Matteo Berrettini Kembali Jadi Sorotan Usai Berjuang Hadapi Rintangan
Matteo Gigante [image: getty images]
Berita Tenis: Matteo Berrettini membuktikan orang-orang yang meragukannya salah dan ia mengenang kembali orang-orang yang mempertanyakan kemampuannya dalam olahraga ini ketika ia masih kecil.
Petenis berusia 30 tahun telah menjadi salah satu petenis top dan paling terkenal di negaranya selama beberapa musim terakhir. Sebagai runner up Wimbledon musim 2021, ia pernah menduduki peringkat tertinggi dalam kariernya sampai saat ini, peringkat 6 dunia dan telah memenangkan 10 gelar turnamen ATP.
Meskipun demikian, perjalanan petenis berkebangsaan Italia tidak selalu mulus, ia sempat absen selama beberapa pekan karena berbagai cedera.
Kembalinya ia ke French Open musim 2026 menandai pertama kalinya ia melakoni Grand Slam tersebut sejak musim 2021. Operasi tangan kanan pada tahun 2022, diikuti oleh masalah kebugaran selama tiga musim berikutnya, mengakibatkan ia absen dari Roland Garros. Cedera terus membuatnya frustrasi, yang harus berurusan dengan masalah perut pada bulan Januari lalu. Tetapi, ia masih memiliki kemampuan untuk menjadi salah satu yang terbaik ketika ia dalam kondisi fit.
Pekan ini, petenis berkebangsaan Italia Berrettini memenangkan babak ketiga French Open usai mengalahkan petenis berkebangsaan Argentina, Francisco Comesana dengan lima set yang berlangsung maraton lebih dari 5 jam. Kemenangan tersebut membawanya ke babak keempat Grand Slam untuk kali pertama sejak musim 2023 sekaligus mengantarkannya ke peringkat 80 besar.
“Saya selalu mengatakan bahwa olahraga ini membutuhkan waktu, momentum, dan kepercayaan diri yang anda bangun melalui pertandingan dan latihan,” tutur Berrettini.
“Berkali-kali saya merasa bahwa tubuh saya siap tetapi pikiran saya tidak, atau pikiran saya siap tetapi tubuh saya tidak, dan itu sulit, karena dibutuhkan banyak hal untuk memainkan tenis terbaik anda dan berkompetisi di level itu.”
“Pada akhir musim lalu, ketika saya bermain di Davis Cup, saya berada dalam kondisi fisik yang prima dan pada awal musim ini saya menjalani pramusim yang bagus. Sayangnya, saya kembali mengalami cedera perut di Australia dan anda memulai musim dengan keraguan, “Apakah ini akan bertahan?’”
“Saya bekerja keras untuk keluar dari pola pikir itu, sekarang saya percaya pada tubuh saya dan semua pertandingan yang saya mainkan musim ini—dari ajang Challenger hingga turnamen Masters 1000—telah memberi saya kepercayaan diri dan membawa saya ke sini untuk mencapai hasil ini.”
Menjelang French Open, hanya ada sedikit tanda bahwa petenis berkebangsaan Italia akan lolos ke pekan kedua berdasarkan hasil pertandingannya. Dalam enam turnamen clay-court yang ia lakoni, baik di turnamen ATP maupun ajang Challenger, ia memenangkan pertandingan berturut-turut di dua di antaranya. Meskipun ia mengalahkan Daniil Medvedev dengan 6-0, 6-0 dalam pertandingan yang sangat aneh di Monte Carlo Open.
Jadi, dari mana datangnya dorongan petenis berusia 30 tahun untuk menentang segala rintangan?
“Orang-orang sudah meragukan saya ketika saya bermain di U-12, mereka akan melihat saya dan berkata, ‘Anak ini beratnya hanya 20 kilo’. Saya memiliki hasil tes fisik terburuk dalam sejarah Tirrenia, tidak ada yang mau bertaruh satu euro pun pada saya, jadi, saya sudah cukup terbiasa dengan penilaian dari luar seperti itu,” jelas Berrettini.
“Perjuangan internal lebih sulit dikelola karena saya tidak pernah berhenti percaya pada kemampuan tenis saya, tetapi ada saat-saat ketika saya tidak terlalu percaya pada tubuh saya. Saya akan berpikir, ‘Mungkin saya tidak bisa melakukan ini dengan konsistensi yang dibutuhkan,’ dan keraguan mulai muncul.”
“Dengan Thomas Enqvist – pelatihnya – sejak awal, ia memberi saya kepercayaan diri yang selama ini kurang, setiap hari ia mengatakan bahwa saya adalah salah satu petenis terkuat di dunia, ia tidak mengatakannya hanya untuk sekadar mengatakannya, tetapi karena ia melihatnya.”
Di babak keempat, Berrettini akan menghadapi petenis berkebangsaan Argentina, Juan Manuel Cerundolo, yang mampu menundukkan petenis peringkat 1 dunia, Jannik Sinner di babak kedua sebelum memenangkan pertandingan berikutnya melawan Martin Landaluce dalam waktu kurang dari enam jam – pertandingan terpanjang ketiga dalam sejarah French Open.
Artikel Tag: French Open, Matteo Berrettini, Jannik Sinner, Juan Manuel Cerundolo