Kanal

Mestalla Mengecam Corberan, Valencia Kembali Terpuruk

Penulis: Zulaikha Megantara
10 Feb 2026, 16:24 WIB

Mestalla Mengecam Corberan, Valencia Kembali Terpuruk - sumber: (footballespana)

Berita Liga Spanyol kembali menghadirkan ketegangan ketika Valencia menjamu Real Madrid di Mestalla. Pertemuan kedua tim ini memang selalu diiringi oleh tekanan dan ekspektasi tinggi. Namun, meskipun sejarah mencatat banyak laga klasik antara Valencia dan Real Madrid, termasuk di ajang final Liga Champions, pertandingan kali ini tidak akan tercatat sebagai salah satu laga legendaris.

Suasana ramai di Mestalla menyambut kedua tim, di mana kedua pelatih berada dalam situasi yang serupa namun berbeda. Valencia dan Real Madrid sama-sama mengalami musim yang kurang memuaskan. Di bawah kepemilikan Peter Lim, kondisi ini sudah menjadi hal yang biasa bagi Valencia. Carlos Corberan berjuang untuk mempertahankan Valencia di papan atas, sementara Alvaro Arbeola berusaha meraih gelar juara. Namun, kegagalan Los Blancos di Copa Del Rey dan Liga Champions tidak muncul di hasil La Liga mereka, walaupun performa mereka di Mestalla tidak memberikan banyak harapan.

Valencia memasuki pertandingan ini setelah tersingkir dari Copa Del Rey dengan cara yang menyakitkan. Meskipun demikian, semangat para suporter masih terlihat jelas saat menyambut kedatangan Real Madrid. Corberan sempat mendapatkan sorakan dari mayoritas stadion sebelum laga dimulai, tetapi pasukannya, yang kerap dianggap ‘mercenaries’ oleh pendukung sendiri, menunjukkan perlawanan di babak pertama.

Lucas Beltran menjadi pemain paling menonjol bagi Valencia, dengan kegigihan dan umpan-umpan cerdasnya yang berperan penting di lini tengah. Beberapa kali Valencia mendapatkan tendangan sudut, yang semakin menyemangati Curva Nord. Di sisi lain, Real Madrid tampil pasif di lini tengah dan kurang menggigit di depan, terutama dengan absennya Jude Bellingham dan Vinicius Junior.

Sayangnya, Valencia tidak mampu memanfaatkan kelemahan ini. Dalam sepekan terakhir, mereka kalah dari Real Betis yang lemah, Athletic Club yang dirotasi, dan kini gagal memberikan ancaman berarti kepada Real Madrid yang rentan. Alvaro Carreras menjadi pahlawan bagi Los Blancos, membuka keunggulan dengan sebuah aksi individual yang memukau, melewati beberapa bek Valencia sebelum membobol gawang.

Unai Nunez, pemain baru Valencia di bulan Januari, memberikan kestabilan di lini pertahanan selama sebagian besar laga, tetapi mereka hanya bisa menyaksikan Carreras menunjukkan kreativitas yang sudah lama hilang dari tim mereka. Alih-alih merespons dengan intensitas lebih tinggi, Valencia malah bermain lebih defensif. Beltran menjadi satu-satunya pemain yang berusaha mendorong Los Che ke depan, dengan peluang terbaik datang dari tendangan pertamanya yang hanya mengenai tiang gawang.

Corberan kerap dituding terlambat melakukan pergantian pemain, dan memasukkan Umar Sadiq di menit ke-82 seharusnya bisa membangkitkan semangat suporter. Namun, keputusan ini justru menjadi awal dari akhir bagi Corberan. Ketika papan pergantian menunjukkan nomor Beltran, kemarahan suporter pun meledak. Teriakan "Corberan, mundur" bergema dari sebagian besar dari 47.000 penonton, yang menyertai pemandangan saputangan putih sebagai bentuk protes.

Kekecewaan terhadap Corberan sudah terpendam selama beberapa bulan, tetapi keputusan ini seolah menjadi titik balik yang tak terelakkan. Pihak manajemen dan Lim juga menjadi sasaran kritik, seperti biasanya, namun kemarahan Mestalla terhadap pelatih mereka menggarisbawahi betapa kacaunya situasi yang mereka hadapi.

Kylian Mbappe kemudian memastikan kemenangan Real Madrid, dengan pertahanan Valencia yang lalai memberinya ruang di kotak penalti. Meskipun jauh dari performa terbaik, meraih tiga poin di stadion yang kerap menjadi tempat sulit bagi Real Madrid di masa lalu, dengan beberapa pemain absen, merupakan langkah positif bagi Arbeola dan pasukannya.

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru