Kanal

Mikhail Shaidorov Rebut Emas Bersejarah, Kirim Pesan Untuk Ilia Malinin

Penulis: Hanif Rusli
21 Feb 2026, 22:15 WIB

Dalam 48 jam setelah kemenangannya, Mikhail Shaidorov diliputi adrenalin, ucapan selamat, hingga pesan langsung dari Presiden Kazakhstan. (Foto: AP)

Juara baru seluncur indah tunggal putra Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina 2026, Mikhail Shaidorov, mengaku belum benar-benar tidur sejak memastikan medali emas bersejarah bagi Kazakhstan pada 13 Februari lalu.

Dalam 48 jam setelah kemenangannya, atlet 21 tahun itu diliputi adrenalin, ucapan selamat, hingga pesan langsung dari Presiden Kazakhstan.

“Saya tidak tidur selama dua hari. Mungkin hanya dua jam. Sampai hari ini saya masih sulit menggambarkan apa yang terjadi,” ujar Mikhail Shaidorov. “Ada rasa bangga yang luar biasa, terutama untuk negara saya.”

Kemenangan tersebut menjadi emas pertama Kazakhstan di cabang figure skating sepanjang sejarah Olimpiade, sekaligus emas pertama negara itu di Olimpiade Musim Dingin dalam 32 tahun.

Hingga saat ini, medali tersebut juga menjadi satu-satunya raihan Kazakhstan di Milano-Cortina 2026.

Di Milano Ice Skating Arena, para penonton yang mengibarkan bendera biru-emas Kazakhstan bersorak saat Mikhail Shaidorov naik podium menerima medali emasnya.

Lebih dari 30 jam setelah seremoni, ia masih menggenggam medali tersebut dengan bangga.

“Medalinya besar dan sangat berat. Saya sudah bekerja keras sepanjang hidup untuk momen ini,” katanya sambil tersenyum.

Euforia kemenangan juga terasa di Kazakhstan. Warga setempat rela begadang hingga pukul empat pagi untuk menyaksikan penampilan Shaidorov.

Ia mengaku menerima ribuan pesan dukungan, termasuk dari Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev.

“Beliau mengatakan akan menganugerahkan saya Barys Ordeni. Rasanya sulit digambarkan ketika Anda bermimpi diberi selamat oleh presiden dan kini itu benar-benar terjadi,” ujar Shaidorov.

Di balik kebahagiaan tersebut, Shaidorov juga menyimpan empati bagi para pesaingnya, terutama sahabat sekaligus rivalnya, Ilia Malinin.

Keduanya, sama-sama berusia 21 tahun, telah bersaing sejak level junior.

Mikhail Shaidorov sempat duduk di kursi pemimpin setelah penampilannya dan menyaksikan satu per satu pesaing gagal melampauinya.

Wakil Italia, Daniel Grassl, turun peringkat setelah free skate yang kurang mulus.

Juara Eropa dua kali asal Prancis, Adam Siao Him Fa, juga terpeleset dari persaingan medali. Atlet Jepang, Kagiyama Yuma, mengalami kesalahan pada lompatan krusial.

Kejutan terbesar datang dari Malinin, juara dunia dua kali yang difavoritkan merebut emas.

Ia terjatuh dua kali dan gagal menuntaskan beberapa lompatan, finis ke-15 di free skate dan kedelapan secara keseluruhan.

“Saat Ilia tampil, perasaan saya campur aduk. Saya ingin mengirimkan kata-kata penyemangat untuknya,” kata Shaidorov. “Saya khawatir untuk semua yang tampil setelah saya. Saya tahu perjalanan panjang mereka menuju Olimpiade ini.”

Setelah skor akhir memastikan Shaidorov sebagai juara, Malinin menghampirinya dan memeluknya. “Kamu pantas mendapatkannya,” ucap Malinin kepada sang juara.

Shaidorov menegaskan akan terus mendukung Malinin di masa mendatang.

“Ilia adalah atlet hebat, tetapi yang terpenting dia adalah pribadi yang luar biasa. Kami tumbuh bersama sejak junior. Kami seperti satu keluarga besar yang tidak hanya bersaing, tetapi juga membangun olahraga ini bersama,” ujarnya.

Bagi Shaidorov, emas Olimpiade ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan baru dalam kariernya dan dalam rivalitas sehat bersama para pesaingnya.

Artikel Tag: Olimpiade Musim Dingin, Milano Cortina 2026

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru