☰
Kanal
✕

Sergio Mendoza Persembahkan Gelar Juara Dunia untuk Mendiang Kakak

Penulis: Hanif Rusli
31 Okt 2026, 15:53 WIB

Sergio Mendoza (kiri) mampu membalikkan prediksi dengan strategi yang efektif dan persiapan matang, meskipun menerima kesempatan bertarung dalam waktu singkat. (Foto: Fight TV)

Petinju Meksiko Sergio Mendoza mengukir salah satu kejutan terbesar dalam tinju tahun ini setelah menghentikan juara kelas terbang WBA dan WBC Ricardo Sandoval pada ronde kelima, 10 Oktober.

Kemenangan tersebut mengantarkan Mendoza merebut dua gelar dunia sekaligus dan menempati peringkat ketiga kelas terbang versi The Ring.

Sergio Mendoza (28-1, 24 KO) sebelumnya tidak diunggulkan untuk mengalahkan Sandoval. Namun, ia mampu membalikkan prediksi dengan strategi yang efektif dan persiapan matang, meskipun menerima kesempatan bertarung dalam waktu singkat.

“Terima kasih banyak kepada semua orang yang membuat kemenangan ini terwujud. Saya sangat bahagia bisa memenangi dua gelar ini,” kata Mendoza kepada The Ring.

Petinju berusia 26 tahun itu menjelaskan bahwa ia mulai melihat peluang kemenangan setelah menjatuhkan Sandoval dua kali pada ronde kedua.

Sang juara bertahan mampu bangkit dari kedua knockdown tersebut, tetapi Mendoza kembali menjatuhkannya pada ronde kelima sebelum melancarkan serangan untuk mengakhiri pertarungan.

“Pada ronde kelima, saya menjatuhkannya lagi dan sejak saat itu saya merasa sudah menguasainya. Karena itu, saya langsung menyerangnya untuk mencapai tujuan,” ujarnya.

Meski kemenangan tersebut terlihat relatif mudah, Mendoza menegaskan bahwa pertarungan melawan Sandoval bukanlah laga yang ringan.

Ia menyebut kualitas lawannya serta peran strategi, latihan selama berbulan-bulan, dan arahan dari tim di sudut ring sebagai faktor penting keberhasilannya.

Sebelum menerima kesempatan menghadapi Sandoval, Sergio Mendoza sebenarnya tengah mempersiapkan diri untuk pertarungan yang dijadwalkan pada 3 Oktober.

Ia juga berstatus sebagai petinju yang tidak diunggulkan dengan peluang taruhan 5 banding 1.

Perubahan ke kelas terbang, dari sebelumnya bertarung di kelas terbang ringan, turut memberikan keuntungan. Enam bulan sebelumnya, Mendoza kalah dari pemegang gelar IBF Thanongsak Simsri di Korakuen Hall, Tokyo, Jepang.

Menurut Mendoza, bertarung di batas 112 pon membuat kondisi fisiknya lebih baik karena tidak perlu memaksakan tubuh untuk memenuhi batas 108 pon seperti saat bertarung di Jepang.

Di balik kemenangan itu, terdapat motivasi pribadi yang mendalam. Mendoza menangis setelah pertarungan karena teringat janji kepada mendiang kakaknya untuk menjadi juara dunia.

Kini, ia ingin mempertahankan gelarnya dan membangun rekam jejak melalui sejumlah pertahanan gelar sebelum mempertimbangkan naik kelas untuk mencatatkan namanya dalam sejarah tinju Meksiko.

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru