Duel Ronda Rousey vs Gina Carano Pecahkan Rekor Penonton MMA di AS
Dalam duel yang dimenangkan Ronda Rousey (kanan), rata-rata 12,4 juta penonton global menyaksikan dan mencapai puncak 17 juta penonton di seluruh dunia. (Foto: Fight TV)
Pertarungan comeback antara Ronda Rousey dan Gina Carano mencetak sejarah sebagai ajang MMA paling banyak ditonton di Amerika Serikat.
Promotor Most Valuable Promotions (MVP) milik Jake Paul bersama Netflix mengumumkan bahwa event yang digelar di Intuit Dome, Los Angeles, Sabtu lalu, rata-rata disaksikan 12,4 juta penonton global dan mencapai puncak 17 juta penonton di seluruh dunia.
Khusus di Amerika Serikat, acara tersebut mencatat rata-rata 9,3 juta penonton dengan puncak mencapai 11,6 juta penonton.
Angka itu memecahkan rekor sebelumnya untuk tayangan MMA di AS yang dipegang UFC on FOX 1 pada 2011 dengan puncak 8,8 juta penonton.
Dalam pernyataan resminya, Jake Paul dan salah satu pendiri MVP, Nakisa Bidarian, menyebut kesuksesan acara tersebut juga terlihat dari tingginya interaksi media sosial serta distribusi tayangan komersial di berbagai bar, restoran, kasino, dan tempat hiburan di Amerika Serikat.
Event tersebut juga menghasilkan lebih dari 410 juta impresi di media sosial milik MVP dan mencatat pemasukan tiket langsung melebihi 2,2 juta dolar AS.
Paul dan Bidarian menegaskan mereka kini menerima banyak ketertarikan dari investor, mitra strategis, hingga petarung yang ingin terlibat dalam pengembangan MVP MMA bersama Netflix.
Pada laga utama, Ronda Rousey hanya membutuhkan 17 detik untuk mengalahkan Carano melalui submission armbar.
Kemenangan itu mengakhiri dua kekalahan beruntun Rousey sekaligus menjadi pertarungan pertamanya setelah sembilan tahun absen dari MMA.
Sementara bagi Carano, laga tersebut menjadi penampilan pertamanya di arena MMA dalam 17 tahun terakhir.
Meski kemenangan cepat Ronda Rousey memicu tudingan bahwa pertarungan tersebut sudah diatur, banyak pengamat MMA membantah anggapan tersebut.
Mereka menilai duel itu memang tidak seimbang sejak awal karena perbedaan kualitas dan pengalaman bertarung kedua atlet.
Ronda Rousey memang dikenal sebagai spesialis kemenangan cepat lewat armbar.
Bahkan dalam karier UFC-nya, ia pernah memenangkan perebutan gelar hanya dalam 14 detik pada 2015 dan 16 detik pada 2014.
Selain duel utama, event ini juga menampilkan sejumlah nama besar lain. Mike Perry mengalahkan Nate Diaz lewat doctor stoppage setelah ronde kedua dalam pertarungan penuh darah di kelas welter.
Sementara itu, mantan juara kelas berat UFC Francis Ngannou sukses kembali bertarung dengan kemenangan knockout brutal ronde pertama atas Philipe Lins.
Kesuksesan event debut MMA di Netflix ini juga memunculkan spekulasi mengenai masa depan MVP MMA sebagai pesaing potensial UFC.
Namun sejumlah pengamat menilai menjaga konsistensi acara sebesar itu tidak akan mudah karena keterbatasan petarung bebas kontrak di luar UFC.
Artikel Tag: ronda rousey, MMA