Caster Semenya Kritik Larangan Atlet Transgender Tampil di Ajang Olimpiade
Caster Semenya menilai keputusan tersebut tidak mempertimbangkan realitas biologis dan sosial, khususnya bagi perempuan dari kawasan global Selatan. (Foto: AP)
Caster Semenya menyampaikan kekecewaannya terhadap International Olympic Committee dan presidennya, Kirsty Coventry, menyusul kebijakan terbaru yang melarang atlet transgender tampil di Olimpiade.
Pernyataan itu disampaikan Semenya pada Minggu (29/3), tiga hari setelah IOC merilis kebijakan yang mengecualikan atlet transgender perempuan dari nomor perempuan di Olimpiade maupun ajang di bawah naungannya.
Semenya, juara Olimpiade dua kali nomor 800 meter, menilai keputusan tersebut tidak mempertimbangkan realitas biologis dan sosial, khususnya bagi perempuan dari kawasan global Selatan.
Ia mengaku berharap lebih dari Coventry sebagai pemimpin perempuan asal Afrika.
“Sebagai pemimpin dari Afrika, saya pikir dia memahami bahwa kita tidak bisa mengontrol genetika,” kata Caster Semenya dalam konferensi pers di sela ajang lari di Cape Town.
Selain melarang atlet transgender, kebijakan tersebut juga membatasi atlet perempuan dengan kondisi perbedaan perkembangan seks (differences in sex development/DSD), seperti yang dialami Semenya.
Selama ini, ia diketahui memiliki kadar testosteron lebih tinggi dari rata-rata perempuan.
Sejak 2019, Caster Semenya tidak lagi bisa tampil di nomor andalannya di ajang besar seperti Olimpiade dan kejuaraan dunia karena menolak mengonsumsi obat untuk menurunkan kadar hormon secara artifisial.
Ia juga mempertanyakan dasar ilmiah dari kebijakan IOC. Menurutnya, jika keputusan tersebut didasarkan pada sains, maka proses dan pihak yang terlibat harus dijelaskan secara transparan.
“Kalau memang sainsnya jelas, tunjukkan siapa yang memutuskan. Jangan disamarkan, karena kami tahu kenyataannya,” ujarnya.
Semenya menilai proses konsultasi yang dilakukan IOC tidak benar-benar melibatkan suara atlet secara substansial. Ia menyebutnya sekadar formalitas untuk memenuhi prosedur.
Kebijakan baru IOC ini akan mulai berlaku pada Olimpiade Los Angeles 2028.
Dalam pernyataannya, IOC menegaskan aturan tersebut bertujuan menjaga keadilan, keselamatan, dan integritas kompetisi di kategori perempuan.
Sebelumnya, sejumlah cabang olahraga seperti atletik, renang, dan balap sepeda juga telah lebih dulu membatasi partisipasi atlet transgender perempuan, terutama yang telah mengalami pubertas sebagai laki-laki.
Meski demikian, belum ada kejelasan mengenai jumlah atlet transgender yang benar-benar bersaing di level Olimpiade.
Pada Olimpiade Tokyo 2021, hanya satu atlet transgender perempuan yang tampil, yaitu Laurel Hubbard, dan tidak meraih medali.
Perdebatan mengenai regulasi ini diperkirakan akan terus berlanjut menjelang Olimpiade berikutnya, seiring meningkatnya perhatian terhadap isu inklusivitas dan keadilan dalam olahraga.
Artikel Tag: olimpiade, IOC, caster semenya