Moses Itauma Kalah, Taktik Sang Pelatih Jadi Sorotan
Moses Itauma
Berita Tinju - Moses Itauma gagal mewujudkan ambisinya menjadi juara dunia kelas berat termuda sejak Mike Tyson pada 1986. Petinju Inggris berusia 21 tahun itu justru mengalami kekalahan pertama dalam karier profesional setelah dihentikan Filip Hrgovic dalam pertarungan perebutan gelar IBF kelas berat di O2 Arena, London.
Itauma sebenarnya memulai pertarungan dengan sangat meyakinkan. Ia menjatuhkan Hrgovic pada ronde kedua dan mendominasi sebagian besar pertandingan. Namun, keinginan untuk segera mengakhiri pertarungan justru menjadi bumerang.
Itauma terus melepaskan pukulan keras dengan intensitas tinggi dan berusaha mencari kemenangan KO. Strategi tersebut membuat energinya terkuras terlalu cepat hingga memasuki ronde kesembilan.
Hrgovic yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak kemudian mampu membalikkan keadaan. Ketika Itauma mulai kehabisan tenaga, petinju Kroasia tersebut melancarkan serangan bertubi tubi hingga wasit Howard Foster menghentikan pertarungan.
Kemenangan itu membuat Hrgovic merebut gelar IBF yang sebelumnya ditinggalkan Oleksandr Usyk. Ia sekaligus mencatat sejarah sebagai petinju Kroasia pertama yang menjadi juara dunia kelas berat.
Setelah kekalahan tersebut, Audley Harrison langsung memberikan evaluasi terhadap penampilan Itauma. Mantan juara Eropa kelas berat itu menilai Itauma memang menunjukkan keberanian untuk mengambil risiko, tetapi strategi yang digunakan sepanjang pertarungan patut dipertanyakan.
"Moses berani mengambil kesempatan untuk menjadi besar. Tetapi apakah taktiknya sudah tepat? Tidak. Saya memikirkan hal yang sama ketika Anthony Joshua menghadapi Daniel Dubois. Dari sudut pandang kepelatihan, saya rasa Ben tidak mendapatkan pendekatan taktis yang tepat dalam pertarungan besar," ujar Harrison.
Harrison kemudian mempertanyakan pengalaman Ben Davison sebagai petinju ketika memberikan instruksi kepada anak asuhnya dalam pertarungan dengan tekanan tinggi.
"Jika Anda sendiri belum pernah bertinju, bagaimana bisa membimbing seorang petarung melewati situasi seperti itu? Saya tahu Ben pernah bertinju sedikit sebagai amatir, tetapi menurut saya sudut pandangnya tidak tepat dan itu mulai menjadi masalah bagi para petinjunya," katanya.
Kritik tersebut bukan hanya ditujukan kepada Moses Itauma. Harrison meminta tim di sekitar Itauma memastikan kekalahan ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja.
"Moses tidak bisa begitu saja kembali bertanding seolah tidak terjadi apa apa. Dia membutuhkan waktu untuk merenung, sementara orang orang terdekatnya harus membantu menemukan kembali kegembiraannya dan melewati kemunduran ini," ujar Harrison.
Harrison sendiri merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah tinju Inggris. Ia memenangkan medali emas Olimpiade pada 2000 sebelum menjadi juara Eropa kelas berat dan kemudian menantang David Haye untuk gelar WBA pada 2010.
Meski demikian, kritik Harrison terhadap Davison perlu dilihat dalam konteks pertarungan Itauma. Kekalahan tersebut tidak sepenuhnya sama dengan kekalahan Anthony Joshua dari Daniel Dubois pada 2024, ketika Davison juga berada di sudut Joshua.
Masalah paling jelas bagi Itauma melawan Hrgovic adalah bagaimana ia mengatur tenaga untuk pertarungan 12 ronde. Dominasi pada ronde ronde awal akhirnya tidak berarti banyak ketika stamina habis dan Hrgovic mampu mengambil alih pertandingan.
Moses Itauma disebut ingin segera kembali bertanding di level tinggi. Namun, setelah kekalahan pertama dalam kariernya, keputusan mengenai kapan dan bagaimana ia kembali akan menjadi bagian penting dari proses kebangkitan petinju muda tersebut.
Artikel Tag: IBF, Ben Davison, Heavyweight, Filip Hrgovic