Kanal

Analisis F1 ‘Driving Performance’: Membongkar Budaya Tim

Penulis: Juli Tampubolon
17 Mei 2026, 21:24 WIB

Analisis F1 ‘Driving Performance’: Membongkar Budaya Tim - sumber: (racingnews365)

Berita F1 sering kali berfokus pada ratusan juta yang dihabiskan tim untuk meningkatkan performa mobil mereka. Namun, yang sering terlewatkan adalah bagaimana kondisi mental pengemudi yang mengendalikan kendaraan dengan kecepatan 180 mph tersebut. Kesadaran akan kesehatan mental pembalap kini semakin meningkat, terutama setelah juara dunia 2025, Lando Norris, mengangkat isu ini. Namun, jarang dibahas adalah bagaimana kondisi mental para pekerja di pabrik.

Sering kali, ini dirangkum dalam istilah besar – ‘budaya tim.’ Tapi apa sebenarnya ‘budaya tim’ itu dan bagaimana cara membangunnya untuk meraih kesuksesan di Grand Prix dan akhirnya kejayaan kejuaraan dunia?

Topik ini menjadi fokus dalam buku baru yang menarik karya ahli saraf terkemuka dan pendiri ‘Brain Matters’, Dr Marcia Goddard, berjudul Driving Performance. Buku ini diluncurkan secara resmi di pabrik Red Bull di Milton Keynes, di mana RacingNews365 diundang untuk menghadiri diskusi panel yang menampilkan Goddard, legenda desain F1 dan penasihat teknik eksekutif Cadillac, Pat Symonds, mantan insinyur Ferrari, Williams, dan F1 Rob Smedley, serta mantan mekanik Red Bull Calum Nicholas.

Inti dari buku Goddard adalah penguraian 10 area kunci untuk membangun budaya sukses, dikaitkan dengan pemahaman neurologis yang mudah dipahami tentang apa yang dipikirkan atau ditakuti manusia pada saat tertentu dalam siklus musim F1. Sepuluh area tersebut meliputi ‘Komunikasi yang Jelas’, ‘Filosofi Tanpa Menyalahkan’, hingga ‘Otonomi di Atas Hirarki.’

Dalam buku ini, Goddard menggunakan studi kasus dari episode F1 baru-baru ini untuk menyampaikan pesan yang bisa jadi sangat teknis, seperti dalam ‘Filosofi Tanpa Menyalahkan’. Ia menjelaskan pentingnya budaya ini melalui insiden Mercedes di Grand Prix Jerman 2019 dan reaksi Andrew Shovlin terhadap kesalahan pemilihan ban Lewis Hamilton di lintasan basah.

Contoh lainnya adalah kisah dari Symonds yang sering membagikan anekdot F1 untuk mendukung analisis Goddard, seperti saat ia merekomendasikan perubahan desain untuk gearbox dan reaksi pertama seorang insinyur, serta kolaborasi ekosistem F1 dalam memproduksi ventilator COVID-19 di awal pandemi.

Goddard juga merujuk pada musim F1 2021 sebagai titik acuan pemikirannya, termasuk analisis reaksi insting manusiawi Lewis Hamilton di lap terakhir GP Abu Dhabi. Selain itu, ada pembahasan mengenai bentrokan antara Hamilton dan Max Verstappen di Silverstone, serta perseteruan antara Mercedes dan Red Bull – baca Toto Wolff dan Christian Horner.

Buku ini juga menyoroti masa depan tempat kerja dengan bab yang didedikasikan untuk tren AI yang kian berkembang dan dampaknya terhadap F1. Meski ada beberapa masalah kecil seperti penggunaan ‘Americanisms’ seperti ‘tyre’ yang ditulis ‘tire’ atau inkonsistensi dalam penulisan nama Charles Leclerc, kekuatan buku ini terletak pada penelitian dan analisis Goddard.

Secara keseluruhan, Driving Performance karya Dr Marcia Goddard adalah bacaan yang menarik, tidak hanya bagi pengikut F1, tetapi juga untuk lingkungan kerja lainnya. Fakta bahwa Goddard menggunakan kecintaannya pada F1 untuk menguatkan analisisnya membuat pengalaman membaca ini sangat membuka mata dan dapat diterapkan dengan mudah di lingkungan kerja mana pun.

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru