Kanal

Sonny Liston: Dari “Preman Kejam” Menjadi Samsak Dunia Tinju

Penulis: Hanif Rusli
05 Jan 2026, 10:04 WIB

Saat menjadi juara dunia, Sonny Liston tidak pernah menikmati kehormatan yang biasanya melekat pada gelar kelas berat. (Foto: Fight TV)

Nama Sonny Liston selamanya melekat dalam sejarah tinju dunia, namun bukan dengan cara yang adil. Ia kerap dicap sebagai sosok bengis, penindas, bahkan monster di atas ring.

Padahal, di balik citra itu, Liston justru menjadi korban dari prasangka, ketakutan publik, dan narasi yang tak pernah memberinya ruang sebagai manusia seutuhnya.

Muhammad Ali memang berhasil merebut gelar kelas berat dari Liston, dan mulut tajam Ali ikut membentuk persepsi dunia terhadap sang juara bertahan.

Namun, setelah Liston ditemukan meninggal dunia pada akhir Desember 1970 dalam kondisi penuh misteri, Ali justru memilih diam.

Floyd Patterson, yang dua kali dihancurkan Liston, malah memberi penghormatan sederhana dengan menyebut Liston sebagai petinju hebat yang tak pernah benar-benar diberi kesempatan oleh dunia.

Sonny Liston berasal dari latar belakang yang nyaris tanpa identitas.

Ia tak tahu pasti kapan dan di mana ia lahir, hanya bahwa itu terjadi di Arkansas, di sebuah gubuk perkebunan yang nyaris tak layak huni.

Bahkan nama tengahnya, huruf “L”, diberikan begitu saja oleh seorang bidan. Masa kecil tanpa kepastian itu seolah menjadi simbol hidupnya yang terus diselimuti kabut.

Saat menjadi juara dunia, Liston tidak pernah menikmati kehormatan yang biasanya melekat pada gelar kelas berat.

Ia seorang mantan narapidana kulit hitam di era Amerika yang belum siap memaafkan.

Banyak petinju besar lain punya masa lalu kelam, namun hanya Liston yang tak pernah diizinkan menebusnya.

Kekejamannya di ring, hubungannya dengan dunia gelap, hingga sikap pendiamnya dijadikan alasan untuk terus mengasingkannya.

Akhir hidup Sonny Liston pun tak kalah suram. Ia ditemukan tak bernyawa di rumahnya di Las Vegas, dikelilingi tanda tanya: narkoba, alkohol, senjata, televisi menyala, dan laporan otopsi yang ambigu.

Hingga kini, penyebab kematiannya masih diperdebatkan, seolah dunia menolak memberi kepastian bahkan setelah ia pergi.

Ironisnya, mereka yang benar-benar mengenal Liston tahu bahwa ia berkembang saat diperlakukan sebagai manusia. Sebuah isyarat kecil, seperti hadiah sederhana dari Barney Ross di tengah kepungan wartawan, pernah memberinya keberanian.

Bertahun-tahun kemudian, Ali akhirnya melunak. Ia mengakui bahwa banyak ucapannya hanyalah sandiwara.

Ia menyebut Liston sebagai yang terhebat sebelum dirinya. Sayangnya, pengakuan itu datang terlambat.

Sonny Liston bukan monster. Ia justru terlalu manusiawi untuk dunia yang menolak memahami dirinya.

Artikel Tag: Sonny Liston

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru