah memimpikan ini sepanjang hidup kami. Kami telah melihat Denmark meraih medali emas terlalu sering, jadi kami sangat senang bisa membawanya pulang."
Kesengsaraan Denmark berlanjut ke ajang putri, di mana mereka menelan kekalahan 3-1 dari Bulgaria, menambah kekecewaan dalam kampanye bagi negara adidaya Skandinavia tersebut.
Bagi Malaysia, yang terakhir kali meraih kemenangan Piala Thomas di kandang sendiri pada tahun 1992, pesannya jelas.
Bersama dengan negara-negara raksasa tradisional seperti China, Indonesia, dan Denmark, Prancis kini harus ditambahkan ke dalam daftar negara-negara yang mampu mengguncang tatanan yang sudah mapan.
Saat Malaysia merencanakan misi mereka sendiri di Horsens, mengabaikan kebangkitan pesat Prancis akan menjadi kesalahan yang mahal.
Artikel Tag: thom gicquel, toma junior popov, badminton denmark, badminton prancis, piala thomas 2026
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/badminton/revolusi-prancis-di-kejuaraan-eropa-alarm-para-pesaing-di-piala-thomas
























Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini