Kanal

Raih Emas Olimpiade Milano-Cortina, Masa Depan Hoki Es Putri AS Kian Cerah

Penulis: Hanif Rusli
21 Feb 2026, 19:35 WIB

Laila Edwards (kiri) mewakili regenerasi yang menjanjikan di tim hoki es putri Amerika Serikat yang mendominasi Olimpiade Milan-Cortina. (Foto: AP)

Tim hoki es putri Amerika Serikat menegaskan statusnya sebagai kekuatan utama dunia setelah merebut medali emas di Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina 2026 dengan performa dominan.

Skuad Negeri Paman Sam menyapu bersih tujuh pertandingan tanpa kekalahan dan menutup turnamen dengan agregat gol mencolok 33-2.

Keberhasilan tersebut langsung memunculkan perbincangan tentang potensi lahirnya era dominasi baru.

Penyerang senior Hayley Scamurra, 31 tahun, yang kini berstatus dua kali Olympian dan kolektor enam medali kejuaraan dunia, tanpa ragu menyebut tim 2026 sebagai yang terbaik sepanjang kariernya.

“Oh ya, 100 persen,” ujar Scamurra ketika ditanya apakah ini tim terbaik yang pernah ia bela.

Pernyataan serupa datang dari Taylor Heise, Olympian debutan yang turut menyumbang kontribusi penting sepanjang turnamen.

Menurutnya, skuad kali ini telah mengukuhkan diri sebagai salah satu tim terbaik dalam sejarah hoki es putri Amerika Serikat.

Pandangan lebih luas diberikan mantan kapten Meghan Duggan, anggota Hall of Fame yang memimpin AS meraih emas Olimpiade sebelumnya.

Ia menyebut tim edisi Milano-Cortina sebagai yang paling dominan yang pernah ia saksikan, baik sebagai pemain maupun pengamat.

Dominasi Amerika Serikat dan Kanada memang bukan hal baru.

Sejak hoki es putri dipertandingkan di Olimpiade pada 1998, dua negara Amerika Utara itu selalu berbagi medali emas dan perak.

Pola serupa juga terjadi di Kejuaraan Dunia IIHF, dengan hanya satu pengecualian ketika Finlandia meraih perak pada 2019.

Namun, di Milano-Cortina, AS tampil dengan kombinasi kedalaman skuad dan dinamika permainan yang menonjol.

Sepuluh pemain mencatatkan sedikitnya lima poin sepanjang turnamen, enam lebih banyak dibanding negara mana pun.

Caroline Harvey bahkan dinobatkan sebagai MVP turnamen, mempertegas kontribusi generasi muda.

Selain Harvey, sejumlah nama muda seperti Laila Edwards, Tessa Janecke, dan Abbey Murphy — seluruhnya berusia 23 tahun ke bawah — menjadi simbol regenerasi yang menjanjikan.

Di bawah mistar, Aerin Frankel mencetak rekor Olimpiade dengan tiga shutout dalam satu turnamen.

Di partai final, Amerika Serikat menundukkan Kanada 2-1 lewat perpanjangan waktu.

Meski dua gol krusial dicetak pemain senior seperti Hilary Knight dan Megan Keller, sorotan tetap tertuju pada talenta muda yang dinilai baru memasuki puncak perkembangan mereka.

Pelatih kepala John Wroblewski menilai kunci keberhasilan timnya terletak pada intensitas dan fokus luar biasa para pemain.

Ia bahkan mengakui staf pelatih harus menyesuaikan program karena para atlet meminta porsi latihan dan sesi video yang lebih panjang dari rencana awal.

Dengan perpaduan pengalaman dan energi muda, Amerika Serikat kini berdiri sebagai standar emas hoki es putri dunia.

Tantangan berikutnya adalah mempertahankan level tersebut di tengah rivalitas klasik melawan Kanada yang dipastikan tidak akan tinggal diam.

Artikel Tag: olimpiade, Olimpiade Musim Dingin, Milano Cortina 2026

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru