Pernah Taklukkan Royal Birkdale, Jordan Spieth Incar Gelar The Open 2026
Jordan Spieth
Berita Golf- Jordan Spieth kembali menginjakkan kaki di Royal Birkdale dengan membawa kenangan yang sulit dilupakan. Di lapangan inilah ia meraih gelar The Open Championship 2017, kemenangan yang menjadikannya salah satu pegolf termuda dalam sejarah yang mampu menjuarai tiga turnamen mayor sebelum usia 24 tahun, sejajar dengan legenda golf Jack Nicklaus.
Namun, perjalanan Spieth setelah sukses tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Sejak mengangkat Claret Jug sembilan tahun lalu, ia hanya menambah dua gelar PGA Tour dan belum lagi memenangkan turnamen mayor. Cedera, inkonsistensi permainan, serta persaingan yang semakin ketat membuat namanya tak lagi mendominasi seperti pada awal kariernya.
Kini, Spieth kembali ke Royal Birkdale sebagai pegolf yang jauh lebih matang. Usianya telah menginjak 32 tahun dan ia merasa telah banyak berubah, baik sebagai atlet maupun sebagai pribadi.
"Saya sudah sangat berbeda, baik di dalam maupun di luar lapangan. Banyak hal yang berubah dalam hidup saya," ujar Spieth.
Saat menjalani putaran latihan, Spieth sengaja mengunjungi kembali beberapa titik yang pernah menjadi saksi kemenangan bersejarahnya pada 2017. Ia bahkan mencoba melakukan putting ke arah pin yang sama seperti saat memastikan gelar juara sembilan tahun silam.
Meski demikian, Royal Birkdale kini tidak lagi identik dengan lapangan yang ia taklukkan dahulu. Sejumlah renovasi telah mengubah karakter beberapa hole ikonik.
Area di sisi kanan hole 13, tempat Spieth pernah melakukan penyelamatan luar biasa setelah pukulan tee menyasar driving range, kini ditetapkan sebagai area out of bounds. Hole 14 yang dulu menghasilkan pukulan iron terbaik dalam kariernya juga telah dihapus dari desain lapangan, sementara hole berikutnya mengalami perubahan posisi green.
"Beberapa hole penutup sudah berubah. Pukulan enam iron di hole 14 dan eagle putt di hole berikutnya mungkin menjadi pukulan dan putt terbaik dalam karier saya. Sekarang hole itu sudah berbeda. Mudah mudahan saya bisa menciptakan kenangan baru di sini," katanya.
Meski hasil musim ini belum memuaskan, Jordan Spieth tetap optimistis. Dari 18 turnamen yang diikutinya, ia berhasil lolos cut sebanyak 16 kali dan mencatat delapan finis di posisi 25 besar. Namun, ia belum sekalipun menembus 10 besar.
Menurut Spieth, kualitas permainannya sebenarnya lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Hanya saja, hasil di lapangan belum mencerminkan peningkatan tersebut.
"Saya merasa masih memiliki banyak golf terbaik di depan saya. Saya justru lebih optimistis dibanding beberapa fase lain dalam karier. Permainan saya sebenarnya lebih baik daripada empat atau lima tahun lalu, hanya saja hasilnya belum terlihat," ungkapnya.
Spieth juga menolak menganggap masa terbaiknya telah berlalu. Ia mencontohkan Phil Mickelson yang baru meraih gelar mayor pertamanya pada usia 34 tahun dan tetap mampu bersaing hingga usia 50 tahun.
"Saya tahu level terbaik saya seperti apa karena saya pernah mencapainya. Itu yang akan terus saya kejar, meski sekarang saya sudah menjadi pemain yang berbeda," ujar juara tiga kali turnamen mayor tersebut.
Kembalinya Jordan Spieth ke Royal Birkdale bukan sekadar perjalanan bernostalgia. Pegolf asal Amerika Serikat itu datang dengan keyakinan bahwa lapangan yang pernah mengubah hidupnya masih bisa menjadi awal dari babak baru dalam kariernya.
Artikel Tag: Jordan Spieth, jack nicklaus, the open championship, Royal Birkdale