Owen Ansah Raih Emas 200 Meter di Tengah Ancaman Sanksi Doping
Owen Ansah menjadi yang tercepat dalam final di Alexander Stadium dengan catatan waktu 19,95 detik. (Foto: AP)
Sprinter Jerman Owen Ansah meraih medali emas nomor 200 meter pada Kejuaraan Eropa, Jumat (14/8), meski tengah menghadapi ancaman larangan bertanding akibat dugaan pelanggaran prosedur tes doping.
Ansah menjadi yang tercepat dalam final di Alexander Stadium dengan catatan waktu 19,95 detik. Hasil tersebut melengkapi medali perunggu yang diraihnya pada nomor 100 meter tiga hari sebelumnya.
“Saya berharap sekarang semua orang tahu nama saya. Ini adalah tujuan saya, meninggalkan Kejuaraan Eropa dengan dua medali. Perunggu dan emas adalah sesuatu yang luar biasa bagi saya,” kata Owen Ansah.
Sprinter tersebut mengatakan nomor 200 meter memang menjadi target utamanya di ajang tahun ini.
“Nomor 200 meter selalu menjadi tujuan utama. Perlombaan ini lebih berarti bagi saya. Dalam sebuah kejuaraan, Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya.
Namun, keberhasilan Owen Ansah di Birmingham berlangsung di tengah persoalan yang dapat mengancam kelanjutan kariernya.
Pekan lalu, Badan Antidoping Nasional Jerman (NADA Germany) menuduh Ansah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 2.3 Kode Antidoping Nasional Jerman, yang berkaitan dengan penolakan atau kegagalan memberikan sampel untuk pemeriksaan doping.
Meski demikian, Ansah belum dikenai skors sementara sehingga tetap berhak mengikuti kompetisi, termasuk Kejuaraan Eropa.
NADA Germany telah mengeluarkan surat dakwaan yang merekomendasikan larangan bertanding selama empat tahun.
Ansah diberi waktu 20 hari untuk menerima temuan tersebut atau meminta proses disipliner dilanjutkan di Pengadilan Arbitrase Olahraga Jerman.
Menurut laporan media Jerman Sport1, persoalan tersebut bermula ketika petugas antidoping mendatangi rumah Ansah untuk melakukan tes di luar kompetisi pada bulan lalu. Saat itu, Ansah sedang bersiap melakukan perjalanan ke Monaco.
Ansah dilaporkan mengatakan dirinya tidak dapat langsung memberikan sampel urine dan tidak memahami konsekuensi dari situasi tersebut.
Kegagalan memberikan sampel atau penolakan terhadap tes doping dapat berujung pada hukuman berat. Atlet dari berbagai cabang olahraga sebelumnya pernah menerima larangan bertanding selama beberapa tahun berdasarkan aturan tersebut.
Pada Juni lalu, mantan juara Wimbledon Marketa Vondrousova juga dijatuhi hukuman maksimal empat tahun setelah dinyatakan menolak menjalani tes doping.
Untuk saat ini, Ansah masih dapat menikmati keberhasilannya di Birmingham.
Namun, keputusan terkait dugaan pelanggaran antidoping tersebut berpotensi menentukan apakah dua medali yang diraihnya di Kejuaraan Eropa akan menjadi awal kesuksesan lebih besar atau justru terganggu oleh persoalan di luar lintasan.