Yasin Ayari Jadi Bintang Swedia, Tunisia Menyesali Kehilangan Talenta Besar
Yasin Ayari kembali jadi sorotan setelah memilih membela Swedia. (Foto: Julio Cesar AGUILAR / AFP via Getty Images)
Berita Piala Dunia: Gelandang Swedia, Yasin Ayari, kembali menjadi pembicaraan setelah mencetak dua gol spektakuler dalam kemenangan 5-1 atas Tunisia pada Senin (15/6/2026) di Grup F Piala Dunia 2026. Ayari yang memiliki darah Tunisia dan Maroko itu kini dianggap sebagai salah satu contoh terbesar talenta keturunan yang gagal dipertahankan oleh Tunisia.
Pemain berusia 22 tahun tersebut lahir di Solna, Swedia, dari ayah berkebangsaan Tunisia dan ibu asal Maroko. Penampilannya bersama AIK membawanya bergabung dengan Brighton pada 2023 sebelum sempat dipinjamkan ke Coventry City dan Blackburn Rovers. Pada musim yang baru berakhir, ia berhasil menembus tim utama Brighton dan menunjukkan perkembangan pesat.
Mantan pemain tim nasional Tunisia, Houssem Haj Ali, mengaku kecewa melihat Ayari berkembang menjadi salah satu pemain penting Swedia. Menurutnya, situasi tersebut seharusnya bisa berbeda apabila Ayari memilih membela Tunisia. Dalam wawancara dengan AFP, Haj Ali mengatakan, "Tentu saja ini menjadi kepahitan besar. Situasinya bisa saja berbeda jika Yasin mengenakan seragam Tunisia."
Haj Ali menilai federasi dan sistem sepak bola Tunisia perlu mengambil pelajaran dari kasus tersebut. Ia khawatir semakin banyak pemain keturunan Tunisia yang memilih negara lain jika tidak ada perubahan dalam pendekatan yang dilakukan.
Membahas hal tersebut, Haj Ali mengatakan, "Kami harus menciptakan kondisi yang memungkinkan pemain keturunan Tunisia ingin mewakili negaranya. Saya tidak hanya berbicara tentang federasi sepak bola Tunisia, tetapi juga sistem secara keseluruhan."
Yasin Ayari bukan satu-satunya pemain yang gagal dipertahankan Tunisia. Haj Ali juga menyinggung kasus Louey Ben Farhat dari klub Jerman Karlsruhe yang sebelumnya masuk skuad Tunisia untuk Piala Dunia 2026 tetapi akhirnya menolak panggilan tersebut.
Membandingkan kedua kasus itu, Haj Ali mengatakan, "Dengan cara yang sama seperti kami kehilangan Louey Ben Farhat yang menolak panggilan tim nasional meskipun sudah bermain dalam dua laga persahabatan melawan Haiti dan Kanada, kami juga kehilangan Ayari."
Sementara itu, Ayari mengaku sangat bangga bisa membantu Swedia meraih awal terbaik mereka di Piala Dunia. Ia menyebut dua gol yang dicetak ke gawang Tunisia menjadi salah satu momen paling spesial dalam kariernya.
Membahas penampilannya, Ayari mengatakan, "Saya sudah terbiasa mencetak gol-gol indah, tetapi mencetak dua gol dalam satu pertandingan, terlebih pada penampilan pertama saya di Piala Dunia melawan Tunisia, adalah sesuatu yang luar biasa bagi saya."
Meski demikian, Yasin Ayari tidak menutupi ikatan emosionalnya dengan Tunisia. Ia mengaku masih memiliki hubungan yang sangat dekat dengan negara asal ayahnya dan rutin mengunjunginya setiap tahun.
Mengenai perasaannya setelah mencetak gol ke gawang Tunisia, Ayari mengatakan, "Itu emosional karena Tunisia adalah negara yang membuat saya memiliki rasa kedekatan dan emosi yang kuat, serta tempat yang saya kunjungi setiap musim panas."
Ketika ditanya mengenai reaksi sang ayah setelah Tunisia kalah telak, Yasin Ayari memilih memberikan jawaban diplomatis. "Dia tentu senang untuk saya, tetapi saya lebih suka jika Anda menanyakan langsung kepadanya," ujar Ayari.
Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) sebenarnya pernah berusaha merekrut Ayari saat masih remaja pada 2021. Bahkan, ia disebut ditawari kesempatan masuk skuad Piala Dunia 2022 jika bersedia mengganti afiliasi sepak bolanya. Namun, Ayari akhirnya memilih Swedia dengan dukungan penuh dari ayahnya, Azzouz Ayari.
Dalam wawancara dengan surat kabar Swedia Aftonbladet, Azzouz Ayari mengatakan, "Saya ingin dia bermain untuk Swedia. Dia harus membalas kepada negara yang telah mendukungnya."
Kini Ayari berpotensi menjadi salah satu bintang baru Swedia di Piala Dunia 2026. Bahkan adiknya, Taha Ayari, yang saat ini bermain untuk AIK dan pernah membela timnas Swedia U-21, disebut berpeluang mengikuti jejak sang kakak untuk mengenakan seragam kuning-biru Swedia di masa depan.
Artikel Tag: Swedia, Piala Dunia, Tunisia, Piala Dunia 2026, Yasin Ayari