Kini Banyak Orang Tahu Siapa Jeffrey Webb Setelah Kasus Suap FIFA
Kini Banyak Orang Tahu Siapa Jeffrey Webb Setelah Kasus Suap FIFA
Zurich - Tak banyak yang tahu sebelumnya bahwa Jeffrey Webb pernah menjadi presiden FA di negerinya, Kepulauan Cayman 24 tahun lalu sebelum menjadi wakil ketua komite audit internal FIFA pada tahun 2002.
Webb meraih perolehan suara bulat untuk memimpin CONCACAF pada tahun 2012, yang membuatnya menjadi pemimpin Asosiasi Regional FIFA termuda di usia 47 tahun.
Sebagai presiden CONCACAF, ia secara otomatis menjadi wakil presiden FIFA dengan latar belakang karirnya yang sukses sebagai bankir di Kepulauan Cayman.
Namun baru-baru ini Webb, 50, ditangkap oleh kepolisian Swiss di Zurich dengan tuduhan pemerasan, konspirasi dan juga menerima komisi sejumlah uang demi memberikan hak penyelenggaraan piala dunia.
Seperti yang dilansir oleh Dailymail, Wakil presiden FIFA itu telah menikmati peningkatan karir yang pesat ke eselon teratas di FIFA setelah berhenti dari jabatannya sebgai presiden Asosiasi Sepak Bola Kepulauan Cayman.
Webb juga pernah menjadi presiden klub lokal Strikers FC ketika ia mengambil jabatan tertinggi di CIFA.
Dalam jangka satu tahun sejak ia mengambil alih, Webb telah membantu organisasi tersebut menjadi anggota CONCACAF, badan yang mengatur sepak bola di Amerika Utara, Amerika Tengah, Karibia dan juga dunia, FIFA.
Pada tahun 1994 ia terpilih sebagai anggota komite eksekutif Persatuan Sepak Bola Karibia dan kemudian meningkat ke jabatan di komite protokol FIFA.
Pada tahun 2002Webb sempat menjadi wakil ketua komite audit internal FIFA dan akhirnya mengambil alih posisi Chairman divisi keuangan FIFA itu sembilan tahun kemudian.
Pada bulan Maret 2013, Presiden FIFA Sepp Blatter, juga pernah melantiknya sebagai ketua Satuan anti-diskriminasi FIFA, yang mengawasi hal-hal yang berhubungan dengan diskriminasi dalam sepakbola.
Webb adalah salah satu dari beberapa pejabat FIFA yang ditangkap karena dugaan korupsi yang berkaitan dengan hak penyelenggaraan Piala Dunia 2018 dan 2022, yang diberikan kepada Rusia dan Qatar dan kini sedang menjalani interogasi polisi untuk membuktikan keterlibatannya.
Foto: Dailymail