Bangkit Lebih Dewasa, Milan Prat Bidik Nama-Nama Besar di Kelas 154 Pound
Setelah kembali merebut juara Eropa pada November lalu, Milan Prat melakukan perjalanan spiritual ke Mekah untuk menunaikan Umrah. (Foto: AP)
Perjalanan karier Milan Prat sempat melaju mulus sebelum akhirnya tersandung di satu titik yang mengubah segalanya.
Petinju asal Prancis itu merebut gelar juara Eropa pada 2022 dan melaju tanpa cela dalam 20 pertarungan profesional, sebelum rekor tak terkalahkannya terhenti secara mengejutkan oleh Slawa Spomer melalui TKO ronde ke-10 pada Oktober 2023.
Kekalahan itu menjadi pukulan berat, namun juga pelajaran berharga. Setelah melalui proses panjang dan melelahkan, Prat kini kembali berdiri tegak.
Sembilan kemenangan kemudian, lebih dari dua tahun sejak satu-satunya kekalahan dalam kariernya, ia merasa jauh lebih matang sebagai petinju dan sebagai pribadi.
“Kekalahan itu sangat berat, apalagi karena kesalahan saya sendiri,” ujar Milan Prat (29-1, 23 KO).
Ia mengakui kesalahan fatal dalam manajemen berat badan—cutting terlalu ekstrem dan rehidrasi yang buruk—yang berujung pada performa terburuk dalam kariernya.
Ia juga menyesali kepercayaan diri berlebih dan keputusan mempersiapkan diri di Prancis bersama keluarga, alih-alih berlatih secara terisolasi di Amerika seperti biasanya.
Kebangkitan Milan Prat tak lepas dari peran pelatih Bobby Benton, sosok yang dikenalnya sejak 2022 dan mulai bekerja penuh bersamanya sejak 2024.
Sejak itu, hasilnya berbicara lantang: enam kemenangan beruntun yang semuanya diraih sebelum batas akhir.
Puncaknya, Prat merebut kembali gelar juara Eropa lewat kemenangan TKO ronde kesembilan atas Jan Helin pada 22 November.
Setelah kemenangan tersebut, ia melakukan perjalanan spiritual ke Mekah untuk menunaikan Umrah.
“Agama punya tempat penting dalam hidup dan karier saya. Tanpanya, semua ini tidak mungkin terjadi,” kata Milan Prat.
Ia merasa lebih membumi, lebih fokus, dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya.
Kini, ambisinya tak lagi main-main. Ia secara terbuka menantang nama-nama besar di kelas junior middleweight seperti Bakhram Murtazaliev, Xander Zayas, Abass Baraou, hingga Tim Tszyu.
Namun sebelum melangkah ke level dunia, Prat kemungkinan harus mempertahankan gelar Eropanya melawan kompatriotnya, Reda Kham, jika kesepakatan tercapai sebelum tenggat waktu.
“Saya ingin menjadi juara dunia,” tegas Prat. “Dan lewat kerja keras serta izin Tuhan, saya yakin itu akan tercapai.”
Artikel Tag: Prancis, Xander Zayas