Kelemahan Sekaligus Kelebihan Marc Marquez, Tak Bisa Terima Kekalahan
Marc Marquez kecil sudah banyak memenangkan gelar juara
Berita MotoGP: Sebelum dikenal sebagai pebalap paling dominan di MotoGP, Marc Marquez harus melalui fase emosional yang berat. Kekalahan yang dulu tak bisa ia terima justru menjadi fondasi mental juara dunia.
Marc Marquez kini berada di ambang sejarah baru MotoGP. Bersama Ducati Lenovo Team, pebalap asal Spanyol itu berpeluang memecahkan sejumlah rekor pada musim 2026 setelah kembali tampil dominan usai badai cedera panjang.
Namun jalan menuju puncak tidak selalu mulus. Jauh sebelum menaklukkan kelas utama, Marc Marquez justru harus belajar satu hal paling sulit dalam hidupnya sebagai pebalap, yaitu menerima kekalahan.
Kisah itu diungkap oleh mekanik pertamanya di kelas 125 cc, Alvar Garriga, dalam buku biografi Marc The Magnificent karya Mat Oxley. Garriga menggambarkan Marquez muda sebagai sosok yang hampir tidak bisa menerima finis kedua.
“Jika Marc kalah, dia bisa menangis seharian penuh. Tidak ada cara untuk menenangkannya,” ujar Garriga. “Bagi Marc, posisi kedua seperti masuk ke neraka. Yang paling sulit adalah dia harus belajar untuk kalah.”
Garriga mengakui, membentuk mental Marquez saat itu bukan perkara mudah. Ia mencoba menanamkan pemahaman bahwa olahraga tidak selalu tentang menang, tetapi juga tentang menerima kekalahan sebagai bagian dari proses.
“Saya bilang padanya, dalam olahraga ada menang dan kalah. Saya hanya ingin dia mengerti itu,” lanjut Garriga. Namun Marquez muda tetap keras kepala dan tidak pernah benar benar berdamai dengan kekalahan.
Mental itulah yang kemudian menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, Marquez dikenal sebagai pebalap dengan gaya agresif dan berani mengambil risiko. Di sisi lain, karakter tersebut membuatnya tumbuh menjadi pesaing yang sangat sulit dikalahkan.
Buktinya terlihat sejak kelas 125 cc. Setelah menjalani musim debut pada 2008 di usia 15 tahun dan meraih podium pertamanya, Marquez terus berkembang. Ia semakin matang pada 2009, lalu mendominasi musim 2010 dengan memenangi sebagian besar balapan.
Pelajaran pahit soal kekalahan di kelas kecil membuat Marquez lebih siap ketika melangkah ke MotoGP. Ia tidak perlu banyak penyesuaian mental karena sudah terbiasa hidup dengan tekanan ekstrem.
CEO MotoGP Carmelo Ezpeleta bahkan menyebut Marquez sebagai figur pemimpin yang dibutuhkan kejuaraan. Sosok yang mampu menarik perhatian publik sekaligus menetapkan standar baru di lintasan.
Kini di usia matang dan dengan pengalaman cedera berat, Marc Marquez terlihat lebih seimbang. Risiko tetap menjadi bagian dari dirinya, tetapi dengan perhitungan yang lebih matang. Justru pelajaran tentang kekalahan di masa muda itulah yang membentuknya menjadi legenda MotoGP seperti sekarang.
Artikel Tag: Marc Marquez, Ducati, MotoGP 2026