Mengungkap 15 Manajer Muda Terbaik yang Menggebrak Dunia Sepak Bola
Mengungkap 15 Manajer Muda Terbaik yang Menggebrak Dunia Sepak Bola - sumber: (givemesport)
Berita Liga Inggris – Dalam dunia sepak bola modern, munculnya manajer muda berbakat semakin mencuri perhatian, bersaing dengan para pelatih berpengalaman. Beberapa dari mereka berhasil menapaki karier dari liga yang lebih rendah sebelum mendapatkan kesempatan memimpin tim besar di liga terkemuka dunia. Nama-nama seperti Mikel Arteta di Arsenal dan Vincent Kompany di Bayern Munich, yang telah meraih dua gelar Bundesliga, menjadi contoh nyata dari pelatih muda yang sukses meski baru memulai karier mereka.
Artikel ini akan membahas 15 manajer muda terbaik di dunia saat ini, beberapa di antaranya telah memberikan dampak besar di kancah sepak bola Eropa.
Faktor Peringkat
- Trofi besar yang telah dimenangkan
- Dampak terhadap tim
- Kompetisi di liga tempat mereka melatih
- Potensi perkembangan sebagai manajer
- Harus berusia di bawah 45 tahun
15. Thiago Motta
Thiago Motta dikenal sebagai pelatih inovatif dengan taktik yang kreatif, membuat banyak pihak terkesan saat menangani Bologna. Berkat talenta seperti Riccardo Calafiori dan Joshua Zirkzee, yang kemudian pindah ke Arsenal dan Manchester United, Bologna berhasil lolos ke kompetisi Eropa di musim 2023/2024. Namun, setelah bergabung dengan Juventus, karier Motta terhenti akibat hasil yang mengecewakan.
14. Will Still
Will Still, yang lahir di Belgia dari orang tua Inggris, menjadi sorotan saat ditunjuk sebagai manajer Reims pada Oktober 2022, meski baru berusia 30 tahun. Klub ini dikenakan denda akibat Still belum memiliki lisensi UEFA Pro. Di bawah kepemimpinannya, Reims mencetak rekor tak terkalahkan dalam 17 pertandingan Ligue 1. Setelah meninggalkan Reims pada Mei 2024, Still sempat menangani Lens dan Southampton sebelum kembali ke Prancis bersama Auxerre.
13. Kieran McKenna
Kieran McKenna mencuri perhatian saat membawa Ipswich Town dari liga ketiga ke Liga Premier Inggris dalam dua musim beruntun. Setelah gagal mempertahankan posisi di Liga Premier, Ipswich kembali ke Championship, namun langsung promosi kembali. McKenna kemudian memutuskan untuk berhenti dari dunia manajerial pada 2026.
12. Domenico Tedesco
Domenico Tedesco dikenal setelah membawa Schalke ke posisi kedua Bundesliga pada 2017. Setelah masa jabatan singkat di Spartak Moscow dan RB Leipzig, Tedesco beralih ke karier internasional sebagai pelatih timnas Belgia. Namun, setelah pengalaman yang kurang sukses, ia kembali ke klub dengan menangani Fenerbahce dan Bologna.
11. Edin Terzic
Edin Terzic memulai karier kepelatihan di Borussia Dortmund, kemudian menjadi pelatih sementara pada 2020, membawa tim ke posisi ketiga Bundesliga. Setelah dua kali finis di posisi kedua, Terzic meninggalkan Dortmund dan kembali melatih pada 2026 dengan Athletic Bilbao.
10. Julian Nagelsmann
Nagelsmann memulai kariernya di TSG Hoffenheim sebelum bergabung dengan RB Leipzig, yang berhasil dibawanya ke semifinal Liga Champions. Kemudian, dia melatih Bayern Munich, memenangkan liga dan Piala Super Jerman, sebelum akhirnya dipecat. Pada 2023, dia menjadi pelatih timnas Jerman, namun gagal di Euro 2024 dan Piala Dunia 2026.
9. Ruben Amorim
Ruben Amorim memulai karier manajerial di Braga sebelum pindah ke Sporting Lisbon, di mana dia memenangkan beberapa trofi. Setelah masa yang kurang sukses di Manchester United, Amorim bergabung dengan AC Milan pada musim 2026/27.
8. Sebastian Hoeness
Sebastian Hoeness sukses membawa VfB Stuttgart ke posisi kedua Bundesliga pada 2023/24, prestasi terbaik klub sejak 2007. Meski belum bisa mengulang prestasi tersebut, Hoeness berhasil memenangkan DFB Pokal di 2025.
7. Matthias Jaissle
Matthias Jaissle memulai karier di RB Salzburg sebelum pindah ke Al-Ahli di Liga Pro Saudi, memimpin tim ke posisi ketiga dan memenangkan Liga Champions Asia. Dia kemudian diangkat sebagai pelatih Newcastle United menjelang musim 2026/27.
6. Fabian Hurzeler
Fabian Hurzeler, pelatih termuda di Liga Premier, mengawali kariernya di Brighton dengan hasil positif, meskipun mengalami pasang surut. Setelah finis di posisi kedelapan pada musim pertamanya, Hurzeler memperkuat tim dengan akuisisi pintar dan hasil mengejutkan melawan tim besar seperti Manchester City.