Dari Sparring “Pangeran” ke Duel Raja: Teofimo Lopez vs Shakur Stevenson
Shakur Stevenson (kanan) dan Teofimo Lopez Jr. (Foto: Fight TV)
Pada awal musim semi 2016 di sebuah sasana padat di Miami, dua remaja bertalenta besar pernah berbagi ring tanpa sorotan kamera dunia: Shakur Stevenson dan Teofimo Lopez Jr.
Saat itu, Stevenson dan Lopez hanyalah calon bintang amatir yang sama-sama membidik Olimpiade.
Hampir satu dekade kemudian, keduanya akan bertarung bukan sekadar untuk menang, melainkan untuk menegaskan siapa raja sejati tinju generasi mereka.
Hari itu, Shakur Stevenson —18 tahun dengan wajah polos khas remaja—mencuri perhatian pelatih veteran Herman Caicedo.
Ia menjalani puluhan ronde sparring tanpa terlihat lelah, menghadapi petinju-petinju berpengalaman lintas kelas dan negara. Stevenson tampil matang, rapi, dan nyaris tanpa kesalahan.
Namun, sesi pamungkas mempertemukannya dengan Lopez, petinju ringan yang juga sama mudanya, sedikit lebih eksplosif, dan penuh tenaga.
Siapa yang lebih unggul? Hingga kini, kisah itu tetap subjektif—seperti kartu penilaian juri tinju.
Sparring memang bukan segalanya, tetapi pertemuan itu menjadi potret awal dua jalur karier yang kontras.
Shakur Stevenson tumbuh sebagai petinju rasional, obsesif pada teknik, jarak, dan pertahanan.
Ia dikenal sebagai petinju defensif terbaik di generasinya—sulit disentuh, sulit dipermalukan, dan karenanya sering dihindari. Kemenangannya mungkin tak selalu sensasional, tetapi efisien dan dominan.
Sebaliknya, Teofimo Lopez Jr berkembang sebagai figur karismatik dan penuh drama. Ia gemar menantang yang terbaik, bahkan ketika peluang tak memihak.
Kemenangannya atas Vasiliy Lomachenko dan Josh Taylor menegaskan mentalitas petarung besar—berani mengambil risiko dan percaya pada insting.
Teofimo Lopez Jr sering tampil sebagai underdog, posisi yang justru kerap memantik performa terbaiknya.
Kini, keduanya berada di puncak usia emas, sama-sama 28 tahun, dengan résumé terdalam di generasi mereka.
Pertarungan ini bukan nostalgia sparring lama, melainkan duel penentuan arah era. Stevenson ingin mengukuhkan diri sebagai penerus dominasi teknis ala Floyd Mayweather Jr.
Sementara Lopez ingin kembali membuktikan bahwa keberanian dan ledakan bisa meruntuhkan kalkulasi paling rapi sekalipun.
Jika dulu mereka “pangeran” yang belajar di balik pintu sasana, kini mereka bertarung di panggung terbesar. Yang satu selamanya akan dikenang sebagai raja.
Artikel Tag: Shakur Stevenson, Floyd Mayweather Jr