Nick Ball Bidik Kebangkitan saat Hadapi Anthony Cacace di Belfast
Nick Ball (kanan) dan Anthony Cacace. (Foto: Fight TV)
Petinju Inggris Nick Ball bertekad menebus kekalahan pertamanya dengan merebut gelar dunia kelas bulu super versi World Boxing Association (WBA) saat menghadapi Anthony Cacace di O2 Arena, Belfast, Irlandia Utara, pada 19 Desember.
Ball, yang memiliki rekor 23 kemenangan, satu kekalahan, dan satu hasil imbang dengan 13 kemenangan knockout (KO), belum banyak muncul di hadapan publik sejak dihentikan Brandon Figueroa pada ronde terakhir dalam pertahanan gelar kelas bulu WBA pada Februari lalu.
Keputusannya naik ke kelas 130 pon atau kelas bulu super sempat mengejutkan.
Namun, langkah Nick Ball untuk langsung menghadapi Cacace tanpa menjalani pertarungan pemanasan menjadi kejutan yang lebih besar.
Petinju asal Liverpool berusia 29 tahun itu memilih mengambil risiko demi kembali ke persaingan gelar dunia.
Cacace, petinju Irlandia Utara berusia 38 tahun, memiliki rekor 25 kemenangan dan satu kekalahan, termasuk sembilan kemenangan KO. Performanya yang sedang menanjak membuat duel ini menjadi ujian berat bagi Ball.
"Seperti yang Anda tahu, apa pun bisa terjadi dalam tinju. Semua orang bersemangat mendengar pertarungan ini. Mereka terkejut ketika mengetahui kami akan bertarung, tetapi sekarang semuanya tidak sabar menantikannya. Inilah pertarungan yang ingin Anda jalani," kata Ball kepada Queensberry.
Nick Ball dikenal sebagai petinju yang lebih suka membuktikan kemampuannya di atas ring daripada banyak berbicara.
Setelah kekalahan dari Figueroa, dia memilih menjauh dari sorotan publik dan mempersiapkan diri untuk kesempatan berikutnya, alih-alih mencari lawan yang lebih mudah.
"Pertarungan besar seperti inilah alasan saya berada di sini. Tidak cukup hanya mengatakan dalam wawancara apa yang akan Anda lakukan. Anda harus masuk ke ring dan membuktikannya. Itulah yang selalu saya lakukan. Saya lebih suka bertarung," ujarnya.
Dengan tinggi sekitar 160 sentimeter, Ball terbiasa menghadapi lawan yang lebih tinggi.
Pada Maret 2024, dia menekan Rey Vargas yang bertubuh lebih jangkung dalam perebutan gelar kelas bulu WBC. Ball menjatuhkan petinju Meksiko itu dua kali, tetapi pertarungan berakhir imbang secara kontroversial.
Tiga bulan kemudian, Ball mengalahkan Ray Ford untuk merebut gelar WBA kelas bulu. Namun, keunggulan tekanan dan agresivitasnya belum cukup untuk menghindarkannya dari kekalahan dramatis melawan Figueroa.
Kini, Ball harus menghadapi Cacace yang bertubuh tinggi, ramping, dan memiliki pukulan yang lebih keras daripada penampilannya.
Meski demikian, Ball yakin kekuatan, tekanan, dan kemampuan tinjunya kerap diremehkan lawan.
"Kita lihat saja apa yang terjadi pada malam pertarungan," kata Ball.
Artikel Tag: Nick Ball, Anthony Cacace, Brandon Figueroa