Francesco Bagnaia Cemburu Lihat Marquez Sering Rayakan Kemenangan di Ducati
Francesco Bagnaia
Berita MotoGP: Musim MotoGP 2025 menjadi titik balik besar dalam karier Francesco Bagnaia. Untuk pertama kalinya sejak menjadi andalan Ducati, ia harus menyaksikan rekan setimnya, Marc Marquez, tampil dominan dan kerap merayakan kemenangan di garasi merah Borgo Panigale.
Francesco Bagnaia datang ke MotoGP 2025 dengan status sebagai wajah utama Ducati. Dua gelar juara dunia pada 2022 dan 2023 membuatnya dipandang sebagai pebalap yang mengembalikan kejayaan pabrikan Italia tersebut, sesuatu yang terakhir kali dilakukan Casey Stoner pada 2007. Namun segalanya berubah drastis setelah Marc Marquez bergabung dengan tim pabrikan Ducati.
Marquez langsung mengambil alih peran sentral di dalam tim. Pebalap Spanyol itu tampil luar biasa dengan meraih 25 kemenangan sepanjang musim, termasuk balapan sprint, dan nyaris tak terbendung di atas Desmosedici GP25. Sementara itu Bagnaia justru kesulitan menemukan kembali kenyamanan yang sebelumnya ia miliki.
Meski GP25 tidak berbeda jauh dari motor GP24 yang membawanya meraih banyak kemenangan pada 2024, Bagnaia mengaku kehilangan rasa percaya diri, terutama saat pengereman. Hasilnya terlihat jelas di klasemen akhir. Ia hanya meraih dua kemenangan sepanjang musim dan gagal finis di enam dari tujuh balapan terakhir, sebelum menutup musim di posisi kelima, di belakang Marc Marquez, Alex Marquez, Marco Bezzecchi, dan Pedro Acosta.
Dalam dokumenter resmi MotoGP berjudul Marc Marquez: All on Red, Bagnaia secara terbuka membagikan pengalamannya melihat Marquez merayakan kemenangan demi kemenangan bersama Ducati. Ia menilai gaya perayaan Marquez sangat berbeda dibandingkan rekan setimnya terdahulu.
“Marc jelas berbeda, baik dibandingkan saya maupun pebalap yang sebelumnya pernah menjadi rekan setim saya,” ujar Bagnaia.
“Dia sangat energik, dan ketika merayakan kemenangan, dia benar-benar membuatnya seperti sebuah pertunjukan.”
Pernyataan tersebut menggambarkan kontras yang tajam di dalam garasi Ducati. Di satu sisi Marquez tampil penuh percaya diri dan karisma, sementara di sisi lain Bagnaia bergulat dengan rasa frustrasi akibat performa yang tidak kunjung stabil.
Manajemen Ducati mengakui bahwa mereka telah mencoba berbagai cara untuk membantu Bagnaia menemukan kembali feeling-nya. Davide Tardozzi bahkan mengungkapkan kebingungannya karena tim merasa sudah mengeksplorasi semua solusi teknis yang tersedia. Marquez sendiri menilai Bagnaia terlalu sensitif terhadap pergerakan motor, yang akhirnya memperparah hilangnya kepercayaan diri.
Kini harapan Francesco Bagnaia tertuju pada Ducati GP26. Musim 2026 bisa menjadi momen penentuan, bukan hanya untuk kebangkitannya di lintasan, tetapi juga untuk masa depannya bersama Ducati, mengingat kontraknya akan segera memasuki fase krusial.
Artikel Tag: Francesco Bagnaia, MotoGP 2026