Dilema Pemain NHL Rusia Tatap Olimpiade: Antara Impian, Politik dan Realita
Salah satu pemain NHL Rusia adalah Nikita Zadorov. (Foto: AP)
Memasuki usia 30 tahun sering kali menjadi momen refleksi bagi seorang atlet. Hal itu pula yang dirasakan pemain NHL Boston Bruins, Nikita Zadorov.
Setelah 13 musim berkarier di NHL dan menjelma menjadi pemain bertahan papan atas, ada satu pengalaman besar yang belum pernah ia rasakan: membela Rusia di Olimpiade.
Kini, Zadorov mulai mempertanyakan apakah kesempatan itu akan pernah datang.
Para pemain NHL telah absen dari tiga Olimpiade terakhir, dan situasi semakin rumit bagi pemain Rusia.
Zadorov mengakui kekecewaannya, namun juga memahami realitas politik global.
Perang di Ukraina dan sanksi internasional membuat Rusia tetap diskors oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC), sementara Federasi Hoki Es Internasional (IIHF) menegaskan Rusia dan Belarus belum aman untuk kembali ke kompetisi internasional.
Bagi banyak pemain, Olimpiade bukan sekadar turnamen. Kesempatan membela negara di panggung dunia sering disandingkan, bahkan melebihi, Final Piala Stanley.
Winger Columbus Blue Jackets, Kirill Marchenko, menyebut situasi ini terasa pahit.
Antusiasme Olimpiade meluap di seluruh dunia, kecuali bagi pemain Rusia yang hanya bisa membayangkan bagaimana kuatnya tim mereka seandainya diizinkan tampil.
Absennya Rusia juga terasa janggal bagi penggemar hoki.
Sebagai salah satu negara tersukses dalam sejarah olahraga ini, ketiadaan Rusia mengurangi nuansa “best-on-best” yang diidamkan banyak pihak.
Meski NHL dan NHLPA telah membawa pemain kembali ke Olimpiade serta memperkenalkan turnamen seperti 4 Nations Face-Off dan menghidupkan kembali Piala Dunia Hoki, bayang-bayang Rusia yang absen tetap terasa.
Zadorov bahkan mengungkapkan gagasan kompromi: Rusia tampil tanpa bendera dan lagu kebangsaan.
Menurutnya, mayoritas pemain Rusia akan menerima skenario tersebut demi merasakan persaingan terbaik melawan terbaik.
Ia juga mengaku banyak pemain dari negara lain ingin menghadapi Rusia di level tertinggi.
Namun, para pemain sadar bahwa situasi ini berada di luar kendali mereka. Dmitry Orlov, bek San Jose Sharks, menyebut ini sebagai persilangan pahit antara politik dan olahraga.
Ia memilih fokus pada karier sebagai pemain NHL sembari berharap Olimpiade berikutnya memberi kesempatan berbeda.
Rasa frustrasi kian bertambah karena keyakinan bahwa Rusia sebenarnya memiliki tim yang mampu meraih medali, bahkan emas.
Proyeksi roster Olimpiade Rusia dipenuhi nama besar seperti Alexander Ovechkin, Nikita Kucherov, Artemi Panarin, hingga kiper elite seperti Andrei Vasilevskiy dan Igor Shesterkin.
Bagi generasi veteran, ini mungkin menjadi kesempatan terakhir yang terlewat.
Meski demikian, kecintaan pada hoki tetap mengalahkan kekecewaan. Para pemain NHL Rusia mengaku tetap akan menonton Olimpiade, menikmati duel para bintang dunia, dan belajar dari level permainan tertinggi.
Di tengah keterbatasan, mereka masih menyimpan harapan: suatu hari nanti, es Olimpiade kembali memberi ruang bagi Rusia untuk tampil, bukan sebagai simbol politik, melainkan sebagai tim hoki kelas dunia.