Justin Gaethje Rebut Gelar Ringan UFC Usai Tumbangkan Ilia Topuria
Kemenangan Justin Gaethje (kanan) atas Ilia Topuria menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah divisi kelas ringan UFC. (Foto: Fight TV)
Justin Gaethje akhirnya mewujudkan impian menjadi juara dunia kelas ringan UFC setelah mengalahkan Ilia Topuria dalam pertarungan utama UFC Freedom 250 yang digelar di halaman selatan Gedung Putih, Minggu (15/6) malam waktu setempat.
Sudut Topuria memutuskan menghentikan pertandingan setelah ronde keempat akibat kondisi petarungnya yang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan laga.
Kemenangan Justin Gaethje menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah divisi kelas ringan UFC.
Bertarung di hadapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan lebih dari 4.000 penonton di arena, serta puluhan ribu penggemar yang memadati kawasan The Ellipse, petarung Amerika Serikat itu sukses merebut gelar juara dunia sejati sekaligus mengakhiri rekor tak terkalahkan Topuria.
"Saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya akan kalah dan dipermalukan agar bisa mengeluarkan kemampuan terbaik saya. Dia sempat membuat saya kesulitan, mengguncang saya, bahkan menghantam liver saya, tetapi saya tetap bertahan," kata Justin Gaethje usai laga.
Ajang UFC Freedom 250 sempat mengalami penundaan selama 45 menit akibat cuaca buruk.
Namun, seluruh pertandingan akhirnya dapat digelar, bahkan seluruh laga malam itu berakhir dengan kemenangan knockout atau penghentian wasit, sebuah catatan yang disebut menjadi pertama dalam sejarah UFC.
Topuria datang ke Washington dengan reputasi luar biasa.
Petarung berusia 29 tahun itu sebelumnya mencetak kemenangan knockout atas Alexander Volkanovski, Max Holloway, dan Charles Oliveira untuk merebut gelar juara di kelas bulu dan kelas ringan.
Ia juga berpeluang menjadi petarung pertama UFC yang berhasil mempertahankan gelar juara di dua kelas berbeda.
Namun, Gaethje tampil dengan pengalaman dan daya tahan yang menjadi ciri khasnya. Pada ronde kedua, ia berhasil melukai mata Topuria melalui kombinasi jab dan uppercut.
Meski Topuria sempat membalas dengan serangan ke arah tubuh yang nyaris mengakhiri perlawanan Gaethje, petarung berjuluk "The Highlight" itu mampu bertahan hingga ronde berakhir.
Memasuki ronde ketiga, Gaethje mulai mengambil alih jalannya pertarungan.
Rentetan uppercut dan pukulan kanan keras membuat wajah Topuria mengalami pembengkakan parah hingga nyaris tidak dapat dikenali.
Dokter sempat mempertimbangkan menghentikan laga karena Topuria mengaku kesulitan melihat, tetapi pertandingan tetap dilanjutkan.
Pada ronde keempat, kondisi Topuria semakin memburuk. Kedua matanya membengkak hebat, sementara darah terus mengalir dari wajahnya.
Setelah melihat kondisi tersebut, tim pelatih memutuskan menghentikan pertarungan demi keselamatan petarung asal Spanyol itu.
Saat laga dihentikan, ketiga juri memberikan keunggulan 39-37 untuk Gaethje.
Menariknya, kedua petarung sama-sama mencatatkan 91 pukulan signifikan, tetapi akumulasi kerusakan yang diterima Topuria menjadi faktor penentu hasil akhir.
Kemenangan ini juga membuat Justin Gaethje mencetak rekor sebagai petarung tertua yang berhasil merebut gelar UFC di kelas 70,3 kilogram atau lebih ringan pada usia 37 tahun 212 hari.
Meski sempat diisukan akan pensiun setelah pertarungan ini, Gaethje memilih belum mengambil keputusan.
"Saya berjanji kepada ibu saya tidak akan membuat keputusan apa pun malam ini," ujar Gaethje.
Artikel Tag: UFC, Justin Gaethje, Ilia Topuria