Jaalen Best Dalami Kehidupan Muhammad Ali untuk Serial “The Greatest”
Jaalen Best (kiri) dan Muhammad Ali. (Foto: Fight TV)
Jaalen Best menjalani persiapan panjang untuk memerankan legenda tinju Muhammad Ali dalam serial “The Greatest”.
Aktor berusia 28 tahun itu tidak hanya mempelajari penampilan fisik dan gaya bertinju Ali, tetapi juga mendalami kepribadian, kehidupan keluarga, serta perjalanan sang petinju di luar ring.
Serial delapan episode yang tayang perdana di Prime Video pada Rabu (4/11) tersebut menjadi peran utama besar pertama Jaalen Best.
Diproduksi oleh Ben Watkins bersama Michael B. Jordan dan janda Muhammad Ali, Lonnie Ali, sebagai produser eksekutif, The Greatest merupakan serial drama pertama yang mendapat izin resmi untuk mengangkat kehidupan Ali.
Cerita dalam serial ini tidak hanya berfokus pada karier tinju sang legenda, tetapi juga menggambarkan hubungannya dengan keluarga dan kehidupan pribadinya.
Proses Jaalen Best menjadi Ali dimulai sejak audisi. Watkins mengerucutkan pilihan kepada empat aktor.
Untuk menentukan pemeran utama, keempat kandidat tersebut mengikuti latihan tinju. Seorang anggota kru bahkan menyamar sebagai petugas resepsionis untuk mengamati mereka tanpa diketahui.
Pada malam harinya, para kandidat diminta mempelajari dan menghafalkan ronde ketiga pertandingan Ali ketika meraih medali emas Olimpiade Roma 1960.
Kemiripan postur tubuh Best dengan Ali menjadi salah satu keunggulannya.
Namun, Best menyadari bahwa memerankan Ali membutuhkan lebih dari sekadar kemiripan fisik.
Dia berlatih bersama pelatih tinju Rob Sally selama tiga jam sehari, enam hari dalam sepekan. Dia juga mendapat tugas mempelajari rekaman pertandingan, latihan bayangan, dan sesi latihan Ali.
"Saya memperhatikan apakah bahunya sangat rileks, apakah jab-nya begitu mudah dan mengalir, atau bagaimana bahunya bergerak ketika melancarkan uppercut. Saya memperlambat rekaman saat dia bergerak dan melompat untuk mempelajari ritme kakinya," kata Best kepada ESPN.
Pengalaman sebagai mantan pemain basket East Carolina juga membantunya menjalani latihan fisik. Meski demikian, dia harus terus memperbaiki kecepatan dan ketepatan gerakannya.
Musik turut menjadi bagian dari proses persiapan. Best mendengarkan lagu-lagu James Brown dan Sam Cooke, serta karya musisi modern Leon Bridges untuk memahami irama gerakan Ali.
Dia menggambarkan gaya bertinju sang legenda seperti puisi, blues, dan jazz yang mengalir secara alami.
Sementara itu, Omari Hardwick, yang memerankan ayah Ali, Cassius Clay Sr., memiliki hubungan personal dengan kisah tersebut.
Dia pernah bertemu Muhammad Ali setelah berkenalan dengan putrinya, Maryum, dalam ajang NAACP Image Awards 2015.
Hardwick bahkan mengaku merasa pertemuan itu menjadi semacam persiapan untuk perannya.
Serial ini menggambarkan hubungan kompleks antara Clay Sr. dan putranya, termasuk kebanggaan sang ayah, kecemburuan, serta kekerasan dalam rumah tangga terhadap ibu Ali, Odessa Grady Clay.
Cerita tersebut juga menyoroti kehidupan keluarga mereka di tengah diskriminasi rasial era Jim Crow.
Hardwick dan Best kemudian membangun kedekatan seperti ayah dan anak selama menjalani produksi di Toronto. Hardwick bahkan memperkenalkan Best kepada kedua anaknya.
Berbeda dengan Hardwick, Michael Ealy yang memerankan Malcolm X justru meminta Watkins agar dirinya tidak bertemu Best sebelum pengambilan gambar adegan pertama mereka.
Dia ingin pertemuan Malcolm X dan Cassius Clay muda terasa alami, sebagaimana pertemuan keduanya dalam kehidupan nyata.
Ealy juga berbicara dengan putri Malcolm X, Attallah Shabazz, sedangkan Best dan Hardwick meminta masukan Lonnie Ali untuk memahami kehidupan Muhammad Ali di luar ring.
Bagi Jaalen Best, memahami Ali berarti menghayati ambisi di balik pernyataan terkenalnya, "Saya yang terhebat."
Menurutnya, Ali ingin membuktikan bahwa dirinya dapat memberikan arti lebih besar kepada dunia, melampaui pencapaiannya dalam olahraga.
Artikel Tag: Muhammad Ali