Bukan Dirinya, Naseem Hamed Sebut Robinson dan Ali Petinju Terhebat
Naseem Hamed
Berita Tinju: Naseem Hamed selalu identik dengan gaya flamboyan, kecepatan tangan luar biasa, serta knockout spektakuler. Pada era 1990 an, petinju berjuluk Prince itu menghidupkan kembali divisi kelas bulu yang sempat kehilangan sorotan. Aksinya di atas ring bukan sekadar soal kemenangan, tetapi juga hiburan yang membuatnya menjadi ikon tinju Inggris.
Hamed merebut sabuk WBO kelas bulu setelah mengalahkan Steve Robinson, lalu mencatatkan 15 kali pertahanan gelar. Ia juga menyatukan kejayaan dengan meraih sabuk IBF dan WBC di kelas 126 pon. Kemenangan atas Kevin Kelley dan Tom Johnson menjadi bagian penting dari warisannya, sebelum akhirnya ia memutuskan pensiun pada 2002 dengan rekor impresif.
Meski memiliki karier gemilang dan pengaruh besar terhadap generasi petinju Inggris setelahnya, Hamed tidak menempatkan dirinya dalam daftar teratas petinju terhebat sepanjang masa. Dalam sebuah wawancara, ia justru menyebut dua nama dari Amerika Serikat sebagai standar tertinggi dalam sejarah tinju dunia.
“Yang terbaik sepanjang masa akan selalu merujuk pada sosok yang selama ini disebut publik, itu antara Sugar Ray Robinson atau Muhammad Ali. Nama mereka sudah seperti ukiran batu, sulit tergeser,” ujarnya.
Sugar Ray Robinson memang kerap disebut sebagai pelopor konsep pound for pound. Ia mendominasi kelas welter selama tujuh tahun sebelum menjadi juara dunia kelas menengah sebanyak lima kali. Konsistensi, teknik, serta rekor panjangnya membuat banyak pengamat menempatkannya sebagai petinju paling komplet dalam sejarah.
Sementara itu, Muhammad Ali tidak hanya dikenal karena kemampuan bertinjunya, tetapi juga karisma dan dampak sosialnya. Ali adalah satu satunya petinju yang tiga kali merebut gelar juara dunia kelas berat lineal. Ia juga enam kali meraih penghargaan Fighter of the Year versi The Ring. Kemenangan atas Joe Frazier, George Foreman, dan Sonny Liston memperkuat statusnya sebagai ikon global.
Pandangan Naseem Hamed memperlihatkan bahwa bahkan seorang bintang besar tetap menaruh hormat pada sejarah. Di tengah perdebatan panjang soal siapa yang layak disebut GOAT, dua nama tersebut tampaknya tetap menjadi tolok ukur lintas generasi.
Artikel Tag: Muhammad Ali, Sugar Ray Robinson, Naseem Hamed