Alasan Ducati Lepas Francesco Bagnaia, Langkah Terbaik Bagi Kedua Pihak
Francesco Bagnaia dan Davide Tardozzi
Berita MotoGP - Ducati akhirnya mengungkap alasan di balik keputusan berpisah dengan Francesco Bagnaia pada akhir MotoGP 2026. Manajer tim Ducati, Davide Tardozzi menilai langkah tersebut justru jadi solusi terbaik bagi dua belah pihak.
Keputusan Ducati mengakhiri kerja sama dengan Francesco Bagnaia setelah MotoGP 2026 menjadi salah satu topik terbesar musim ini. Meski sempat mengejutkan banyak pihak, manajer tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, menegaskan perpisahan tersebut merupakan keputusan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Bagnaia akan mengakhiri delapan tahun kebersamaannya dengan Ducati sebelum bergabung dengan Aprilia mulai musim 2027 lewat kontrak jangka panjang. Sementara itu, Ducati telah menyiapkan Pedro Acosta untuk menjadi tandem Marc Marquez di tim pabrikan.
Tardozzi mengakui keputusan melepas Bagnaia tidak mudah karena hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun bukan hanya sebatas profesional.
"Ini adalah keputusan yang sulit, terutama dari sisi hubungan pribadi. Selama bertahun-tahun kami membangun ikatan yang sangat kuat dan mengenalnya bukan hanya sebagai pembalap, tetapi juga sebagai pribadi," kata Tardozzi.
Meski demikian, ia menilai setiap kerja sama memiliki siklus yang pada akhirnya harus berakhir.
"Namun ada saat dalam sebuah karier ketika berpisah menjadi solusi terbaik bagi kedua belah pihak. Dari sisi olahraga, saya rasa ini adalah pilihan yang positif, baik untuk Ducati maupun Pecco," ujarnya.
Tardozzi optimistis Ducati tetap memiliki masa depan cerah. Kehadiran Marc Marquez yang tampil dominan pada musim ini akan dipadukan dengan Pedro Acosta, pembalap muda yang disebut sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di MotoGP.
"Tahun depan kami akan memiliki duet yang sangat kuat, Marc Marquez dan Pedro Acosta. Sementara Pecco bergabung dengan Aprilia yang juga sedang berkembang sangat baik. Jadi saya rasa kami mengakhiri hubungan ini dengan cara yang positif," ucapnya.
Meski jalan mereka akan berpisah, Tardozzi memastikan hubungan personal dengan Bagnaia tidak akan berubah.
"Rasa hormat dan persahabatan di antara kami akan selalu tetap ada."
Dalam kesempatan yang sama, Tardozzi juga mengenang momen terbaik dan tersulit selama menangani Ducati. Menurutnya, keberhasilan Bagnaia merebut gelar MotoGP 2022 menjadi pencapaian paling membanggakan karena mengakhiri penantian Ducati sejak Casey Stoner menjadi juara pada 2007.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan gelar pada musim 2024 menjadi pengalaman paling menyakitkan.
"Momen tersulit adalah kehilangan gelar dunia 2024 setelah kami memenangi lebih dari separuh balapan. Itu sangat sulit diterima," tutur Tardozzi.
Kini Ducati dan Bagnaia akan menempuh jalan berbeda. Ducati berharap duet Marquez dan Acosta mampu mempertahankan dominasi mereka, sedangkan Bagnaia berambisi menghidupkan kembali peluang meraih gelar bersama Aprilia yang terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Artikel Tag: Ducati, Francesco Bagnaia, MotoGP 2026