Valentin Vacherot Jelaskan Mengapa Novak Djokovic Begitu Lihai
Valentin Vacherot [kiri] dan Novak Djokovic [kanan] [image: getty images]
Berita Tenis: Petenis berkebangsaan Serbia, Novak Djokovic mengalahkan Valentin Vacherot dengan tiga set di babak pertama Paris Masters musim 2026.
Djokovic sempat tertinggal dengan satu set dan satu peluang break, tetapi berhasil bangkit untuk mengamankan satu tempat di babak kedua Paris Masters. Setelah kalah dalam pertemuan pertama mereka sebelumnya, petenis berkebangsaan Serbia kini menaklukkan petenis berkebangsaan Monako di Paris, sehingga menyamakan head to head mereka menjadi 1-1.
Petenis berusia 27 tahun tentu merasa kecewa dengan kekalahan tersebut, apa yang sebenarnya terjadi pada sang petenis? Saat berbicara kepada media Prancis usai pertandingan, ia memberikan penilaiannya mengenai apa yang terjadi saat menghadapi Djokovic.
“Saya merasa frustrasi, tetapi itulah tenis, selamat untuknya! Ia tidak melakukan satu kesalahan pun, ia benar-benar menguji saya hingga ke batas kemampuan, sampai ke titik di mana saya hampir menyerah, dan secara mental saya benar-benar terkuras habis. Secara fisik, saya masih mampu bertahan, tetapi pikiran sayalah yang justru tidak lagi mendukung,” jelas Vacherot.
Juara di Basel musim 2026 melanjutkan penjelasannya, menyoroti apa yang perlu ia tingkatkan agar dapat bersaing lebih baik melawan petenis kelas dunia seperti Djokovic, menyusul kiprahnya yang berakhir di Paris Masters.
“Saya belum cukup sering bertanding melawan petenis elite. Saya belum pernah menghadapi Jannik Sinner dan meskipun saya sempat sekali melawan Carlos Alcaraz — di mana saya merasakan kembali euforia seperti saat semifinal Monte Carlo Open di kandang sendiri — menghadapi Novak adalah hal yang benar-benar berbeda,” lanjut Vacherot.
Petenis peringkat 27 dunia mencatatkan rekor 5-5 usai menghadapi petenis peringkat 10 besar. Tetapi, jika dicermati lebih dalam, pernyataannya menjadi lebih masuk akal. Ia tercatat baru melakoni dua pertandingan melawan petenis yang menempati peringkat 1 sampai 4 dunia, dan ia kalah di kedua laga tersebut.
Djokovic mengeksploitasi kurangnya pengalaman petenis berkebangsaan Monako di Paris Masters, saat ia kesulitan mempertahankan keunggulan yang telah ia perjuangkan dengan susah payah. Setelah pertandingan, ia pun melontarkan pujian kepada petenis berkebangsaan Serbia, meski ia harus mengakui kekalahan dari "petenis dengan gelar terbanyak dalam sejarah".
"Tidak banyak penonton yang mendukung saya dan ia memanfaatkan situasi itu. Anda seperti tengah menghadapi sebuah gunung, bukan sekadar seorang petenis. Untuk sebagian besar jalannya pertandingan, saya berhasil tetap fokus pada diri sendiri,” tutur Vacherot.
“Namun, setelah satu set berlalu dan terjadi saling balas peluang break, saat ia mulai berhenti melakukan kesalahan, perhatian anda pun lebih tertuju padanya. Di situlah segalanya menjadi jauh lebih sulit. Karena ia adalah petenis dengan gelar terbanyak dalam sejarah tenis."
Artikel Tag: Novak Djokovic, paris masters