Seniman di Balik Helm Terlarang Sebut Aksi Vladyslav Heraskevych “Heroik”
Ide desain helm datang dari Vladyslav Heraskevych sendiri dan ayahnya, sahabat lama Iryna Prots, meminta sang seniman untuk mewujudkannya. (Foto: AP)
Seniman asal Ukraina, Iryna Prots adalah sosok di balik lukisan potret lebih dari 20 atlet dan pelatih Ukraina yang tewas sejak Rusia melancarkan invasi penuh pada 2022 pada helm Vladyslav Heraskevych.
Prots menyebut keputusan atlet skeleton itu untuk tetap mengenakan helm bergambar para korban perang sebagai bentuk keberanian luar biasa, meski berujung pada larangan tampil di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026.
Helm tersebut memicu perhatian internasional setelah International Olympic Committee (IOC) menyatakan desain itu melanggar aturan larangan pesan politik di arena Olimpiade.
Vladyslav Heraskevych tetap bersikeras memakainya dan akhirnya dilarang bertanding.
“Dia bisa saja menyerah dan memilih helm lain demi mengejar medali. Tapi dia tidak melakukannya. Berdiri untuk kebenarannya adalah tindakan heroik,” ujar Prots dari kediamannya di Kyiv.
Ide desain helm datang dari Vladyslav Heraskevych sendiri. Ayahnya, sahabat lama Prots, meminta sang seniman untuk mewujudkannya.
Prots mengaku proyek itu harus diselesaikan tepat waktu menjelang Olimpiade, sekaligus menjadi penghormatan bagi para atlet yang seharusnya masih bisa berkompetisi di panggung dunia.
Proyek tersebut sangat berbeda dari karya Prots biasanya. Ia dikenal lewat lukisan lanskap Tuscany yang rutin dipamerkan di galeri kecil di Montepulciano, Italia.
Ia kerap mengunjungi Italia beberapa kali dalam setahun dan menilai banyak warga Eropa belum sepenuhnya memahami realitas perang di Ukraina.
“Ketika perang terjadi jauh dari kehidupan kita, orang bisa terbiasa. Mereka punya kehidupan masing-masing. Tapi kami berjuang setiap hari untuk bertahan hidup,” katanya.
Melukis potret para atlet dan pelatih yang gugur menjadi pengalaman emosional bagi Prots. Baginya, kehilangan itu bukan sekadar angka, melainkan hilangnya generasi juara dan pembina atlet masa depan.
Ia berharap kisah mereka dikenal dunia, terutama ketika ajang olahraga internasional tetap berlangsung di tengah perang.
“Olimpiade seharusnya melambangkan perdamaian. Sulit bagi saya melihat perayaan dan nyanyian, sementara kami hidup di bawah sirene dan bom,” ujarnya.
Meski Kyiv terus menghadapi serangan udara, Prots menegaskan akan terus melukis.
Baginya, menggambar keindahan alam adalah bentuk perlawanan batin — keyakinan bahwa suatu hari nanti, suara burung akan kembali terdengar, bukan sirene perang.
Artikel Tag: Olimpiade Musim Dingin, Milano Cortina 2026