Francesco Bagnaia Beberkan Suasana Ducati Usai Kedatangan Marc Marquez
Francesco Bagnaia dan Marc Marquez
Berita MotoGP: Kedatangan Marc Marquez ke Ducati sempat diprediksi memicu konflik internal. Namun Francesco Bagnaia justru membeberkan cerita berbeda soal suasana dan hubungan di garasi Ducati.
Ducati membentuk super team MotoGP saat merekrut Marc Marquez menjelang musim 2025. Banyak pihak memprediksi ketegangan akan muncul di internal tim, mengingat Francesco Bagnaia juga berstatus juara dunia ganda. Namun kenyataannya atmosfer di Borgo Panigale disebut jauh dari kata panas.
Musim 2025 justru menjadi tahun paling dominan bagi Ducati. Pabrikan asal Italia itu mencetak rekor poin tertinggi dalam satu musim konstruktor, didukung performa luar biasa Marc Marquez. Pebalap asal Spanyol tersebut memenangi 25 balapan dari total 36 race, termasuk sprint dan grand prix.
Sebaliknya Bagnaia mengalami musim yang sulit. Ia kesulitan beradaptasi dengan Ducati GP25 dan kerap tertinggal jauh dari rekan setimnya. Duel internal yang sempat dinanti publik pun tidak pernah benar-benar terwujud.
Dalam wawancara di podcast Supernova, Bagnaia akhirnya buka suara soal dinamika internal Ducati sejak Marquez bergabung. Ia menegaskan bahwa hubungan profesional tetap terjaga dengan baik.
“Kami tidak semuanya berteman dekat. Wajar jika kita lebih cocok dengan beberapa pebalap dibanding yang lain,” ujar Bagnaia.
“Tapi secara umum, saya selalu punya hubungan yang baik dengan semua orang dan tidak pernah punya masalah besar.”
Bagnaia mengakui kehadiran Marquez membawa potensi konflik tersendiri. Namun ia justru menilai sang juara dunia delapan kali datang dengan pendekatan yang tenang.
“Ketika ada pebalap dengan karisma seperti Marc di satu garasi, ada dua kemungkinan. Entah langsung bentrok, atau bisa saling memahami. Untungnya, Marc datang dengan pendekatan yang sangat kalem dan memahami dinamika tim,” katanya.
Menurut Bagnaia prioritas utama Ducati adalah menjaga suasana kerja yang sehat. Ia pun menegaskan hubungan dengan Marquez berkembang sangat positif sepanjang musim.
“Tujuan kami adalah menjaga atmosfer yang nyaman di dalam pit, tanpa konflik. Sepanjang musim ini, kami saling mengenal lebih baik dan hubungan kami berjalan sangat baik,” lanjutnya.
Menariknya di tengah performa buruk Bagnaia, Marquez justru sempat menjadi sosok yang memberi dukungan. Di Misano, Marquez menyarankan Bagnaia untuk melakukan reset mental usai hasil sprint yang mengecewakan.
Meski Bagnaia sempat terjatuh di balapan utama, saran tersebut berbuah manis pada seri berikutnya di Motegi. Ia tampil sempurna dengan merebut pole position, kemenangan sprint, dan juara grand prix.
Sayangnya kebangkitan itu tidak bertahan lama. Francesco Bagnaia kembali terpuruk dan menutup musim dengan lima balapan beruntun tanpa finis. Meski begitu, pengakuannya soal atmosfer Ducati menunjukkan bahwa masalahnya lebih bersifat teknis dan performa, bukan konflik internal.
Artikel Tag: Francesco Bagnaia, Marc Marquez, Ducati