Jurus Andalan Baru Tai Tzu Ying Musim Ini Kala Meraih Gelar All England

Penulis: Yusuf Efendi
Minggu 12 Apr 2020, 06:30 WIB
Jurus Andalan Baru Tai Tzu Ying Musim Ini Kala Meraih Gelar All England

Tai Tzu Ying/[Foto:AFP]

Berita Badminton : Adalah mungkin, mengingat apa yang kita saksikan selama kejuaraan bergengsi All England 2020, bahwa pemain andalan Taiwan, Tai Tzu Ying telah menunjukan sesuatu yang berbeda yang membuatnya meraih gelar ketiga All England dan salah satu kemenangannya yang paling sensasional.

Ada beberapa gelar lain dalam beberapa waktu terakhir, seperti Singapore Open dan Denmark Open, tetapi All England kali ini berbeda. Itu memungkinkan kami untuk menyaksikan sisi lain dari Tai Tzu Ying yang sedikit diantisipasi. Terutama, ini ada hubungannya dengan perubahan dari gaya menyerang murni ke pendekatan serangan balik yang dibangun pada aspek permainan yang terkenal kurang bertahan.

Dapat diperdebatkan bahwa perubahan ini diperlukan oleh meningkatnya kemampuan untuk menghadapi para musuh utamanya, yang paling menonjol, yakni saat melawan Chen Yu Fei dan Carolina Marin. Lawannya, terutama yang memiliki pertahanan kuat, sudah mulai membacanya, dan Tai sedang berjuang untuk menembus pertahanan mereka.

Chen, misalnya, mengalahkan Tai di tiga final sebelumnya, yakni All England 2019, World Tour Finals 2019 dan Malaysia Masters 2020 dan mengambil alih posisi nomor 1 dunia. Marin juga memiliki rekor melawan Tai, setelah bangkit kembali dari enam kekalahan beruntun untuk membukukan kemenangan beruntun di China Open dan French Open tahun lalu. Dua lawan inilah yang Tai kalahkan secara beruntun untuk merebut mahkota All England tahun ini.

Marin yang tengah dalam kepercayaan diri tinggi di Birmingham, setelah mengalahkan Akane Yamaguchi 21-15 dan 21-12 di perempat final. telah memberikan semua kemampuannya dan berjalan dengan baik dengan kemenangan pertandingan game pertama melawan Tai.

Namun alih-alih berusaha meningkatkan tekanan dari game pertama, Tai malah memilih untuk menantang Marin dengan menyerang dan mendukung pertahanannya sendiri. Begitu rapat, Tai bisa mengandalkan repertoar pukulannya untuk menciptakan celah yang dibutuhkannya.

"Saya pikir dia banyak menunggu serangan saya dan itulah sebabnya dia memainkan tempo dan mendorong saya ke belakang. Dia lebih pintar dari saya hari ini. Dia bermain sedikit berbeda. Kami saling mengenal dengan baik, dan Anda memerlukan rencana berbeda untuk setiap pertandingan. Saya harus merencanakan strategi lain dengannya lain kali,” kata Marin setelah kekalahan dari Tai. 

Itu hampir sama dengan pendekatan di final melawan seorang pemain yang telah memenangkan sembilan final terakhirnya. Chen ditantang untuk menemukan jalan melewati pertahanan Tai. Setelah menyerap apa pun dari sang lawan sebelumnya, Tai memilih momennya. Bahkan kekuatan yang tidak konsisten dalam permainan pembuka tidak membuat dia keluar jalur, karena dia menunjukkan jenis kesabaran yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya.

"Hari ini saya terus mengingatkan diri sendiri bahwa saya harus sangat sabar untuk menang, karena Chen adalah pemain yang sangat konsisten dan pemain reli yang baik," kata Tai, setelah meraih mahkota All England ketiganya.

“Saya tidak puas dengan kinerja saya beberapa hari terakhir tetapi saya senang saya bisa meningkatkan permainan saya secara bertahap pada setiap pertandingan. Saya mengatakan pada diri sendiri untuk menghargai setiap momen di lapangan dan memainkan yang terbaik."

“Saya pikir itu berakhir dengan kesabaran. Di masa lalu saya akan frustrasi dan membuat banyak kesalahan sendiri,” ungkap Tai kala itu.

Dengan demonstrasi yang sukses dari pendekatan yang berbeda terhadap permainan, apakah Tai Tzu Ying akan memiliki lebih banyak kejutan di Olimpiade Tokyo?

Artikel Tag: Tai Tzu Ying, Chen Yufei, carolina marin, All England 2020

3027  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini