Indonesia Dipandang Sebagai Negara Adidaya Bulu Tangkis

Penulis: Yusuf Efendi
Minggu 08 Nov 2020, 06:45 WIB
Indonesia Dipandang Sebagai Salah Satu Negara Adidaya Bulu Tangkis Dengan Banyak Raihan Emas Olimpiade

Susy Susanti-Alan Budikusuma/[Foto:Badmintonthaitoday]

Berita Badminton: Sampai saat ini, Indonesia masih menjadi negara adidaya bulu tangkis. Tak heran, Raja Sapta Oktohari, Presiden Komite Olimpiade Internasional Indonesia, menyebut olahraga ini lebih dari sekadar hobi biasa di Tanah Air. Itu bagian dari masyarakat dimana setiap orang akan menggunakan taman belakang dan ruang publik yang sempit dan disinilah aktivitas ini dilakukan.

“Kalau bulu tangkis dikatakan Indonesia, Itu adalah kebenaran," kata Presiden IOC.

Saat Olimpiade Tokyo ditunda, bulu tangkis inilah satu-satunya cabang olahraga di mana Indonesia berhasil meraih tujuh medali emas di Olimpiade, namun tidak menyurutkan tekad semua orang, bahkan ketika Covid-19 mulai menyebar, para pemain masih tetap berlatih.

Penundaan Olimpiade memberi atlet tim nasional untuk bersaing di turnamen internal PBSI agar mereka tidak bosan dan bisa mengukur kinerja program pelatihan.

Sejak Susi Susanti meraih emas tunggal putri pertamanya di Barcelona sebelum Alan Budikusuma kemudian meraih medali emas tunggal putra, cabang ini telah menjadi olahraga yang penuh harapan bagi seluruh negeri dan bertanggung jawab untuk mencetak juara generasi berikutnya.

Susi Susanti adalah contoh sukses. Ketika harus keluar rumah pindah ke Jakarta untuk tinggal dan berlatih di klub bulu tangkis di ibu kota. Itu adalah jalur yang terus diikuti banyak pemain yang mencapai timnas.

Dan yang mengikuti jejaknya adalah juara dunia empat kali Liliyana Natsir, yang meraih medali emas ganda campuran di Olimpiade Rio 2016, yang pindah dari kampung halamannya di Manado, Sulawesi, untuk berlatih di klub Tangkas Jakarta pada usia 12 tahun.

Rudy Hartono, salah satu pemain tunggal putra terbaik Tanah Air dan salah satu tokoh berpengaruh di turnamen bulutangkis internasional tahun 1970-an, mengatakan bahwa kecintaan masyarakat Indonesia yang mendalam terhadap bulu tangkis sangat besar. Itu selalu ditunjukkan melalui permainan halaman belakang rumah untuk keluarga.

"Saat kamu pergi ke desa kecil bisa lihat nanti ada orang yang main bulu tangkis dari jam 6 sore sampai tengah malam, ” ujar sang legenda.

Yuppy Suhandinata, pemilik Tangkas Club, mengatakan bulutangkis merupakan satu kesatuan karena mereka memiliki perpaduan populasi dan atlet dari berbagai ras, agama yang berbeda dan latar belakang yang berbeda dan merupakan negara muslim terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk. Namun banyak pemain bulu tangkis yang memiliki keturunan dan menganut budaya Tionghoa.

Sebelum setiap sesi latihan, para pemain di Tangkas akan berdoa sesuai agama masing-masing dan dianggap sebagai tradisi yang telah dilaksanakan sampai tingkat tertinggi dan sebagai rutinitas dalam latihan timnas.

Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal PBSI mengatakan bahwa saat ini mereka memiliki lebih dari satu juta pemain bulutangkis. Sejak kemenangan Piala Thomas pertama pada tahun 1958, hal itu memberikan tekanan pada generasi berikutnya.

Pemain spesialis ganda putra, Marcus Fernaldi Gideon merupakan salah satu harapan utama Indonesia di Olimpiade. Mengakui bahwa ada tekanan, tapi itu membuatnya dan orang lain menemukan cara memotivasi untuk menghilangkan tekanan itu.

“Semua orang mengharapkan kami menang. Ini karena bulu tangkis kami dan Indonesia," kata pemain peringkat 1 dunia itu.

Artikel Tag: Indonesia, Bulu tangkis, olimpiade

2482  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini