Jordan Stolz Gagal Mendominasi Nomor 1.500 Meter di Olimpiade Milan-Cortina
Meski gagal menambah emas ketiga di 1.500 meter, Jordan Stolz masih berpeluang mencetak sejarah di nomor mass start yang akan digelar Sabtu (21/2). (Foto: AP)
Andalan Amerika Serikat, Jordan Stolz, harus puas dengan medali perak nomor 1.500 meter pada Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 setelah dikalahkan oleh pebalap China, Ning Zhongyan, Kamis (19/2).
Stolz, yang sebelumnya menyapu emas nomor 500 meter dan 1.000 meter di Milano Speed Skating Stadium, datang sebagai favorit kuat untuk melengkapi hattrick emas.
Namun, kali ini ia gagal mempertahankan dominasinya dan finis dengan waktu 1 menit 42,75 detik, terpaut 0,77 detik dari Ning yang mencatatkan rekor Olimpiade 1:41,98.
“Saya tidak punya performa terbaik hari ini. Saya juga tidak tahu kenapa,” ujar Stolz, 21 tahun, yang mengaku merasa kurang bertenaga sejak awal lomba.
Pada checkpoint pertama, Stolz sudah tertinggal dari catatan waktu Ning. Ia bahkan terpaut 1,35 detik dengan satu putaran tersisa.
Meski mencoba mengerahkan kecepatan khasnya di fase akhir, upaya tersebut tidak cukup untuk merebut emas.
Pelatihnya, Bob Corby, juga mengaku terkejut dengan hasil tersebut. Ia menilai faktor mental bukan penyebab penurunan performa. “Dia tidak tampil dengan balapan terbaiknya, dan Ning tampil luar biasa,” ujarnya.
Jordan Stolz sendiri mengakui keunggulan lawannya.
“Itu mungkin balapan terbaik dalam hidupnya. Saya tidak berada di level terbaik saya, jadi sulit menandingi waktunya. Dia memang lebih baik hari ini,” katanya.
Kekalahan ini menghentikan rangkaian emas Stolz di Milan.
Sebelumnya, ia mencatat waktu rekor Olimpiade saat menjuarai 500 meter dan 1.000 meter, menjadikannya hanya atlet kedua yang mampu merajai dua nomor tersebut dalam satu edisi Olimpiade sejak Eric Heiden melakukannya di Olimpiade Musim Dingin Lake Placid 1980.
Meski gagal menambah emas ketiga di 1.500 meter, Jordan Stolz masih berpeluang mencetak sejarah di nomor mass start yang akan digelar Sabtu (21/2).
Jika mampu merebut emas, ia berpeluang menjadi pebalap putra pertama sejak Johann Olav Koss pada Olimpiade Musim Dingin Lillehammer 1994 yang memenangi tiga emas dalam satu edisi.
Di sisi lain, Ning merayakan keberhasilan bersejarah bagi China. Ia mengakui sempat merasa puas dengan perak sebelum Stolz menyelesaikan lomba, namun hasil akhir justru memberinya emas pertama China di nomor ini.
Stolz terlihat tertunduk seusai melihat waktunya di papan skor, sementara Ning melompat kegirangan dan berkeliling arena dengan bendera China di bahunya.
Bagi Jordan Stolz, kegagalan ini menjadi pengingat bahwa persaingan di level Olimpiade sangat ketat.
“Mendapat satu emas saja sudah sangat sulit,” katanya. Kini, fokusnya beralih ke nomor terakhir dengan harapan menutup Milan dengan tambahan prestasi.
Artikel Tag: Olimpiade Musim Dingin